Ternyata Australia mengenal kata-kata yang sama dengan Indonesia. Ini saya temukan saat melakukan trip ke negara bagian Victoria, Australia pada November 2014 lalu. Tapi meskipun katanya sama tapi artinya tentu aja beda.
Tai = nama brand coconut water/ air kelapa
Nasi = nama buah pear (asian pear)
Kaos = nama kafe di daerah Lorne, Great Ocean
Road
Find me at: LINE: @psl7703h Instagram: yanilauwoie Twitter: yanilauwoie
Screening
bandara selalu membuat saya was-was. Karena biasanya ada saja yang jadi masalah
bila melewati pemeriksaan di bandara. Entah karena kelebihan membawa cairan
yang tidak boleh masuk kabin atau ada logam yang menempel di tubuh saya yang
membuat alat pemeriksaan itu tidak berhenti berbunyi. Tapi dari semua
pengalaman di bandara, baru kali ini saya dicurigai membawa peledak.
Ceritanya hari itu saya ingin pulang dari
Melbourne, Australia ke Jakarta. Pesawat Qantas yang saya tumpangi dari Melbourne transit
di bandara Sydney dan saya pun harus berganti pesawat tujuan Sydney – Jakarta.
Seperti biasa saya harus melewati pemeriksaan di bandara Sydney ini. Dimulai
dari pemeriksaan tas ransel saya secara manual oleh petugas. Dia menemukan pasta
gigi yang menurutnya terlalu besar untuk masuk kabin maka dia meminta izin
untuk membuang pasta gigi tersebut. Pasta gigi itu pun berpindah dari ransel
saya ke tong sampah.
Selanjutnya sebelum melewati screening,
petugas itu meminta saya melepas zip hooded sweatshirt saya. Mungkin jaket kaos
yang memiliki resleting dan hoodie bukan outfit yang baik untuk dipakai ke
bandara karena saya ingat betul ini bukan pertama kalinya saya diminta
melepasnya di bandara. Untung saja saya memakai tanktop di dalamnya. Kalau
nggak, bisa gawat hanya memakai pakaian dalam doang ;p
Setelah saya dan barang-barang saya melewati
screening, saya pun bergegas untuk mengenakan kembali jaket dan ikat pinggang
saya. Tapi, sebuah suara menghentikan itu semua. Seorang petugas wanita
berhijab memanggil saya. Petugas tersebut dengan sopan menanyakan apakah saya
sudah pernah mengikuti explosive test sebelumnya. Dan reaksi saya langsung: apa
itu explosive test?. Tentunya dengan tambahan mimik wajah kaget.
Dari situ sang petugas paham saya belum
pernah mengikuti tes ini. Dia pun dengan baiknya meminta saya membaca kertas
berukuran A4 yang dilaminating. Saya sudah terlalu panik untuk memahami seluruh
kalimat yang ada di kertas tersebut. Namun kurang lebih intinya adalah saya
diduga memakai atau membawa barang yang dapat memicu ledakan. Waduh!
Otak saya langsung berputar cepat apa
sekiranya yang menempel di tubuh saya atau apa barang yang saya bawa yang
memiliki kemungkinan meledak. Tapi lagi-lagi panik membuat saya tidak bisa berpikir
jernih. Saya malah sibuk berpikir apa yang akan terjadi seandainya saya
terbukti membawa sesuatu yang bisa meledak. Takuuut!
Akhirnya saya pasrah saja ketika petugas
tersebut memeriksa seluruh barang dalam tas saya. Kemudian dia juga memeriksa diri
saya dengan detektornya. Tentu sambil berdoa dalam hati agar tidak terjadi hal
aneh-aneh. Selesai melakukan pemeriksaan, selanjutnya saya menunggu vonis sang
petugas. Rasanya luar biasa deg-degan seperti menunggu hasil sidang skripsi.
Dan begitu kalimat, “ok, you can go now,”
keluar dari bibir sang petugas, saya seperti mendengar dosen berkata, “kamu
lulus!” Rasanya saya ingin memeluk petugas tersebut saking bahagianya. Tapi
saya tahu itu terlalu lebay, jadi saya hanya tersenyum sambil mengucapkan
terima kasih kepadanya. Alhamdulillah :)
Lain negara, lain aturan. Yap, bahkan aturan
di toilet pun berbeda!
Saya terdidik dengan tidak boleh memasukkan
apapun ke dalam toilet kecuali kotoran itu sendiri. Karena itu lah yang terjadi
di sini. Tiap kali masuk ke kamar mandi umum di mal, bioskop atau tempat publik
lainnya selalu ada aturan yang mengingatkan tentang hal tersebut. Itu sebabnya
saya terbiasa membuang tissue ke dalam tempat sampah tiap kali selesai
beraktivitas di toilet. Tapi tindakan ini justru dianggap salah di Australia.
Saat saya sedang buang air kecil di toilet
yang ada di bistro Apollo Bay Hotel, daerah Apollo Bay, Great Ocean Road,
Victoria, Australia, saya melihat peringatan yang mengharuskan kita membuang
tissue ke dalam toilet, bukan ke tempat sampah. Di peringatan itu digambarkan
bahwa membuang tissue ke dalam toilet adalah perbuatan benar sedangkan
membuangnya ke tempat sampah adalah salah. Melihat ini saya sempat terkejut.
Sampai-sampai harus memandangi tanda peringatan itu lebih lama untuk memastikan
saya tidak salah mengartikan.
Setelah keluar dari toilet, saya mengungkapkan kebingungan saya ini kepada Trav. Pria asli Australia ini meyakinkan saya bahwa seperti itu lah peraturan yang berlaku di Australia. Amaze dengan penjelasannya, saya langsung mengambil kamera di ransel saya dan kembali ke dalam toilet untuk memotret peringatan tersebut. Untuk bukti bahwa peraturan toilet di Australia 180º berbeda dari Indonesia. Hahaha...
Find me at: LINE: @psl7703h Instagram: yanilauwoie Twitter: yanilauwoie
Entah saya yang ke-geer-an atau ini hanya perasaan saya saja. Tapi saya benar-benar merasa bahwa puluhan pasang mata binatang berkantong ini memperhatikan tiap langkah saya. Dan tentu saja ini bikin deg-degan luar biasa!
Kejadian ini saya alami ketika saya mengunjungi Woodlands Historic Park yang berlokasi dekat dengan bandara Melbourne International Airport. Saya memang sengaja mengunjungi tempat ini karena menurut Trav yang asli Australia, di tempat ini lah saya bisa melihat kanguru, langsung di habitatnya.
Begitu memasuki kawasan ini, saya tidak langsung melihat ada kanguru. Saya dan Trav berjalan tanpa tahu pasti harus melangkah ke mana untuk menemukan kanguru di taman yang menurut saya sangat luas ini. 5 menit melangkah di jalanan setapak tidak terlihat tanda-tanda ada binatang asli Australia ini. Sampai kira-kira 5 menit kemudian, Trav menunjukkan jarinya ke arah padang.
“I wonder what is that? Could be kangaroos?” ucap Trav. Saya awalnya tidak yakin karena jarak yang jauh membuat saya tidak bisa melihat jelas apa yang ditunjuk Trav. Bagi saya itu hanya seperti siluet hitam yang tidak jelas bentuknya. Tapi saya mengikuti Trav untuk berjalan ke arah yang dicurigai sebagai kanguru tersebut. Makin dekat, siluet hitam itu makin terlihat jelas. Saat berusaha memperjelas pandangan, si siluet hitam itu tiba-tiba bergerak dan melompat-lompat. Ya ampun, itu beneran kanguru!
Saya girang bukan main. Pasalnya saya belum pernah melihat kanguru liar yang bergerak bebas tanpa ada yang membatasi. Saya dan Trav makin mempercepat langkah untuk mendekati kanguru yang ternyata tidak sendirian itu. Mereka ada 4 ekor. Saya sadar bahwa kami ada dalam jarak pandang mereka ketika 2 di antaranya langsung berdiri tegak dengan kepala yang mengikuti gerak langkah kami. Tidak mau membuat mereka takut dan melarikan diri, saya dan Trav tetap berada di jalan setapak dan mengamati mereka dari jarak yang cukup jauh.
Kalau dari jauh gini nggak takut tapi kangurunya nggak kelihatan jelas ;p
Kami tetap berjalan mengikuti jalan setapak, melewati 4 ekor kanguru tersebut. Ternyata oh ternyata, tidak jauh dari mereka, terdapat lebih banyak lagi kanguru. Setelah menghitung cepat, jumlahnya kalau tidak salah mencapai nyaris 30 ekor. Perasaan saya yang tadinya excited karena bisa melihat kanguru langsung berubah was-was. Saking was-wasnya, sampai-sampai keluar lah pertanyaan bodoh dari mulut saya. “They don’t eat human right?” tanya saya dengan wajah khawatir kepada Trav. Hahahaha...
Trav tersenyum mendengar pertanyaan bodoh saya. Trav bilang meskipun mereka bisa mencakar atau menendang kami dengan kaki-kakinya tapi saya tidak perlu khawatir karena Trav yakin bahwa mereka akan lebih takut kepada kami daripada kami takut kepada mereka. Waduh, Trav ini nggak tahu sih, jantung saya sudah berdetak luar biasa kencang melihat puluhan pasang mata kanguru mengawasi gerak-gerik saya.
Perasaan saya berkecamuk. Takut diserang puluhan kanguru tapi juga penasaran ingin melihat binatang ini lebih dekat. Trav seperti bisa membaca hal itu. Dia pun mengajak saya untuk keluar dari jalan setapak dan masuk ke padang luas itu sambil lagi-lagi meyakinkan saya bahwa kanguru-kanguru itu jauh lebih takut dari kami. Saya pun memberanikan diri melangkah mendekati mereka.
Trav benar! Kanguru-kanguru itu takut kepada kami. Buktinya beberapa langkah memasuki padang, beberapa ekor kanguru langsung berlari meninggalkan kawanannya. Menjauhi arah datangnya kami. Tapi tidak semuanya takut, sebagian besar lainnya malah memasang sikap siaga. Mereka berdiri tegak dengan pandangannya mengunci kami. Jantung saya kembali berdetak kencang. Bayangan dikejar oleh puluhan ekor kanguru untuk kemudian mendapat cakaran dan tendangan dari mereka membuat jantung saya berdetak lebih kencang lagi.Saya deg-degan. Sangat!
Karena itu, ajakan Trav untuk memperdekat jarak kami dengan puluhan ekor kanguru itu langsung saya tolak. Saya mengajaknya untuk meninggalkan kawanan itu dan kembali ke jalan setapak. Berjalan meninggalkan padang saya tetap merasa puluhan pasang mata kanguru itu mengawasi saya. Untungnya kanguru-kanguru itu tidak menyerang kami. Kan nggak lucu kalau sampai harus masuk rumah sakit di Australia karena diserang kanguru ;p
----------@yanilauwoie----------
Find me at: LINE: @psl7703h Instagram: yanilauwoie Twitter: yanilauwoie