My Travel Stories

Lots of memories I can't keep, that's why I write.

Powered by Blogger.
  • Home
  • Indonesia
  • Asia
  • Australia
  • Eropa
  • Amerika
  • Travel Tips
  • Itinerary
  • Portfolio
Cotton On

Selain DFO South Wharf, ada lagi nih, pusat perbelanjaan barang-barang branded harga murah di Melbourne, Australia. Namanya Spencer Outlet Centre. Dari kunjungan saya beberapa hari lalu saya sempat masuk ke beberapa toko, di antaranya Cotton On, Skechers, dan ShoeWarehouse. Saya pun dibuat tercengang oleh harga barang-barang yang mereka tawarkan.

Di toko brand asal Australia, Cotton On harga murah yang ditawarkan gila-gilaan. Knitwear dijual mulai dari harga 2 AUD. Begitu juga dengan tas yang dijual dengan harga sama. Selain itu ada T-Shirt yang harga awalnya 19.95 AUD dibanting harganya menjadi 3 AUD saja. Di toko ini ada juga sepatu sneakers dan pantofel Rubi (brand yang satu grup dengan Cotton On) yang dijual dengan harga 5 AUD. Sedangkan flat sandals Rubi dijual seharga 10 AUD untuk tiga sandal. 

Skechers

Harga miring juga saya temukan di toko sepatu Skechers. Brand asal Amerika Serikat ini memberikan potongan harga yang sulit ditolak. Banyak sepatu Skechers model sneakers yang dijual dengan harga 29-39 AUD saja. Kalau saja tidak ingat bahwa saya sudah membeli sepatu Skechers di DFO South Wharf, bisa dipastikan saya akan pulang dengan menenteng sepatu baru. Duh, sungguh cobaan yang luar biasa.

Baca Juga: Tempat Belanja Oleh-oleh di Melbourne, Australia

Di toko ShoeWarehouse yang saya masuki juga banyak sepatu branded yang harganya sudah dipotong habis-habisan. Contohnya sandal Hush Puppies yang harga awalnya 129.95 AUD dijual menjadi 29-39 AUD. Ada juga high heels shoes dari Clarks seharga 29 AUD padahal harga awalnya 129.95 AUD. Di sini saya juga menemukan brand sepatu asal Australia Grosby. Sepatu boots khusus winter dengan bahan bulu domba dijual dengan harga 29 AUD. Sedangkan sandalnya dijual seharga 19 AUD. Harga awal keduanya adalah 59.95 AUD.

ShoeWarehouse

Selain toko-toko tersebut, terdapat juga toko sepatu Fila, toko pakaian dalam asli Australia Bonds, toko peralatan olahraga dan traveling Kathmandu, toko jam Timeless Watches, dan beberapa toko brand-brand lain yang tidak bisa saya masuki satu per satu. Namun dari pengamatan sepintas, nyaris semua toko di sini memberikan potongan harga alias sale. 

Rata-rata barang yang di-sale adalah barang-barang penghabisan keluaran lama. Jadi siap-siap saja kalau tidak bisa menemukan nomor atau warna yang kita mau. Tapi kalau kita mau ngubek dan teliti memilih, kita bisa dapat barang bagus dengan harga murah. 

Baca Juga: Tempat Belanja Oleh-oleh di Sydney, Australia

Untuk urusan harga miring, saya bisa simpulkan outlet yang menempel dengan stasiun kereta Southern Cross Station di Spencer Street, Melbourne ini nggak kalah bersaing dengan DFO South Wharf. Tapi jumlah variasi brand yang berjualan masih lebih banyak di DFO South Wharf. 

Meskipun begitu, saya tetap merekomendasikan untuk datang ke outlet ini bagi yang ingin wisata belanja barang branded harga murah di Melbourne. Karena ada koleksi barang yang saya temukan di sini tapi tidak saya lihat di DFO South Wharf meskipun brand-nya sama. Cek situs Spencer Outlet Centre di sini untuk info lengkapnya. 


----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • DFO, Tempat Belanja Barang-Barang Branded Harga Murah di Melbourne, Australia
  • Tempat Berburu Foto Daun-daun Musim Gugur Cantik di Melbourne, Australia.
  • Hanya Punya 1 Hari untuk Keliling Dublin, Irlandia? Ini 5 Tempat yang Wajib Dikunjungi
  • 5 Penyebab Visa Ditolak
  • Mudahnya Membuka Rekening Bank Australia Bagi Turis atau Pemilik Visa Visitor
Tahun ini saya merasakan musim gugur di Melbourne dan sekitarnya dengan waktu yang agak lama. Kurang lebih dua bulan dari total tiga bulan musim tersebut hadir. Karena durasi waktu yang agak lama tersebut, saya punya kesempatan untuk mengamati perubahan warna pepohonan di musim gugur. Ternyata tidak semua pohon memiliki daun yang mengalami perubahan warna cantik di musim gugur. 

Ada yang berubah dari hijau ke cokelat namun ada pula yang berubah dari hijau ke kuning dan merah terlebih dahulu sebelum menjadi cokelat. Nah, perubahan warna daun menjadi kuning atau merah inilah yang membuat pohon-pohon terlihat cantik. Pastinya cantik juga untuk difoto. Dari pengalaman saya berburu foto daun-daun musim gugur di Melbourne pada bulan Mei 2017, tiga tempat berikut wajib dikunjungi. 

1. Royal Botanic Gardens





Di lahan seluas 38 hektare ini banyak sekali hal menarik yang bisa dijelajahi. Mulai dari Tropical Glasshouse, National Herbarium of Victoria, Ian Potter Foundation Children's Garden, dan banyak lagi spot menarik lainnya. Namun karena saat itu saya sedang berburu foto dedaunan musim gugur, saya paling menikmati ketika berada di Garden Explorer Stop. Di sini terdapat pohon-pohon dengan warna daun kuning kemerahan. Plus, di bawah pohon-pohon terdapat dedaunan kering yang menyebar. Pas sekali dengan gambaran musim gugur yang ada di bayangan saya. Asyiknya lagi, di sini disediakan juga kursi-kursi kayu untuk kita menikmati keindahan suasana musim gugur. Namun sayangnya hari itu cuaca tidak mendukung. Hujan turun sehingga saya tidak bisa duduk lama-lama di kursi-kursi tersebut.

Alamat: Birdwood Avenue, Melbourne

Waktu buka: 7.30 - matahari terbenam
Tiket masuk: Gratis
Info lengkap: bisa kunjungi situsnya di sini 

2. Fitzroy Gardens






Di taman yang terletak di East Melbourne ini terdapat Cook's Cottage. Menurut brosur Fitzroy Gardens yang saya dapat dari visitor center, cottage yang merupakan memorial Captain James Cook (penjelajah pertama dari Inggris yang menginjakkan kakinya di Australia) ini adalah bangunan tertua di Australia karena cottage ini dibangun pada tahun 1755 di Yorkshire, Inggris dan dipindahkan ke Melbourne pada tahun 1934. Cottage ini merupakan salah satu daya tarik utama Fitzroy Gardens tapi bukan satu-satunya yang memesona dari taman ini. Pepohonan yang ada di sini juga menarik. Pasalnya, gugurnya dedaunan berwarna kuning yang memenuhi rumput berwarna hijau memberikan nuansa musim gugur yang berantakan namun cantik! 

Alamat: Wellington Parade, East Melbourne
Waktu buka: 24 jam (kecuali Cook's Cottage: 09.00 - 17.00)
Tiket masuk: Gratis (kecuali Cook's Cottage, bayar: 6.50 AUD)
Info lengkap: bisa kunjungi situsnya di sini 

3. Argyle Square






Dibandingkan Royal Botanic Gardens dan Fitzroy Gardens, tempat ini nggak ada apa-apanya. Hanya ada pepohonan dan kursi-kursi untuk duduk-duduk. Karena memang konsepnya bukan taman, melainkan square. Tapi bukan berarti di sini kita tidak bisa mendapatkan pemandangan musim gugur yang cantik. Justru di sinilah saya menemukan daun-daun berwarna merah yang jumlahnya cukup banyak. Di square ini juga banyak burung berkeliaran yang membuatnya menjadi objek yang menarik juga untuk difoto. 


Alamat: Di antara Lygon Street dan Cardigan Street, Carlton.
Waktu buka: 24 jam
Tiket masuk: Gratis  


Selain ketiga tempat tersebut di atas, pohon-pohon dengan daun-daun berwarna kuning atau kemerahan juga bisa ditemui di pinggir Sungai Yarra dekat Federation Square. Lalu ada juga di Lincoln Square, yang berada di antara jalan Swanston Street dan Lincoln Square Street. Di sini daun-daunnya berubah kuning. Sama halnya dengan daun-daun di pinggir jalan yang ada di Victoria Parade/ Victoria Street, dekat dengan lampu merah, pemberhentian tram stop 11.

Saya yakin, selain lokasi-lokasi tersebut, masih banyak tempat untuk berburu foto daun-daun musim gugur cantik di Melbourne dan sekitarnya. Untuk yang tahu lokasi lainnya, boleh share di kolom komentar, ya... :) 


----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:


  • Hanya Punya 1 Hari untuk Keliling Dublin, Irlandia? Ini 5 Tempat yang Wajib Dikunjungi
  • DFO, Tempat Belanja Barang-Barang Branded Harga Murah di Melbourne, Australia
  • 5 Penyebab Visa Ditolak
  • Mudahnya Membuka Rekening Bank Australia Bagi Turis atau Pemilik Visa Visitor
  • Nonton di Bioskop di Australia, Nggak Ada Nomor Kursinya
Dublin punya banyak tempat wisata yang letaknya di pusat kota. Ini tentu sangat memudahkan bila kita tidak punya banyak waktu untuk menjelajahi ibukota Republik Irlandia ini. Nah, kalau hanya punya waktu 24 jam di Dublin, ini lima tempat yang tidak boleh dilewatkan. Berdasarkan pengalaman saya, kelima tempat wajib kunjung di Dublin ini bisa didatangi dengan berjalan kaki. 

1. Dublin Castle



Castle ini adalah pusat pemerintahan Republik Irlandia namun juga terbuka untuk wisatawan. Siapkan waktu sekitar 1 jam untuk keliling castle yang dibangun pada masa pemerintahan King John of England pada tahun 1204 ini. Tur keliling castle dengan biaya 10 Euro ini akan memberikan pengetahuan sejarah Irlandia dan Dublin Castle itu sendiri. Selain itu, mata akan dibuat terbelalak dengan ruangan-ruangan dan berbagai koleksi yang ada di dalam castle.

2. Dublinia + Christ Church Cathedral



Di museum ini tersimpan sejarah tentang kedatangan dan kekuasaan bangsa Viking di Irlandia. Jangan bayangkan bentuk museum yang membosankan karena museum ini bisa mengemas informasi-informasi penting dengan cara interaktif. Museum ini akan menyambungkan kita pada Christ Church Cathedral, gereja yang dibangun oleh Raja Dublin berkebangsaan Viking, Sitruic Silkbeard pada tahun 1030. Siapkan uang 9.50 Euro untuk masuk Dublinia dan 6.50 Euro untuk masuk Christ Church Cathedral, atau bisa juga membeli tiket terusan dengan harga 14.50 Euro.

3. Trinity College



Didirikan pada tahun 1592 oleh Queen Elizabeth I menjadikan Trinity College menjadi universitas tertua di Irlandia. Di sini, terdapat perpustakaan bernama Trinity College Library yang menyimpan 6 juta koleksi. Koleksi yang paling terkenal adalah The Book of Kells. The Book of Kells adalah naskah yang berisi empat injil dari Perjanjian Baru Alkitab. Umurnya sudah sangat tua karena dibuat sekitar tahun 800-an oleh para Biarawan yang berasal dari Iona, Skotlandia. Untuk bisa masuk ke perpustakaan dan melihat The Book of Kells, pengunjung harus membayar 10 – 13 Euro, tergantung hari apa kita berkunjung.

Baca Juga: Dublin, Kota Nyaman Untuk Solo Traveler

4. General Post Office (GPO)



Pembangunan gedung yang mengadaptasi arsitektur Yunani kuno ini dimulai pada 12 Agustus 1814 dan resmi digunakan sebagai kantor pos sejak 6 Januari 1818. Pendirian gedung ini memang bukan ditujukan untuk menjadi tempat wisata namun bentuk bangunannya yang menggunakan konsep portico (beranda dengan tiang-tiang yang sangat tinggi) membuat gedung ini menarik banyak wisatawan untuk berfoto di depannya.

5. Temple Bar




Datanglah ke sini pada malam hari, ketika sudah lelah jalan-jalan seharian. Kita akan berenergi kembali di area yang bisa dibilang area gaulnya Dublin. Di sini, berderet pub dan kafe yang bukan hanya menyajikan berbagai makanan dan minuman namun juga berbagai pertunjukan live music. Pilih pub yang menawarkan pertunjukan musik lokal Irlandia. Folk music yang dimainkan membuat saya terus terkenang perjalanan saya di Irlandia. 

Baca Juga: Tempat Belanja Oleh-oleh di Dublin, Irlandia

Tulisan saya ini telah diterbitkan di situs WomanTalk.


----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • DFO, Tempat Belanja Barang-Barang Branded Harga Murah di Melbourne, Australia
  • 5 Penyebab Visa Ditolak
  • Mudahnya Membuka Rekening Bank Australia Bagi Turis atau Pemilik Visa Visitor
  • Nonton di Bioskop di Australia, Nggak Ada Nomor Kursinya

Sebenarnya sudah lama saya tahu tentang Direct Factory Outlet (DFO) yang menjual barang-barang branded asli harga murah di Melbourne, Australia. Tapi baru kemarin saya akhirnya mengunjungi shopping centre yang terletak di 20 Convention Centre Pl, South Wharf ini. Saya pun sukses ternganga dengan barang-barang branded yang dijual di sini dengan harga sangat miring.

Bayangkan saja, sepatu Skechers Go Walk  (model slip on) yang harga normalnya mendekati atau bahkan di atas 1 jutaan. Di sini, bisa ditemukan dengan harga 29 AUD, 39 AUD, 59 AUD, 69 AUD, dan 79 AUD. Ada juga model sneakers yang dijual mulai dari 49 AUD. Itu berarti harga yang paling murah nggak sampai 300 ribu rupiah (dengan asumsi 1 AUD = Rp10.000). Saya sampai mau menangis melihatnya. Hahahaha. Soalnya Skechers adalah salah satu merk sepatu favorit saya. 

Keluar dari toko Skechers, saya masuk ke toko Levi's. Di sini juga gila banget banting harganya. Levi's Slim Fit 505 C dijual dengan harga hanya 19 AUD dari harga asli 139 AUD. Selain itu, ada juga Levi's Super Skinny untuk perempuan, dijual dengan harga 39 AUD. Celana regular untuk pria harganya juga sama. Kalau saya perhatikan celana-celana yang dijual dengan harga 39 AUD adalah yang stok barangnya masih banyak sedangkan yang 19 AUD benar-benar barang penghabisan. 

Baca Juga: Barang-barang branded harga murah di Australia juga bisa ditemukan di toko-toko ini.

Pengen dibawa pulang semua nggak, sih? ;p

Saya juga sempat masuk ke toko Cotton On. Brand asal Australia ini juga parah dalam memberikan potongan harga. Gimana nggak? Masa ada T-shirt dan Tank top yang dijual dengan harga 2 AUD saja! Selain itu, flat sandals Rubi (brand ini satu grup dengan Cotton On) dijual dengan harga 10 AUD untuk tiga sandal. Ada juga sneakers yang harganya cuma 5 AUD. Ya ampun harga-harga ini sama seperti sandal-sandal dan sepatu-sepatu yang dijual di ITC-ITC Jakarta tapi dengan kualitas yang lebih bagus. Saya sampai galau memilih sneakers yang mana yang mau dibeli.

Brand-brand yang terkenal di kalangan surfer seperti Billabong dan Rip Curl juga memberikan promosi harga yang susah ditolak. Alhasil saya pun sukses membeli tiga pieces bikini begitu keluar dari toko Rip Curl. Dua top dan satu bottom. Sebenarnya saya hanya butuh satu top dan satu bottom saja alias sepasang tapi kalau saya beli sepasang harganya adalah 20 AUD. Masing-masing top dan bottom harganya 10 AUD (Ini sudah harga diskon. Harga awalnya top 49,99 AUD dan bottom 39,99 AUD). Sedangkan kalau saya beli tiga pieces harga totalnya menjadi 15 AUD. Ya akhirnya saya beli tiga pieces, deh. Walaupun top yang satu lagi nggak ada pasanganya, yang penting dapat harga lebih murah. Hahahaha. 

Baca Juga: Tempat Belanja Murah di Melbourne, Australia

Selain brand-brand tersebut, di sini terdapat juga toko adidas, Nike, Fila, Converse, Puma, Nine West, dan sederet toko barang branded lainnya. Semuanya berlomba-lomba memberikan potongan harga. Tidak perlu menunggu musim sale, di sini pasti akan ada barang-barang yang di-sale. Tapi barang-barang yang harganya dipotong sangat besar tentunya adalah barang-barang stok lama. Jangan harapkan bisa mendapatkan potongan harga untuk barang keluaran baru.


Sempat galau mau beli yang mana, akhirnya saya bawa pulang si ungu

Tapi bagi saya sih, nggak masalah mau stok lama ataupun baru, yang penting asli, kualitasnya bagus dan dipakainya enak. Seperti sneakers ungu Rubi yang saya beli kemarin. Meskipun harganya cuma 5 AUD tapi nyaman dipakai. Saya sudah membuktikannya dengan memakainya seharian ini untuk jalan-jalan.  

FYI, DFO South Wharf ini akan menggelar Big Brand Sale pada 9 - 12 Juni 2017. Tanpa event sale saja harganya sudah miring. Saya nggak bisa bayangkan harganya akan semiring apa lagi pada Juni nanti. Tapi yang pasti, saya wajib hadir di situ. Hahahaha. 



Update 13 Juni 2017: Saya kembali mengunjungi DFO South Wharf pada event Big Brand Sale. Yang saya lihat memang ada toko-toko yang memberlakukan tambahan sale pada event tersebut. Di antaranya adalah Converse yang menawarkan diskon 50% untuk pembelian kedua, Swatch yang memberikan diskon mulai dari 40 sampai 80%, dan Fossil yang memberikan diskon 60% untuk seluruh barang di tokonya, bahkan ada yang diskonnya 70%. Karena saya memang mencari jam tangan, alhasil saya membeli jam tangan Fossil dengan diskon 60%. Senang :)

Baca Juga: Ingin Belanja Barang-barang Branded Harga Murah di Melbourne? Datang ke Spencer Outlet Centre

Booking.com

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • 5 Penyebab Visa Ditolak
  • Mudahnya Membuka Rekening Bank Australia Bagi Turis atau Pemilik Visa Visitor
  • Nonton di Bioskop di Australia, Nggak Ada Nomor Kursinya
  • Belajar Masak di Australia: Resep Spicy Tuna Spaghetti



Foto Ilustrasi: Pixabay

Berniat bepergian ke negara yang mewajibkan visa? Sebelum mengajukan visa, baca dulu lima alasan yang menyebabkan visa ditolak berikut ini. Jangan lakukan ini bila ingin visa disetujui.

1. Dana tidak mencukupi untuk membiayai perjalanan. Banyak yang bertanya berapa sebenarnya jumlah tabungan yang harus dimiliki agar visa disetujui? Tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini, kecuali hal tersebut sudah disebutkan dengan jelas dalam syarat pengajuan visa. Logikanya, dana kita harus mencukupi untuk kebutuhan perjalanan. Mencukupi untuk biaya konsumsi, transportasi, akomodasi, hiburan (termasuk semua tiket masuk ke tempat wisata), dan keperluan tak terduga. Pastikan dana mencukupi untuk ini semua atau visa akan ditolak. Tentu hal ini bisa diabaikan bila kita mendapat undangan atau sponsor.

2. Mengisi rekening tabungan dadakan. Bila salah satu syarat dari membuat visa adalah bukti keuangan yang mencukupi, tidak sedikit orang yang berlomba-lomba mengisi rekening tabungannya sebanyak mungkin. Banyak cara yang dilakukan, mulai dari meminjam uang ke kerabat atau memindahkan dana dari satu rekening ke rekening lain. Berpikiran untuk melakukan hal yang sama? Eits, harus hati-hati. Selain melihat jumlah tabungan, pihak kedutaan juga melihat kewajaran aktivitas tabungan. Misalnya setiap bulan transaksi dana kita di sekitaran Rp 5 – 10 juta, tiba-tiba di waktu tertentu ada transferan dana sebesar Rp 50 juta. Ini otomatis akan menimbulkan kecurigaan.

3. Dicurigai tidak akan kembali ke negara asal. Tiap negara tentu tidak ingin bila ada imigran gelap yang tinggal di negaranya. Karena itu, tiap kali ada yang mengajukan visa, salah satu hal yang akan diselidiki oleh mereka adalah apakah orang tersebut akan kembali ke negara asalnya atau justru tidak akan pulang dan menjadi penduduk gelap. Bila dokumen kita dianggap kurang meyakinkan bahwa kita akan pulang ke Indonesia, pihak kedutaan bisa langsung mencoret kita dari daftar pelamar visa.

4. Tidak memenuhi semua persyaratan yang diminta. Masing-masing negara memiliki syarat yang berbeda-beda. Pastikan kita mengikuti semua syarat yang diminta. Bikin daftar check list agar tidak kelewatan satu hal pun. Ada kedutaan yang masih berbaik hati meminta untuk mengumpulkan syarat yang kurang namun ada juga yang langsung menolak lamaran visa begitu tidak mengikuti semua syaratnya. Jadi jangan ambil risiko.

5. Memalsukan dokumen. “Ah mana mungkin dicek,” adalah pemikiran yang harus dihindari. Kedutaan memiliki akses ke banyak hal, termasuk ke dokumen-dokumen yang dikirimkan oleh para pelamar visa.

Tulisan saya ini sebelumnya telah diterbitkan di situs WomanTalk.

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Mudahnya Membuka Rekening Bank Australia Bagi Turis atau Pemilik Visa Visitor
  • Nonton di Bioskop di Australia, Nggak Ada Nomor Kursinya
  • Belajar Masak di Australia: Resep Spicy Tuna Spaghetti
  • Shinbashi Yakiniku, Restoran Japanesse Barbecue Enak di Melbourne, Australia


Foto Ilustrasi: Pixabay

"Bisakah pemilik visa visitor membuka rekening bank di Australia?" "Kira-kira sulit nggak ya, membuka rekening bank di Australia bagi pemilik visa visitor atau turis?" Pertanyan-pertanyaan tersebut sempat terbersit di benak saya. Dan ternyata jawabannya adalah bisa dan tidak sulit bagi turis membuka rekening bank di Australia. Berikut pengalaman saya.

Awalnya saya tidak berpikir untuk membuka rekening bank di Australia. Tapi mengingat saya akan lama di sini, rasanya sangat masuk akal bila saya memiliki rekening bank Australia. Hal ini tentunya untuk mempermudah saya melakukan transaksi serta menjaga keamanan dibandingkan memegang uang tunai yang tidak sedikit jumlahnya. 

Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk membuka rekening di Commonwealth Bank (CommBank) of Australia. Alasannya? Saya familiar dengan bank ini. Meskipun belum pernah memiliki rekening bank ini, tapi saya tahu CommBank ada di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Saya pikir ini akan mempermudah saya di perjalanan-perjalanan saya yang akan datang.

Setelah yakin dengan bank yang saya tuju, saya pun mendatangi salah satu cabangnya yang ada di 385 Bourke Street, Melbourne. Posisinya ada di sebrang H&M Store. Begitu masuk ke dalam bank, saya disambut petugas wanita yang menanyakan tujuan saya. Kemudian dia mencatat nama saya dan meminta saya menunggu di kursi."Tunggu sampai namamu dipanggil, ya," katanya ramah.

Sekitar 10 menit menunggu, datang seorang pria menghampiri saya. Dia pun kemudian mengajak saya menuju mejanya. Sampai di mejanya, dia meminta passport saya dan menanyakan beberapa pertanyaan kepada saya, di antaranya sudah berapa lama dan apa yang dilakukan di Melbourne. Saya pun menjelaskan bahwa saat ini saya sedang mengambil English Short Course. "Jadi kamu pelajar, ya?" tegasnya. "Tapi visa saya bukan visa pelajar. Visa saya visa visitor," jawab saya. "Oh, nggak masalah, kok," katanya.

Sekedar info, saya pemilik visa visitor dengan subclass 600. Visa ini memperbolehkan saya untuk belajar selama maksimal 3 bulan. 

Pria yang bernama Moe ini kemudian meminta saya menunjukkan visa saya. Saya pun menyodorkan kepadanya handphone saya, karena di situlah visa elektronik saya tersimpan. Moe lalu mencatat masa berlaku visa saya di secarik kertas dan meminta saya menuliskan alamat tinggal di Australia, nomor telepon di Australia, dan alamat email saya.

Selanjutnya dia meminta saya mengunduh aplikasi CommBank dari play store. Sambil menunggu saya mengunduh, Moe memasukkan semua data yang dimintanya dan data dari passport saya ke komputernya. 

Selesai proses tersebut, dia menjelaskan kepada saya bahwa dia membukakan 2 rekening untuk saya, yaitu Smart Access dan NetBank Saver. Bedanya apa? Smart Access adalah rekening untuk digunakan sehari-hari, seperti tarik tunai, transfer, dan sebagainya. Rekening ini tidak berbunga dan memiliki biaya bulanan 4 AUD per bulan (namun ada beberapa ketentuan yang bisa membuat kita bebas iuran ini, termasuk salah satunya bila status kita adalah pelajar). Sedangkan NetBank Saver adalah rekening untuk investasi karena memiliki bunga dan tidak dikenakan biaya bulanan. 

Strateginya adalah simpan uang di NetBank Saver dan hanya menstransfernya ke Smart Access ketika kita membutuhkannya saja. Transfer antara kedua rekening ini gratis dan sangat mudah karena bisa dilakukan dalam satu aplikasi. 

Selain bisa transfer untuk kedua rekening, Moe juga menjelaskan fitur-fitur lain dalam aplikasi CommBank. Termasuk mengaktifkan kartu ATM. "Kartu ATM kamu akan jadi dalam empat hari kerja. Seharusnya bisa kamu terima di hari Jumat atau paling lambat hari Senin," jelasnya.

Namun ketika menunggu kartu ATM jadi, selama aplikasi CommBank saya sudah aktif, saya tetap bisa melakukan transfer, menerima transferan, atau mengambil uang melalui mesin ATM meskipun tanpa kartu. "Nanti di mesin ATM pilih saja cardless. Kemudian mesin akan mengirimkan kode dan kamu harus memasukkan kode tersebut ke mesin ATM," jelasnya. 
  
Tahap terakhir yang ditunjukkan Moe kepada saya adalah cara men-deposit atau melakukan setoran ke rekening Smart Access melalui sebuah mesin yang ada di dekat mejanya. Selesai disetor, Moe meminta saya melihat aplikasi CommBank saya. Voila, sejumlah uang yang saya setor sudah tercatat di sana. 

Semua proses yang saya lakukan bersama Moe membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Keluar dari bank, rekening saya sudah aktif. Dan, hari Jum'at, 12 Mei 2017, kartu ATM sudah sampai di alamat yang saya berikan. Di dalam kartu tersebut terdapat surat yang menjelaskan tiga pilihan mengaktifkan kartu ATM, yaitu melalui website, telepon ke costumer care, atau melalui aplikasi CommBank. Saya memilih melalui aplikasi CommBank dan hanya dalam waktu 1 menit, kartu ATM saya sudah aktif. Hore!

Ternyata sangat mudah bagi turis membuka rekening bank di Australia. Syaratnya hanya perlu 5 hal berikut:
  1. Passport
  2. Visa yang masih berlaku
  3. Alamat tempat tinggal di Australia
  4. Nomor telepon Australia (saya pakai nomor handphone)
  5. Email pribadi
Sekarang tinggal bagaimana cara mengisi rekeningnya, nih. ;p

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Nonton di Bioskop di Australia, Nggak Ada Nomor Kursinya
  • Belajar Masak di Australia: Resep Spicy Tuna Spaghetti
  • Shinbashi Yakiniku, Restoran Japanesse Barbecue Enak di Melbourne, Australia
  • Leisurelink, Kolam Renang Umum Bagus dan Murah di Geelong, Victoria, Australia
Newer Posts Older Posts Home

My Travel Book

My Travel Book
Baca yuk, kisah perjalanan saya di 20 negara!

My Travel Videos

Connect with Me

Total Pageviews

Categories

Amerika Serikat Australia Belanda Belgia Ceko Denmark Hong Kong Indonesia Inggris Irlandia Italia Jepang Jerman Korea Selatan Macau Malaysia Prancis Singapura Skotlandia Spanyol Thailand Vietnam

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  May (1)
      • 6 Lokasi untuk Melihat Bunga Musim Semi di Bratisl...
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2024 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2022 (6)
    • ►  October (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (19)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (51)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (10)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2018 (30)
    • ►  December (8)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (60)
    • ►  December (6)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (8)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  May (8)
    • ►  April (9)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (6)
    • ►  April (5)
    • ►  March (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (51)
    • ►  December (7)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  June (4)
    • ►  May (6)
    • ►  April (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (6)
    • ►  July (5)
    • ►  June (3)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
    • ►  February (5)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (13)
    • ►  December (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)

Search a Best Deal Hotel

Booking.com

Translate

Booking.com

FOLLOW ME @ INSTAGRAM

Most Read

  • Tour Guide Berbahasa Indonesia di Thailand: Saya Belajar dari Sinetron
  • Mudahnya Mengurus Visa Australia
  • Turis Indonesia Terkenal Tukang Pipis di Korea Selatan
  • Tip Hemat Jalan-jalan di Sydney, Australia

About Me

Hi, I'm Yani. I have 15 years experience working in the media industry. Despite my ability to write various topics, my biggest passion is to write travel stories. By writing travel stories, I combine my two favourite things; travelling and writing. All the content in this blog are mine otherwise is stated. Feel free to contact me if you have questions or collaboration proposal :)

Contact Me

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 My Travel Stories. Created by OddThemes & VineThemes