My Travel Stories

Lots of memories I can't keep, that's why I write.

Powered by Blogger.
  • Home
  • Indonesia
  • Asia
  • Australia
  • Eropa
  • Amerika
  • Travel Tips
  • Itinerary
  • Portfolio
Kata "jeruk" bila diartikan dalam bahasa Inggris adalah "orange". Itu yang saya ketahui selama ini. Tapi hal itu berubah ketika saya melakukan perjalanan ke Australia pada bulan Mei lalu.

Saya pencinta jeruk. Bukan dalam artian craving for it badly. Bukan seperti itu. Hanya saja saya berusaha mendisiplinkan diri saya untuk selalu makan buah setiap hari. Karena jeruk adalah buah yang gampang ditemui dan mudah untuk mengupasnya maka saya pun menjatuhkan pilihan untuk memakannya setidaknya satu setiap hari.

Kebiasaan ini berusaha saya terapkan juga saat traveling. Pernah teman seperjalanan saya ke Bali, Laura terheran-heran ketika saya membeli satu kg jeruk kintamani untuk persediaan sekitar satu minggu di Bali.

Nah, ketika di Australia pun begitu. Ketika melihat jeruk di Paddy's Markets, Sydney dengan harga murah, mata saya langsung berbinar. Tag harganya tertulis: Mandarin ~Aus~ 1.49 AUD/kg. Saya langsung berpikir, "oh ini jeruk jenis mandarin". Kalau di Indonesia kan ada jeruk medan, jeruk kintamani, jeruk pontianak, dll. Nah ini jeruk mandarin. Karena tidak lama di Sydney, saya hanya membeli tiga buah jeruk mandarin tersebut dengan harga 60 cent.


Jeruk Mandarin ini rasanya manis

Dari Sydney, saya terbang ke Melbourne. Di sini saya pun merasa butuh untuk makan jeruk. Jadi saat sedang di supermarket (saya lupa namanya) bersama Trav, saya langsung ke bagian buah. Saya bilang sama Trav bahwa saya ingin membeli jeruk. Setelah saya menemukan yang saya cari, terjadilah percakapan kurang lebih seperti ini:

Trav: Katanya mau orange. Ini bukan orange, ini mandarin.
Saya: Iya sama aja. Ini mandarin orange. Orange-orange juga (saya berpikir dia menyarankan saya jenis jeruk lain)
Trav: Nggak sama, itu mandarin.
Saya: Kok jadi rasis gitu, sih? Membeda-bedakan jenis orange?
Trav: Huh? Itu bukan orange, itu mandarin. (Trav antara bingung dan kesal. Wajahnya menunjukkan "kok nih, anak dikasih tahu ngeyel ya?")

Hari itu, saya tetap membeli jeruk yang dibilang sama Trav bukan jeruk melainkan mandarin. Sampai beberapa hari kemudian, saya dan Trav ke supermarket di daerah Geelong. Kali ini ada bapaknya Trav ikutan. Saat kami sedang melewati deretan jeruk mandarin, Trav berhenti di depan jeruk tersebut dan bertanya sama bapaknya.

Trav: Kamu menyebut ini apa?
Bapaknya Trav: Mandarin
Trav: Yani bilang ini orange. Dia nggak percaya kalau ini namanya mandarin
Bapaknya Trav: Ini bukan orange. Ini mandarin. Orange yang itu. (tunjuk bapaknya Trav ke rak buah jeruk jenis lain)
Trav: (wajahnya menunjukkan: "apa gue bilang")

Saya pun berjalan ke arah jeruk yang ditunjuk oleh bapaknya Trav. Di situ tertulis navel orange. Buah jeruk asli Australia. 

Setelah mengamati berbagai jeruk di Australia, akhirnya saya paham bahwa nama "orange" di Australia tidak bisa diartikan untuk semua jenis jeruk. Jadi nama "orange" ditujukan untuk jeruk-jeruk berkulit keras macam navel, sunkist dan teman-temannya. Jeruk-jeruk yang cara makannya akan lebih baik dipotong langsung oleh pisau tanpa mengupas kulitnya. Sedangkan nama "mandarin" digunakan untuk jeruk yang kulitnya gampang dikupas. Kalau di Indonesia adalah semacam jeruk honey ponkam. 

Tapi sih bagi saya, itu tetap jeruk-jeruk juga. Meskipun tidak bisa diartikan lagi sebagai sama-sama orange ;p

Find me at:
LINE: @psl7703h
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie


YouTube: yanilauwoie


Blog Sebelumnya:
  • Harga Makanan di Perth, Australia
  • People Do Stupid Things when Traveling
  • Belanja Barang-barang Branded Harga Murah di Australia
  • Masuk Sex Shop bikin Jantung Berdebar







Saya mengunjungi Perth, Australia pada Oktober 2015. Selama empat hari di sana, inilah makanan yang saya makan beserta harganya.


Pho with beef & noodle. Restoran yang menjual ini punya lisensi Halal

  • 6 wicked chicken + chips/kentang goreng (ukuran large) di KFC CBD = 8.95 AUD.
  • Cheese pizza (1 loyang isi 8 potong) di Domino Pizza Northbridge = 6.95 AUD.
  • Air ukuran 600 ml di Domino Pizza Northbridge = 2.95 AUD.
  • Beef pepper rice + cheese di Pepper Lunch CBD = 9.90 + 1 AUD.
  • Fries ukuran medium di McDonalds CBD = 2.80 AUD.
  • 3 pieces chicken nuggets di McDonalds CBD = 2.95 AUD.
  • Pho with beef & noodle (ukuran super besar) di The Satay Club (Malaysian & Singapore), James Street Northbridge = 13.00 AUD.
  • Roti kosong di Rottnest Bakery, Rottnest Island = 1 AUD.
  • Fries ukuran kecil di Rottnest Bakery, Rottnest Island = 5 AUD.
  • Mie instan (Mame) rasa tomyam + jeruk mandarin di supermarket samping Rottnest Bakery, Rottnest Island = 6.5 AUD.
  • Nasi goreng ayam di Restoran Thailand Island, Freemantle = 11 AUD
  • Beef kimchi fried rice di Cup Station, Murray Street = 5.8 AUD

Booking.com

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • People Do Stupid Things when Traveling
  • Belanja Barang-barang Branded Harga Murah di Australia
  • Masuk Sex Shop bikin Jantung Berdebar
  • 10 Alasan Melbourne Kota Nyaman untuk Traveler
Banyak hal bodoh yang terjadi pada saya saat traveling. Rata-rata sih, karena ketidaktahuan atau terburu waktu yang membuat saya melakukan hal-hal yang kalau diingat lagi setelahnya membuat saya berpikir, "kok bisa sih, gue melakukan hal itu?" Nah salah satu kebodohan yang belum lama ini saya lalukan adalah ketika saya dan teman saya, Asri berplesiran pada Oktober 2015 lalu.

Pagi itu, saya dan Asri menggeret-geret koper dari Tune Hotel KLIA 2 (tempat kami transit semalam), Kuala Lumpur, Malaysia menuju terminal keberangkatan. Tujuan kami adalah terbang dengan pesawat AirAsia menuju Perth, Australia. Sampai di pintu terminal keberangkatan kami melihat giant screen yang berisikan semua jadwal penerbangan. Mata kami pun menangkap: AirAsia - D7 232 - Perth - Q10. Tanpa membuang waktu, kami pun langsung berjalan menuju arah gate Q. Dalam benak kami di situ lah counter check in di mana kami harus menaruh koper kami.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, saya mulai merasa curiga bahwa Q10 yang dimaksud adalah gate untuk boarding, bukan untuk check in. "Nggak ah. Itu buktinya orang-orang juga masih pada bawa kopernya," ucap Asri saat saya mengungkapkan kekhawatiran saya. Namun saat kaki terus melangkah dan kami sampai pada koridor yang bertuliskan Q1 dan seterusnya, saat itu lah kami sadar bahwa kekhawatiran saya akan segera terbukti.

Pikiran saya pun langsung sibuk. Apa yang akan saya lakukan dengan koper 13 kg saya apabila mereka menolaknya. Solusi paling cepat yang terpikirkan oleh saya adalah membongkar koper dan membuang sebagian barang bawaan saya sehingga beratnya menjadi 7 kg, sesuai ketentuan yang diberlakukan maskapai AirAsia untuk koper yang boleh masuk kabin. Tapi PR selanjutnya adalah barang apa saja yang akan saya buang? Lalu apakah petugas tetap mengijinkan kami masuk dengan koper yang ukurannya melebihi ukuran koper kabin? Mendekati Q10, jantung saya pun berdegup kencang. Pasrah menunggu nasib apa yang akan dikenakan kepada koper saya oleh petugas. 


Counter check in AirAsia sebanyak ini tidak terlihat sebelumnya oleh saya dan Asri ;p

Setelah sekitar 30 menit berjalan, kami pun sampai di Q10. Petugas wanita sedang merobek potongan boarding pass para penumpang dan mempersilakan mereka masuk ke ruang tunggu. Untung kami sudah punya boarding pass (karena sudah web check in sejak di Jakarta). Lalu begitu tiba giliran kami, kurang lebih seperti ini percakapan kami dengan petugas wanita tersebut:
Asri: "Where we should put our bags?"
Petugas: "Up stair, level 3 at check in counter." (Mimik wajahnya priceless. Seolah-olah berkata, "Kok bisa pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya?")
Saya: "Do we have time to go back there?" (Logikanya dibutuhkan paling sedikit 1 jam untuk ke counter check in dan kembali ke gate)
Petugas: "No"
Saya: "So what should we do?"

Petugas tersebut kemudian bertanya kepada rekannya yang seorang pria sambil berkata dalam bahasa Melayu, "Mereke tak jumpe counter check in." Lalu keduanya meminta boarding pass kami. Dari situ diketahui bahwa kami memang punya jatah bagasi 20 kg. Akhirnya koper kami dipasangkan tag bagasi. Tag yang awalnya bertuliskan Busan diganti menjadi Perth oleh petugas wanita tersebut. Dia menggantinya dengan pulpen melalui tulisan tangannya. Lalu mereka bilang agar kami meninggalkan koper-koper kami ke petugas di depan pintu masuk pesawat.

Namun kenyataannya kami bisa membawa masuk koper-koper kami untuk diletakkan di kabin. Meskipun pramugari yang menyambut kami di pintu masuk pesawat sempat memberikan tatapan bingungnya setelah mendengar bahwa kami tidak menemukan counter check in. 

Pffffuuuih.. Saya dan Asri beruntung kami sudah web check in, beruntung juga bawa koper yang masih bisa masuk kabin dan lebih beruntung dipertemukan dengan petugas-petugas AirAsia yang berbaik hati memaklumi kebodohan kami :)


----------@yanilauwoie----------


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Belanja Barang-barang Branded Harga Murah di Australia
  • Masuk Sex Shop bikin Jantung Berdebar
  • 10 Alasan Melbourne Kota Nyaman untuk Traveler
  • 7 Tipe Orang Menyebalkan di Pesawat



Belanja di luar negeri, apalagi yang memiliki nilai mata uang di atas rupiah rasanya selalu sukses bikin saya menghitung perbandingan kurs dan ujung-ujungnya sebal karena harganya mahal. Jadi ketika Oktober 2015 lalu saya ke Australia dan bisa menemukan barang-barang dengan brand ternama namun harganya lebih murah dari di Indonesia, saya langsung menyesal kenapa tidak membawa koper lebih besar. Hahaha... Berikut tempat-tempat yang menjual barang-barang branded di Australia dengan harga murah. 

1.  Baines Beach Surf Factory Outlet
Factory outlet ini menjual barang-barang asli brand Rip Curl. Harganya jauh lebih murah karena barang-barang yang dijual adalah barang-barang penghabisan dari produksi sebelumnya. Jadi semua harganya miring. Tas-tasnya dijual dengan diskon 30%, kaos wanita dijual dengan harga 30 AUD untuk dua buah dan yang paling bikin saya melotot adalah bikini cuma dijual seharga 10 AUD saja (5 AUD untuk top dan 5 AUD untuk bottom). Ini bikini Rip Curl asli lho, dan harganya cuma 10 AUD saja! Gila! Toko ini beralamat di 16 Baines Cres, Torquay, Victoria, Australia. Sekitar satu jam perjalanan dari Melbourne. Letaknya berada di belakang Rip Curl Store yang beralamat di 101 Surf Coast Hwy, Torquay, Victoria, Australia. Sebagai info, di Torquay lah Rip Curl pertama kali didirikan sebelum brand ini mendunia.

2. Quiksilver and Roxy Factory Outlet
Factory outlet ini berada tepat di samping Baines Beach Surf Factory Outlet. Dari namanya sudah bisa diduga barang-barang dari brand apa yang dijual di toko ini. Di pintu masuk disebutkan bahwa factory outlet ini menjual barang-barang sample, line/barang-barang yang sudah tidak diproduksi lagi dan barang-barang second. Harga jaket atau jumper hoodie Roxy baru dijual dengan potongan harga 30%, top Roxy baru dengan potongan harga 70% dan bikini Roxy baru dengan potongan harga 70%.  

3. Cotton On Store
Toko Cotton On yang saya datangi adalah yang berada di Torquay juga. Alamatnya di T27 Torquay Central, 41 Bristol Road. Sebenarnya harga barang-barang yang ada di toko brand asal Australia ini nyaris sama dengan harga barang-barang Cotton On yang ada di Jakarta. Kalau pun ada perbedaan tipis, paling hanya karena kurs rupiah - AUD yang naik turun. Tapi saat saya belanja di Cotton On Torquay, saya menemukan barang-barang sale yang harganya fantastis. Misalnya ada dompet kecil seharga 2 AUD, Pashmina 3 AUD, T-Shirt yang awalnya seharga 19,90 AUD dijual dengan harga 5 - 10 AUD, jaket denim yang di Jakarta seharga nyaris 500 ribu, di sana seharga 25 AUD dan sepatu ankle boots seharga 20 AUD. Tapi karena ini barang-barang sale tentu ukurannya tidak semuanya ada.

4. Rubi Store

Saya mendatangi toko brand yang saudaraan dengan Cotton On ini di Bourke Street, Melbourne. Sama seperti Cotton On, harga sepatu Rubi yang murah adalah yang tentunya sedang sale. Karena saat saya berkunjung ke Australia sedang musim spring menuju summer, jadi ada sepatu-sepatu untuk winter seperti booth dijual dengan harga sangat miring. Saya sempat membeli sepasang sepatu ankle boots yang tadinya dijual dengan harga 59,90 AUD dengan hanya 15 AUD saja.

Kuncinya untuk belanja barang-barang branded murah di Australia adalah melihat apakah label tersebut punya factory outlet atau sedang sale. Happy shopping! 


Booking.com
----------@yanilauwoie----------


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Masuk Sex Shop bikin Jantung Berdebar
  • 10 Alasan Melbourne Kota Nyaman untuk Traveler
  • 7 Tipe Orang Menyebalkan di Pesawat
  • Traveling is Easier when You're Beautiful
Selama jalan-jalan saya pernah melihat toko-toko yang menjual berbagai benda yang berkaitan dengan seks. Tapi untuk masuk ke dalamnya, baru kali ini saya lakukan. Pengalaman dua hari lalu tersebut lumayan bikin jantung berdebar-debar. Hahaha...

Begitu mobil yang saya tumpangi parkir di alamat 411-413 Old Geelong Rd, Hoppers Crossing, Geelong, Victoria, Australia saya sudah mulai deg-degan. Bukan kenapa-kenapa, sih. Saya cuma tidak tahu apa yang akan saya temui di dalam. Lalu harus bereaksi bagaimana bila melihat hal-hal yang membuat saya tercengang. Lalu haruskah saya membeli sesuatu? Padahal niat saya hanya penasaran semata.

Saya kemudian memasuki toko yang bernama Sexyland tersebut. Berjalan mengarah ke sebelah kanan. Di situ berjajar lingerie seksi. "Well, ini tidak terlalu gimana. Lingerie juga banyak dijual di toko pakaian dalam di mal-mal," begitu pikir saya. Saya pun sedikit tenang. Jadi ketika salah satu pegawai toko menyapa saya, saya biasa saja menghadapinya.

Lepas dari bagian lingerie, saya menjelajah area lainnya. Bertemulah saya dengan benda-benda yang saya lihat ada di film Fifty Shades of Gray. Sebut aja borgol, tali untuk mengikat tangan, cambukan dan sejenisnya. Berjalan lebih ke dalam, saya melihat mastubator, vibrator dan lain-lain. Lalu ada juga koleksi DVD film-film porno. 

Kemudian saya juga melihat aneka mainan dengan bentuk alat-alat kelamin, baik pria maupun wanita. Well, sebenrnya saya tidak yakin sih, itu mainan atau apa. Karena kaki saya bahkan tidak mau melangkah lebih dekat. Melihat alat kelamin pria yang dari jauh saja terlihat besar - walaupun itu bukan asli - rasanya kok, gimana ya? Bikin deg-degan dan malu sendiri. Hahahaha...

Selain itu, toko ini menyediakan lolipop dengan bentuk alat kelamin pria, permen dengan bentuk dada wanita dan permen kenyal (gummy) dengan bentuk pakaian dalam (panties). Namun gongnya adalah ketika saya melihat pasta mentah dengan bentuk alat kelamin pria. Iya, pasta! Nggak kebayang gimana perasaan saya kalau harus makan pasta tersebut. Hahaha...



----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • 10 Alasan Melbourne Kota Nyaman untuk Traveler
  • 7 Tipe Orang Menyebalkan di Pesawat
  • Traveling is Easier when You're Beautiful
  • Tip Hemat Jalan-jalan di Melbourne, Australia


   
Saya sudah tiga kali mengunjungi Melbourne, Australia. November 2014, Mei 2015 dan bulan Oktober ini. Selama tiga kali menginjakkan kaki di kota yang mendapat predikat The World's Most Liveable City dari The Economist (surat kabar Inggris) selama lima tahun berturut-turut ini, saya merasa nyaman jalan-jalan di sini. Berikut 10 alasan yang menjadi penyebabnya.

1. Banyak tempat wisata gratis. Melbourne punya beberapa bangunan kuno bersejarah yang bentuknya mengingatkan kita akan bangunan-bangunan vintage di Eropa. Sebut saja di antaranya Flinders Railway Station, Town Hall atau General Post Office yang sekarang menjadi H & M store. Ada juga National Gallery of Victoria, Parliament of Victoria dan State Library of Victoria yang cantik. Semuanya bisa dimasuki tanpa harus membayar. Selain itu, masih ada beberapa tempat wisata gratis lainnya yang bisa dilihat di sini.

2. Ada pilihan transportasi gratis. Jalan-jalan ke tempat wisata yang kebanyakan ada di pusat kota sangatlah murah karena ada City Circle Tram yang bisa ditumpangi secara gratis. Tram ini berhenti di tempat-tempat wisata atau lokasi yang tidak jauh dari tempat wisata. Selain City Circle Tram yang memang ditujukan untuk tujuan wisata, tram umum juga bisa dinaiki secara gratis selama kita naik dan turun di area free tram zone yang berada di sekitar city centre. Tiga kali ke Melbourne saya selalu menggunakan fasilitas transportasi gratis ini sehingga tidak perlu keluar uang lagi untuk transportasi.



3. Mudah memperhitungkan waktu. Transportasi yang mudah, cepat dan nyaris tanpa macet bukan hanya mudah membuat saya bepergian kemana-mana tapi juga memperhitungkan waktu. Sehingga dalam satu hari bisa mengunjungi banyak tempat.

4. Banyak jasa tur ke tempat-tempat wisata di luar kota. Mau mengunjungi Phillip Island, Great Ocean Road atau bahkan Tasmania yang agak jauh bisa banget. Kita hanya perlu memesan paket tur. Biasanya pemesanan bisa dilakukan di penginapan tempat kita menginap. Kalau seandainya penginapan tidak menyediakan jasa ini, Melbourne Visitor Center yang ada di Federation Square melayani pemesanan berbagai tur.

5. Serasa di negeri sendiri. Melbourne is a melting pot. Kayaknya orang-orang yang merupakan perwakilan dari seluruh benua di dunia ada di sini. Saya pernah bertemu dengan orang Eropa, Amerika, Afrika dan pastinya Asia. Orang Indonesia sendiri banyak di sini. Saya sering mendengar beberapa orang berbicara dengan bahasa Indonesia saat saya sedang berjalan-jalan di pusat kota. Saya juga sempat mengobrol dengan orang Indonesia yang bekerja sebagai penjual souvenir/merchandise khas Australia di Queen Victoria Market. Jadi berasa nggak jauh dari Indonesia ;p

6. Pilihan makanan beragam. Karena di sini banyak orang Asia, jadi gampang banget mencari makanan Asia yang lebih pas untuk lidah saya. Mau makanan Indonesia, Korea, Thailand atau Vietnam ada di sini. Menemukan nasi juga mudah. Rasanya juga sudah disesuaikan dengan lidah Asia yang kaya akan bumbu. Tapi bila ingin makanan khas western macam steak dan teman-temannya banyak juga ditemukan di sini.

7. Banyak pilihan penginapan. Mau menginap di hotel mewah, apartemen yang sifatnya lebih privat atau hostel dengan dorm yang bisa membuat kita kenal banyak orang bisa dilakukan di sini. Penginapannya pun tersebar di mana-mana, baik di pusat maupun pinggiran kota. Saya sendiri sempat menginap di penginapan yang seperti ini.

8. Free wi-fi di beberapa public space. Ada banyak public space di Melbourne yang menyediakan free wi-fi. Saya pernah mencoba koneksi internet yang cukup lancar di beberapa tempat, di antaranya di bandara Melbourne International Airport, State Library of Victoria, National Gallery of Victoria dan Melbourne Visitor Center. Selain itu, di beberapa restoran cepat saji juga menyediakan fasilitas free wi-fi.

9. Bahasa utama adalah bahasa Inggris. Karena bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa asing yang saya lumayan kuasai, jadi sungguhlah menyenangkan mengunjungi suatu negara yang semua penduduknya berbahasa Inggris. Ini amat mempermudah perjalanan saya di Melbourne.

10. Banyak pilihan wisata. Mau wisata alam seperti pantai kita tinggal mengunjungi St. Kilda Beach atau Great Ocean Road yang lebih jauh tapi pemandangan pantainya spektakuler. Mau wisata belanja bisa datang ke Bourke Street. Di sini berderet pusat perbelanjaan. Mau wisata sejarah, banyak bangunan-bangunan bersejarah yang tersebar di seluruh kota, termasuk Old Melbourne Gaol, museum yang dulunya dipakai sebagai penjara. Mau sekedar nongkrong di kafe-kafe lucu, pilihan kafe tersebar di mana-mana. Kalau yang suka tea time sambil ditemani cake-cake cantik bisa datang ke Hopetoun Tea Rooms yang ada di Royal Arcade, Collin Street.





----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • 7 Tipe Orang Menyebalkan di Pesawat
  • Traveling is Easier when You're Beautiful
  • Tip Hemat Jalan-jalan di Melbourne, Australia
  • Nonton di Bioskop dengan Layar Terbesar ke-3 di Dunia
Foto ilustrasi: Pixabay

Saya menulis blog ini karena terinspirasi dari kejadian di dalam pesawat AirAsia dengan rute Kuala Lumpur - Perth yang hari ini saya tumpangi. Kejadian yang sumpah bikin saya risih dan akhirnya saya nobatkan sebagai posisi nomor 1 dari daftar di bawah ini.

1. Tipe PDA
Tidak ada yang lebih membuat canggung dan risih daripada terjebak selama 5 jam di kursi pesawat dengan pasangan kekasih yang memiliki hasrat menggebu-gebu untuk bermesraan. Tutup mata pun, suara ciuman bertubi-tubi dari pasangan Prancis ini kedengeran di telinga saya. Bukan cuma sekali namun berkali-kali. Saya sampai berpikir kalau saja ini pesawat kosong, mungkin mereka tidak akan pikir panjang untuk bercinta.

2. Tipe Lutut Nempel di Kursi
Pernah nggak merasa duduk terganggu karena tiba-tiba ada lutut yang menyodok punggung? Nah saya pernah tuh! Akhirnya duduk jadi serba salah. Kalau sudah begitu, biasanya saya suka tarik punggung saya dari kursi untuk kemudian diletakkan lagi. Kadang cara ini berhasil, sih. Tapi kadang juga gagal -__-'

3. Tipe Sandaran Kursi Terlalu ke Belakang
Iya saya mengerti kalau semua penumpang berhak mengubah sandaran kursinya ke belakang untuk mendapatkan duduk yang lebih nyaman. Tapi kalau lagi naik budget airlines, sudahlah jarak antar kursi mepet, ditambah sandaran kursi yang kayaknya dekat banget ke muka, rasanya gimana gitu? ;p

4. Tipe Siku Melebihi Batas
Ini sama juga nih kalau kasusnya naik budget airlines. Suka bete kalau ada siku yang melebihi batas tangan kursi yang sudah ditentukan. Boro-boro mau ikut meletakkan lengan di tangan kursi. Nggak meletakkan lengan di situ aja, lengan saya kesikut. Meskipun bukan pertama kali mengalami ini namun yang terbaru adalah hari ini oleh si pria Prancis yang tidak bisa berhenti mencium pacarnya itu.

5. Tipe Kepala Jatuh
Ini sebenarnya bukan di pesawat aja sih. Di bus juga suka ada yang seperti ini. Ketiduran dan tahu-tahu kepalanya jatuh di pundak saya. Bete sih. Tapi biasanya saya nggak pernah protes karena saya pun pernah tidak sengaja ketiduran dan menjatuhkan kepala di pundak orang di sebelah saya ;p Paling kalau sudah terganggu banget, saya akan pura-pura bergerak membenahi posisi duduk. Biasanya ini mempan bikin yang tidur jadi bangun.

6. Tipe Mengobrol Keras-keras
Saya pernah tuh berada di pesawat dengan orang yang tidak berhenti mengobrol dari take off sampai landing. Saya sebenarnya tidak masalah dengan orang mengobrol tapi kalau mengobrolnya dengan suara keras sampai saya yang tidak ingin mendengar (karena ingin tidur) jadi terjaga dan tahu seluruh cerita mereka, ya jadi sebal juga mendengarnya.

7. Tipe Nggak Mau Matiin HP
Wah, saya suka gregetan sendiri kalau pesawat sudah jalan di landasan namun masih ada orang yang sibuk mainin handphone. Masih update status lah, balas pesan singkat lah, dll. Kadang kalau begitu, saya suka tegur orangnya atau minta pramugari/pramugara yang menegur mereka. 

Punya tipe orang menyebalkan yang berbeda? Share di kolom komentar, ya.

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Traveling is Easier when You're Beautiful
  • Tip Hemat Jalan-jalan di Melbourne, Australia
  • Nonton di Bioskop dengan Layar Terbesar ke-3 di Dunia
  • Backstreet Boys, Konser Luar Negeri Pertama
"Traveling lebih mudah karena kamu dan teman-temanmu perempuan-perempuan cantik," seseorang pernah melontarkan kalimat tersebut kepada saya. Benarkah demikian? 

Selama pengalaman traveling saya ke beberapa tempat di beberapa negara, saya merasa selalu mendapatkan kemudahan. Bukan berarti saya tidak pernah menemukan kesulitan. Tapi kesulitan itu selalu berakhir dengan bantuan orang-orang sekitar saya saat itu. Baik dari sesama traveler maupun dari penduduk lokal.

Contohnya aja, saya dan kedua teman perempuan saya pernah tersasar saat menjelajah Paris dan Barcelona. Tersasar tengah malam di tempat yang benar-benar asing benar-benar pengalaman yang cukup menakutkan. Untungnya kami diselamatkan oleh orang-orang lokal yang luar biasa baik.

Pernah juga saya dan keempat teman perempuan saya bingung arah mana yang harus diambil ketika kami berada di kota Ho Chi Minh, Vietnam. Waktu itu seorang bapak melihat kami kebingungan di tengah jalan, tidak tahu harus ke arah mana. Dia pun menghampiri kami dan dengan bahasa isyarat seolah menanyakan ke kami kemana tujuan kami. Dengan bahasa isyarat pula kami menunjukkan peta ke mana tujuan kami. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan kami tidak bisa bahasa Vietnam. 

Namun niat bapak itu untuk membantu kami, sungguh membuat saya merasa lucu dan terharu di saat yang bersamaan. Lucu karena kami berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Terharu karena kendala bahasa sama sekali tidak menghalangi niat baik dia kepada saya dan teman-teman saya. Berkat arahan isyaratnya, saya dan teman-teman sukses menemukan tempat bus yang kami cari.

Saya dan teman-teman saya sampai di VungTau, Vietnam setelah mendapat petunjuk arah dari bapak yang baik hati tersebut.

Ah, kalau ditulis satu per satu banyak sekali bantuan yang saya dapatkan ketika traveling. Bantuan dibawakan koper di berbagai kota di Eropa, dibantu berdiri ketika terpeleset di Korea Selatan atau sekedar dibantu untuk diambilkan foto. Rasanya tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menyukuri tiap perjalanan yang saya lakukan karena saya merasa selalu dipertemukan dengan orang-orang baik.

Namun orang terdekat saya bilang bahwa saya dan teman-teman saya mudah mendapatkan bantuan-bantuan tersebut karena kami perempuan. Apalagi menurutnya kami ini perempuan-perempuan cantik. "Siapapun mau membantu perempuan-perempuan cantik," tambahnya.

Sejujurnya saya tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap pernyataan tersebut. Senang karena dianggap cantik atau marah karena pernyataan tersebut sexist. Namun saya tahu pasti saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Karena berdasarkan pengalaman saya, orang-orang tersebut tulus saat memberikan bantuan. Tapi saya mulai meragukan pemikiran saya ketika saya melakukan perjalanan kedua saya ke Melbourne pada Mei 2015 lalu.

Saat itu saya sedang berada di area Flinders Street Station, tepatnya di Elizabeth Street. Tujuan saya adalah ingin ke Queen Victoria Market. Saya tahu saya harus naik tram untuk menuju ke tempat tersebut. Tapi untuk memastikan tram mana yang harus saya naiki, saya pun bertanya kepada seorang pria yang sedang merokok di halte tram. 

"Oh semua tram yang ada di sini akan melewati Queen Victoria Market, jadi kamu bisa naik yang mana pun," jelasnya.

Saya pun akhirnya naik tram yang ada di depan saya tersebut. Duduk di kursi paling depan. Dengan tujuan bisa bertanya kepada driver tram. Siapa sangka pria yang tadi saya tanya ternyata adalah driver tram tersebut. Saat naik ke kursi kemudi, dia melihat ke arah saya. Saya langsung bersyukur karena logikanya dia akan memberitahu saya halte di mana saya harus turun.

Dugaan saya benar, di tengah perjalanan, dia menengok ke arah saya dan berkata (tanpa pengeras suara), "Queen Victoria Market," sambil memberi tanda kepada saya untuk berdiri. Saya pun otomatis berdiri dan mendekat ke arah pintu yang juga dekat dengan tempat dia mengemudi. Lalu kurang lebih terjadilah percakapan seperti ini:

Driver tram: "Kamu berasal dari mana?"
Saya: "Indonesia"
Driver tram: "Sudah berapa hari di sini?"
Saya: "Beberapa hari"
Driver tram: "Wajahmu cantik"
Saya: (Kaget karena tidak menduga akan mendapat kalimat seperti itu, saya pun hanya tersenyum)
Driver tram: "Mau minum kopi nggak?"
Saya: "Nggak terima kasih" (Berusaha menyembunyikan wajah kaget saya)
Driver tram: "Kenapa nggak?"
Saya: "Saya nggak lama di sini. Sebentar lagi pulang"
Driver tram: "Makanya minum kopinya nanti sore."
Saya: "Nggak terima kasih" (Sambil berdoa semoga segera sampai ke halte Queen Victoria Market. Saat itu, tram terasa berjalan lambat).
Driver tram: "Nggak apa-apa. Catat nomor telepon aku ya?"
Saya: (Saya rasanya ingin lompat dari tram saat itu juga. Damn! Mana sih, Queen Victoria Market?)
Driver tram: "Telepon aku dan kita bisa pergi selesai aku kerja"
Saya: "Terima kasih" (Akhirnya tram sampai juga dan saya turun tanpa menoleh lagi ke arahnya)

Ketika mengalami ini saya tiba-tiba teringat kalimat: "siapapun mau membantu perempuan-perempuan cantik."

Benarkah? Ada yang pernah mengalami seperti yang saya alami?

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Tip Hemat Jalan-jalan di Melbourne, Australia
  • Nonton di Bioskop dengan Layar Terbesar ke-3 di Dunia
  • Backstreet Boys, Konser Luar Negeri Pertama
  • Tim Sepak Bola Warisan Keluarga
Newer Posts Older Posts Home

My Travel Book

My Travel Book
Baca yuk, kisah perjalanan saya di 20 negara!

My Travel Videos

Connect with Me

Total Pageviews

Categories

Amerika Serikat Australia Belanda Belgia Ceko Denmark Hong Kong Indonesia Inggris Irlandia Italia Jepang Jerman Korea Selatan Macau Malaysia Prancis Singapura Skotlandia Spanyol Thailand Vietnam

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  May (1)
      • 6 Lokasi untuk Melihat Bunga Musim Semi di Bratisl...
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2024 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2022 (6)
    • ►  October (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (19)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (51)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (10)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2018 (30)
    • ►  December (8)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (60)
    • ►  December (6)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (8)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  May (8)
    • ►  April (9)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (6)
    • ►  April (5)
    • ►  March (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (51)
    • ►  December (7)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  June (4)
    • ►  May (6)
    • ►  April (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (6)
    • ►  July (5)
    • ►  June (3)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
    • ►  February (5)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (13)
    • ►  December (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)

Search a Best Deal Hotel

Booking.com

Translate

Booking.com

FOLLOW ME @ INSTAGRAM

Most Read

  • Tour Guide Berbahasa Indonesia di Thailand: Saya Belajar dari Sinetron
  • Mudahnya Mengurus Visa Australia
  • Turis Indonesia Terkenal Tukang Pipis di Korea Selatan
  • Bolehkah Membawa Pulang Selimut dan Bantal Pesawat? Ini Eksperimen Saya

About Me

Hi, I'm Yani. I have 15 years experience working in the media industry. Despite my ability to write various topics, my biggest passion is to write travel stories. By writing travel stories, I combine my two favourite things; travelling and writing. All the content in this blog are mine otherwise is stated. Feel free to contact me if you have questions or collaboration proposal :)

Contact Me

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 My Travel Stories. Created by OddThemes & VineThemes