My Travel Stories

Lots of memories I can't keep, that's why I write.

Powered by Blogger.
  • Home
  • Indonesia
  • Asia
  • Australia
  • Eropa
  • Amerika
  • Travel Tips
  • Itinerary
  • Portfolio


Ini adalah harga makanan di Los Angeles, Amerika Serikat yang saya catat dari perjalanan saya pada bulan Oktober 2019.

  • French Fries di Lucy's Drive In, La Brea Avenue: USD3,01
  • Rice, beef, vegetables di Box Choy, La Brea Avenue, Hollywood: USD8,76
  • McNuggets (isi 6) + Strawberry Smoothies di McDonald's, Hollywood Boulevard: USD4,38
  • McNuggets (isi 6) + Side Salad di McDonald's, Hollywood Boulevard: USD5,14
  • Hand-cut Fries  ukuran regular di Jody Maroni's Sausage Kingdom, Ocean Front Walk Venice beach: USD4,38
  • Jelly Belly Frozen ukuran 1 oz di It's Sugar, Ocean Front Walk, Venice Beach: USD1,99
  • Fried Rice + Sichuan Stir Bean di Le Oriental Bistro, Highland, Hollywood Boulevard: USD13,41
  • Little Cheesesteak Slider di Subway, Wilshire Boulevard: USD2,18
Booking.com
----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Harga Makanan di San Francisco, Amerika Serikat
  • Diusir dari Walmart di Amerika Serikat
  • Terintimidasi Petugas Imigrasi di Amerika Serikat
  • 5 Langkah Mudah Membuat Visa Amerika Serikat untuk Perjalanan Bisnis
  • Mengurus Visa Visitor Australia Secara Online, Disetujui Hanya Dalam 2 Hari Kerja




Ini adalah harga makanan di San Francisco, Amerika Serikat yang saya catat dari perjalanan saya pada bulan Oktober 2019. 

  • Cheeseburger di In-N-Out Fisherman's Wharf: USD3,80 + pajak 8,50%
  • French Fries di In-N-Out Fisherman's Wharf: USD2,45 + pajak 8,50%
  • Nestle Nesquik Chocolate ukuran 14 oz di Walgreens Powell Street: USD1,99
  • Grilled Cheese Toasted Sandwich di Round Cafe Golden Gate Bridge: USD10,80
  • Donat klasik (tabur gula halus) di kafe (lupa namanya) di sudut antara Powell Street dan 6th Street: USD1,50 
  • Beef hot dog di food stall di Pier 33 (lokasi menunggu kapal Alcatraz Cruises): USD5,43
  • Chicken Tenders di Pier Market, Pier 9 Fisherman Wharf: USD7,77
  • Tom Yum Koong di Lers Ros Thai, Hayes Street: USD16,95 + pajak 8,50%
  • Jasmine Rice di Lers Ros Thai, Hayes Street: USD2,00 + pajak 8,50%
  • Thai Iced Tea di Lers Ros Thai, Hayes Street: USD3,00 + pajak 8,50%
  • Ice Water di Lers Ros Thai, Hayes Street: gratis


Booking.com
----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Diusir dari Walmart di Amerika Serikat
  • Terintimidasi Petugas Imigrasi di Amerika Serikat
  • 5 Langkah Mudah Membuat Visa Amerika Serikat untuk Perjalanan Bisnis
  • Mengurus Visa Visitor Australia Secara Online, Disetujui Hanya Dalam 2 Hari Kerja
  • Deg-degan di Pantai Telanjang di Australia

Deretan coffeemaker di Walmart. Tapi merek yang sama cari tidak tersedia.


Pernah diusir dari department store? Saya pernah dan kejadiannya di Walmart di Amerika Serikat. 

Sore itu saya mengunjungi Walmart yang berlokasi di Hesperian Blvd, San Leandro, California untuk mencari sebuah coffee maker. Ini adalah Walmart kedua yang saya datangi setelah sebelumnya saya mengunjungi yang berlokasi di Davis Street, San Leandro. 

Begitu saya menginjakkan kaki melewati pintu masuk, seorang pria yang merupakan petugas Walmart menghentikan saya dan berkata bahwa tas merah yang saya bawa terlalu besar untuk dibawa masuk ke dalam toko. 

Dia meminta saya meninggalkan tas tersebut di dalam mobil karena mereka tidak memiliki tempat penitipan barang. Ya kali saya bawa mobil sendiri ke sana? 

Saya mencoba menjelaskan kepadanya bahwa saya datang dari jauh (beneran lokasi toko ini jauh dari San Francicso) dan saya hanya mencari satu barang saja. Saya bertanya kepadanya apakah mungkin ada asisten toko yang bisa membantu barang yang saya cari (karena saya sudah tahu jenis dan mereknya apa) dan nanti saya tinggal bayar di kasir. Namun dia bilang tidak bisa.

Lalu saya memberikan penawaran lain dengan berkata akan meninggalkan tas merah saya di pojokan toko dan bila memang tas tersebut ada yang mengambil saya tidak akan mempermasalahkannya. Tapi dia juga tidak setuju. 

Sang petugas sama sekali tidak membantu dengan memberikan pilihan yang bisa membuat saya masuk dan belanja. Bahkan, dia meminta saya meninggalkan toko. Pelayanan macam apa itu?!  

Saya pun keluar toko dengan perasaan kesal dan seperti tak punya harapan. Saya sudah datang jauh-jauh masa harus pulang tanpa membawa hasil? Kalau memang barangnya tidak ada ya tidak apa-apa tapi kalau harus pulang dengan andai-andai barangnya ada tapi saya tidak bisa masuk, itu rasanya kesal sekali. Saya hampir menangis saking kesalnya.

Saya berpikir apakah saya harus meminta tolong orang untuk mencarikan dan memberikan barang yang saya cari atau bagaimana? Di tengah kebingungan, saya melihat seorang wanita berkulit hitam sedang menjelaskan kepada polisi dengan suara terisak. 

Saya tidak tahu apa permasalahannya namun sempat mendengar perkataan sang wanita bahwa dia tidak melakukan apa-apa dan dia menduga perlakuan tersebut diterimanya karena warna kulitnya. 

Melihat mereka, saya teringat perkataan sang petugas yang mengusir saya. Dia sempat bilang bahwa ada insiden di dalam toko dan polisi sedang berkeliaran. 

Setelah melihat sang polisi dan wanita, saya akhirnya mengambil keputusan ternekat. Saya tinggalkan tas merah saya di parkiran sepeda. Saya berharap orang akan mengira tas tersebut merupakan bagian dari sepeda yang di parkir dan tidak akan mengambilnya. 

Saya berpikir, kalau memang masih rezeki saya, maka tas berserta isinya tidak akan hilang. Tapi kalaupun hilang saya sudah siap. Saya tahu ini perbuatan nekat tapi saat itu saya merasa ini pilihan terbaik. 

Saya masuk ke toko dan sang petugas yang mengusir saya sudah tidak ada di situ dan digantikan oleh petugas lain. Secepat kilat saya menuju lorong barang-barang rumah tangga, mencari coffe maker yang dimaksud dan setelah berkali-kali melihat merek demi merek, barang yang saya cari tidak ada di sana. 

Saya memastikan dengan petugas dan dia bilang mungkin barang tersebut hanya dijual online saja. Great! Sudahlah saya tidak mendapatkan yang saya cari, masih ada kemungkinan tas saya hilang.

Dihantui ketakutan tas hilang, saya meluncur secepat kilat keluar toko. Melangkah ke parkiran sepeda dan.... tas merah saya masih teronggok di tempat yang sama. Alhamdulillah! Pffuih. Memang kalau masih rezeki tidak akan kemana. 


Booking.com
----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Terintimidasi Petugas Imigrasi di Amerika Serikat
  • 5 Langkah Mudah Membuat Visa Amerika Serikat untuk Perjalanan Bisnis
  • Mengurus Visa Visitor Australia Secara Online, Disetujui Hanya Dalam 2 Hari Kerja
  • Deg-degan di Pantai Telanjang di Australia
  • 8 Tip Jalan-jalan ke Jepang
Foto: Pexels

Cerita tentang dipulangkan ke negara asal oleh petugas imigrasi bukan satu atau dua kali saya dengar. Sering! Karena itu meskipun sudah memiliki visa, saya tetap deg-degan setiap masuk suatu negara. Terlebih lagi negara seperti Amerika Serikat yang menurut beberapa orang yang saya kenal para petugasnya terkenal tegas-tegas.

Saya berkunjung ke Amerika Serikat dengan tujuan trip bisnis ke Virginia tapi sebelum sampai di Virginia saya mampir di Los Angeles. 

Saat itu, ada empat petugas imigrasi yang bertugas namun ada satu yang saya yakin membuat kami yang sedang mengantre gugup luar biasa. Pasalnya petugas ini cukup mengintimidasi dengan suaranya yang bernada tinggi. Apalagi bila yang ditanya seperti tidak paham pertanyaannya maka dia akan mengulang berkali-kali dengan intonasi dan tatapan tajam. 

Contohnya adalah saat dia menginterogasi seorang pria, dia bertanya, "What bring you here?" Karena orangnya kelihatan nggak mengerti dia mengulang lebih kencang "Why are you here?"

Lalu di kesempatan lain dia bertanya sampai tiga kali dengan setengah berteriak, "Where are your friends?" "Where are your friends?" "Where are your friends?" Saya yang melihatnya saja gemeteran, apalagi orang yang ditanya.

Atau ketika dia berkata, "Yes sightseeing. But what do you want to see? Disneyland or what?" Mendengar itu saya bisa menduga bahwa yang ditanya tidak bisa menjelaskan dengan baik apa tujuan liburannya makanya dia dicecar. 

Tapi yang paling membuat saya berdoa dalam hati agar saya tidak diinterogasi oleh dia adalah ketika dia mencecar seorang pria mengenai jumlah uang yang dia bawa. Kurang lebih seperti ini pertanyaan-pertanyaannya: 
"How much money do you have?"
"Is that in Yen or USD?"
"So, how much in USD?" 

Setelah itu diam tidak ada suara. Saya menduga yang sedang diinterogasi berusaha menghitung uangnya dalam USD. Namun sang petugas tidak langsung mengizinkan sang pria masuk dan tetap menunggu jawabannya. 

Melihat hal ini, petugas yang duduk di samping dia berkata, "He's good". Saya menangkap maksud sang teman yang meminta agar pria yang diinterogasi dibebaskan. Itulah yang terjadi selanjutnya. "This is your lucky day. I will let you in. Because I don't care anymore," sambil mencap paspor sang pria. 

Mungkin karena berkali-kali merasa tidak mendapatkan orang yang bisa memberikan jawaban-jawaban yang memuaskan, sang petugas tiba-tiba berkata, "Can I get the right Man?" sambil dia mengacungkan tangannya. "If you are the right man, please come forward." 

Ya jelaslah nggak ada yang berani maju. Semuanya diam di barisan. Sampai akhirnya dia menunjuk seorang pria yang memang ada di barisan depan untuk maju ke dia dan drama suara bernada tinggi pun kembali berulang.  

Melihat semua aksi-aksinya, saya berdoa agar tidak mendapatkan dia. Namun tepat ketika saya berada di barisan depan, dia selesai menginterogasi orang. Mau tidak mau saya yang berikutnya. Sial!  

Saya membaca doa sebelum melangkahkan kaki ke arahnya. Ya Allah, tolong saya!

Begitu sampai di depannya saya mengucapkan selamat pagi sambil tersenyum dan menyerahkan dokumen saya. "Finally fresh air," ucapnya begitu melihat paspor saya. Selanjutnya, kurang lebih seperti ini pernyataan dan pertanyaan dia kepada saya: 

"What bring you to America?"
"So, you are going to celebrate your birthday?"
"What are you going to do for your birthday?"
"It's sound exciting!"
"How much money do you bring?" 
"Okay!"

Kemudian paspor saya dicap. Begitu saja tanpa ada nada tinggi ataupun pertanyaan yang diulang-ulang dari mulutnya. Saya pun melangkah lega. Pfuuuih.. 


Booking.com
----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • 5 Langkah Mudah Membuat Visa Amerika Serikat untuk Perjalanan Bisnis
  • Mengurus Visa Visitor Australia Secara Online, Disetujui Hanya Dalam 2 Hari Kerja
  • Deg-degan di Pantai Telanjang di Australia
  • 8 Tip Jalan-jalan ke Jepang
  • Ketemu Komodo Mini di Pulau Macan
Foto: Pexels


Banyak yang bilang visa kunjungan Amerika Serikat adalah salah satu yang sulit untuk didapat tapi alhamdulillah saya bisa mendapatkannya untuk masa berlaku lima tahun. 

Menurut saya, kunci untuk mendapatkan visa ini sama seperti visa-visa yang lain bagaimana kita meyakinkan bahwa kita tidak akan menjadi imigran di sana dan tentunya bisa membuktikan bahwa kita bisa membiayai perjalanan itu sendiri. Hal tersebut bisa ditunjukkan melalui pengisian formulir DS-160 yang merupakan aplikasi untuk visa non immigrant, termasuk untuk kunjungan liburan maupun bisnis. 

Lalu apa saja yang harus dipersiapkan untuk membuat visa Amerika Serikat?

1. Mengisi aplikasi formulir DS-160 secara online 
Sebelum mengisi cari tahu dulu tentang informasinya di tautan berikut ini dan berikut ini. Kemudian bisa dilanjutkan untuk mengisi formulir DS-160 secara online di tautan berikut ini. 

Pertanyaan di formulir visa Amerika Serikat di antaranya:
  • Data diri seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat, dan akun-akun media sosial. 
  • Informasi perjalanan seperti tujuan ke Amerika Serikat, berapa lama, alamat tinggal selama di Amerika Serikat, dan apakah pernah mengunjungi Amerika Serikat sebelumnya.
  • Kontak informasi yang bisa dihubungi di Amerika Serikat. Karena saya pergi untuk perjalanan bisnis maka saya isi nama pengundang trip bisnis saya.
  • Data keluarga seperti orang tua dan pasangan (suami/istri).
  • Data pekerjaan/pendidikan seperti nama peruhaan, bergerak di bidang apa, alamat perusahan, jumlah penghasilan dan gambaran pekerjaan yang dilakukan.
  • Informasi kemanan dan latar belakang seperti apakah pernah melakukan kejahatan, anggota teroris dan sebagainya. Cara menjawabnya tinggal pilih ya atau tidak.
  • Informasi lokasi di mana kita akan memasukkan aplikasi visa.
Menurut saya sangat penting untuk mengisi formulir ini secara akurat karena dari sinilah salah satunya pihak Kedutaan Amerika Serikat bisa menilai apakah kita layak dapat visa atau tidak, mengingat mereka tidak meminta dokumen penunjang meskipun saya tetap mempersiapkan dan membawanya saat wawancara.


2. Membuat akun virtual dan membayar biaya pembuatan visa
Kita tidak akan bisa membuat janji wawancara tanpa membayar terlebih dahulu biaya pembuatan visa. Nah, untuk bisa membayar kita harus membuat virtual akun di tautan berikut ini. Setelah membuat akun virtual akan keluar nominal pembayaran yang harus dilakukan secara langsung ke Bank CIMB Niaga. Kita cukup membawa kertas informasi yang berisi biaya pembuatan visa dan nomor virtual akun. Saya membayar sebesar Rp2.320.000,- namun jumlah ini tentunya tergantung rate USD saat itu. Harga sebenarnya adalah USD160. 

3. Membuat jadwal wawancara
Setelah melakukan pembayaran dibutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk kita bisa memilih jadwal wawancara. Caranya? Masuk kembali ke situs pembuatan akun virtual di atas dengan alamat akun yang sudah kita buat, kemudian masukkan nomor akun virtual dan pilih jadwal wawancara yang masih tersedia. Saran saya, jangan terlalu mepet dalam melakukannya karena kalau sedang penuh, bisa menunggu sampai lebih dari 2 minggu hanya untuk mendapatkan jadwal wawancara seperti yang terjadi pada teman saya. 

4. Sesi wawancara
Mereka sama sekali tidak meminta dokumen pendukung yang sudah saya siapkan seperti akte, kartu keluarga, surat keterangan kerja, rekening tabungan dan lain sebagainya. Yang mereka minta hanya paspor terbaru dan paspor lama, pas foto 1 lembar (untuk panduan foto yang tepat bisa dilihat di tautan berikut ini) dan bukti jadwal wawancara (jadi jangan sampai lupa dicetak). Ini diminta petugas sebelum wawancara dimulai.

Lalu saat wawancara, sang pewawancara meminta bukti undangan trip bisnis saya karena saya menyebutkan bahwa tujuan saya ke Amerika Serikat adalah untuk trip bisnis. Kurang lebih ini pertanyaan yang diajukan saat wawancara visa Amerika Serikat saya: 

1. Mau ngapain ke Amerika?
2. Undangan workshopnya ada? 
3. Sudah pernah ke Amerika sebelumnya? 
4. Kalau ke negara-negara lain pernah?
5. Masih kuliah atau kerja? 
6. Kerja di mana? 
7. Itu ngapain kerjaannya? 
8. Kuliah di mana? 

Semua pertanyaan diajukan dalam bahasa Indonesia meskipun yang mewawancarai saya adalah pria Kaukasia yang saya duga orang Amerika. 

Karena mereka tidak meminta banyak dokumen pendukung, saya berasumsi formulir aplikasi dan wawancaralah yang berperan penting untuk membuat mereka menentukan apakah visa kita diterima dan ditolak. 

Keputusan pun bisa dapatkan saat itu juga apakah kita dapat visanya atau tidak. Bila dapat, akan diberikan kertas putih yang berisi informasi tentang pengambilan visa atau pengiriman visa ke alamat yang ditentukan. Tergantung apa pilihan kita. Saya sendiri memilih mengambil visa yang terletak di RPX, daerah Palbatu, Jakarta.  

5. Mengambil paspor dan visa
Dalam kertas putih yang diberikan kepada saya disebutkan paspor dan visa bisa diambil dalam dua hingga empat hari kerja. Namun sebaiknya menunggu email dari mereka sebelum berangkat ke tempat pengambilan untuk yakin bahwa paspor dan visanya sudah siap. Begitu mendapat email ini, saya berangkat keesokan harinya untuk mengambilnya dan alangkah bahagianya saya begitu mengetahui masa berlaku visa saya hingga 5 tahun, yaitu hingga tahun 2024. 

Secara keseluruhan, menurut saya, membuat visa Amerika Serikat ini tergolong mudah, kecuali untuk urusan pembayaran visa karena hanya bisa dilakukan di satu bank secara langsung. Selain itu, hal lainnya sangat mudah, terutama untuk persyaratan pembuatan visa Amerika Serikat yang tidak meminta banyak dokumen, bahkan saya tidak menyiapkan tiket pesawat karena memang belum membelinya. 

Ada yang punya pengalaman berbeda?

Booking.com
----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Mengurus Visa Visitor Australia Secara Online, Disetujui Hanya Dalam 2 Hari Kerja
  • Deg-degan di Pantai Telanjang di Australia
  • 8 Tip Jalan-jalan ke Jepang
  • Ketemu Komodo Mini di Pulau Macan
  • 8 Alasan Kenapa Saya Suka Banget Pulau Macan
Tulisan saya tentang Antwerp, Belgia yang tayang di majalah BCA Prioritas edisi Oktober - Desember 2019







----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Mengurus Visa Visitor Australia Secara Online, Disetujui Hanya Dalam 2 Hari Kerja
  • Deg-degan di Pantai Telanjang di Australia
  • 8 Tip Jalan-jalan ke Jepang
  • Ketemu Komodo Mini di Pulau Macan
  • 8 Alasan Kenapa Saya Suka Banget Pulau Macan

Awalnya saya ragu untuk menggelar launching buku perdana saya, "Explore, Enjoy & Repeat (Catatan Perjalanan dari 20 Negara). Bukan apa-apa, mengumpulkan orang untuk datang tentu bukan perkara mudah.

Lanny, Marketing penerbit Grasindo yang mengurusi acara launching saya pernah berkata, "Waktu itu pernah ada penulis yang namanya sudah cukup tenar dan followers-nya juga banyak banget tapi saat launching buku, acaranya sepi." Wah apalagi saya yang penulis buku baru ini. Belum lagi saat itu kondisi Jakarta yang ramai demo.

Namun setelah melakukan perenungan panjang dan berkonsultasi dengan Shannon dan beberapa orang terdekat, saya akhirnya memutuskan untuk menggelar acara launching yang dilaksanakan pada 28 September 2019.

Siapa sangka yang hadir melebihi ekspektasi saya. Mulai dari keluarga, teman-teman SMA, teman-teman kuliah, teman-teman yang dulu pernah dan yang sekarang kerja bareng, teman-teman nonton konser, teman-teman curhat, teman-teman hang out, teman-teman yang pernah travelling bareng sampai teman komunitas travelling yang belum lama saya kenal turut hadir memberikan dukungan.

Acara book signing yang di dalam rundown seharusnya hanya berlangsung 15 menit menjadi molor hingga 1 jam. Itu pun mungkin akan lebih lama bila saya tidak dibantu sang MC andal Fransiska Soraya yang cukup tegas untuk membuat sesi book signing menjadi lebih efisien.

Terima kasih semuanya yang sudah hadir di salah satu hari bersejarah dalam hidup saya. Terima kasih telah menjadi saksi bahwa mimpi itu bisa menjadi nyata. Terima kasih telah membuat saya merasa menjadi orang paling penting di hari tersebut. Namun yang paling penting, terima kasih telah membuat saya merasa begitu dihargai dan dicintai. Saya berdoa kalian akan menerima cinta yang sama besarnya dalam hidup.

Untuk yang tidak sempat hadir, terima kasih juga untuk berbagai pesan dukungannya dan terima kasih telah membeli dan membaca buku saya. It means a lot to me. 

Bocoran sedikit tentang bukunya:

Barcelona, 2013 
Pencopet yang berusaha ditangkap itu terlihat panik dan berlari tak tentu arah ke sana kemari. Sampai akhirnya dia berlari ke arah Gaudi House. Paniklah saya. Saya ikut berlari, mencari tempat untuk menghindari si pria. Dalam kondisi panik dan ketakutan, saya melihat pria itu menabrak seorang remaja bule di dekat saya. Sang remaja berteriak histeris, saya makin panik. Lalu terdengar suara, bruk!... 

Bunaken, 2012 
...Saya yang sangat menyukai laut menjadi takut dengannya. Di malam hari, laut sama sekali tidak indah. Semuanya terlihat gelap. Aduh, bagaimana ini? Di tengah doa yang terus saya ucapkan dalam hati, tiba-tiba mata saya menangkap ada titik hitam besar yang makin lama makin mendekat. Ya Tuhan, itu kapal! Refleks saya berteriak, “Tolong! Tolong! Tolong!” sambil melambaikan tangan... 

Edinburgh, 2018 
...”Kalian punya waktu 1 menit untuk check-in online atau kalian harus bayar untuk check-in di loket sebelah sana”, ungkap petugas wanita di bandara Edinburgh. Kami pun meluncur menuju loket yang dimaksud dan setelah petugas menjelaskan, reaksi saya adalah, ‘Apa? Harga tiketnya saja cuma 16 pounds, masa bayar check-in sampai 55 pounds. Ini gila namanya!’”

Ingin tahu bagaimana kelanjutan cerita perjalanan saya? Bukunya sudah bisa didapatkan di toko buku Gramedia seluruh Indonesia. Untuk yang mau membeli secara online, bisa langsung klik website Gramedia atau bisa juga didapatkan di beberapa toko buku di Tokopedia.

I hope my book will inspire you to travel more. Let's explore, enjoy & repeat!











----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Mengurus Visa Visitor Australia Secara Online, Disetujui Hanya Dalam 2 Hari Kerja
  • Deg-degan di Pantai Telanjang di Australia
  • 8 Tip Jalan-jalan ke Jepang
  • Ketemu Komodo Mini di Pulau Macan
  • 8 Alasan Kenapa Saya Suka Banget Pulau Macan

Pemandangan dari Shrine of Remembrance di Melbourne, Australia

Ini adalah ketiga kalinya saya apply visa visitor Australia. Berbeda dengan yang dua sebelumnya dimana saya memasukkan aplikasi melalui VFS Global, untuk yang ini saya lakukan secara online. Ternyata, cara ini jauh lebih mudah dan keputusan visa pun saya terima dengan cepat. 

Langkah-langkah apply visa visitor Australia secara online:

1. Membuat akun ImmiAccount di situs Australian Government Department of Home Affairs di tautan berikut ini dan kemudian pilih jenis visa yang akan dibuat.

2. Setelah memilih jenis visa yang akan dibuat (saya pilih visitor visa), langsung bisa mengisi formulir aplikasi visa. Untuk pertanyaan-pertanyaanya kurang lebih sama dengan formulir kertas yang saya pernah isi saat apply lewat VFS Global, seperti tujuan ke Australia, data diri, orang yang ikut pergi dengan kita ke Australia (bila pergi bersama), keluarga yang ada di Indonesia yang tidak ikut pergi ke Australia, kontak di Australia (bila tujuannya mengunjungi keluarga), data pekerjaan, bagaimana cara kita menyokong perjalanan kita ke Australia (dana) serta deklarasi kesehatan dan karakter.  

Kalau merasa tidak memiliki waktu atau tidak ingin mengisi dalam satu waktu sekaligus, kita bisa simpan dulu formulir yang sudah diisi sebagian dan bisa dilanjutkan di waktu berbeda, yang penting catat saja akun dan password kita. Bila sudah terisi semua, kita akan diberikan review keseluruhan isian formulir sehingga bisa diedit bila ada kesalahan. 

3. Selesai isi formulir, selanjutnya adalah mengunggah dokumen penunjang, seperti paspor, KTP, KK, surat keterangan kerja, itinerary, keuangan yang menunjukkan kita mampu membiayai perjalanan ke Australia dan pas foto (latar putih) yang berukuran 35mm x 45mm. 

4. Bayar biaya visa sebesar 145AUD. Karena saya membayar dengan kartu kredit maka totalnya menjadi 146,5AUD. Setelah itu klik submit. 


Semua langkah tersebut sangat mudah dilakukan karena formulir online ini sangat user friendly. Selain itu, kelebihan lainnya adalah waktu disetujuinya visa yang tergolong sangat cepat dibanding saat mengurus visa Australia yang pertama dan kedua. Untuk pengurusan visa online ini, saya masukkan hari Minggu siang, 8 September 2019 dan sudah dapat kabar visa disetujui pada Selasa sore, 10 September 2019. Hanya 2 hari kerja saja! 

Sama seperti visa Australia yang kedua, untuk yang kali ini pun saya mendapatkan masa berlaku visa selama 3 tahun dengan multiple entries dengan durasi tinggal maksimal 90 hari. 

Untuk yang ingin apply visa Australia juga, saya sangat merekomendasikan untuk melakukannya secara online karena selain cepat dan mudah, sangat praktis untuk dilakukan. Kita nggak perlu repot untuk mencetak seluruh dokumen yang dibutuhkan serta nggak perlu menghabiskan waktu pergi ke VFS Global dan mengantri. 

Ada yang punya pengalaman apply visa visitor Australia secara online juga? Mudah kan?

Booking.com
----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Deg-degan di Pantai Telanjang di Australia
  • 8 Tip Jalan-jalan ke Jepang
  • Ketemu Komodo Mini di Pulau Macan
  • 8 Alasan Kenapa Saya Suka Banget Pulau Macan
  • Destinasi Menyelam di Indonesia, Tayang di Majalah BCA Prioritas Edisi Juli - September 2019

Newer Posts Older Posts Home

My Travel Book

My Travel Book
Baca yuk, kisah perjalanan saya di 20 negara!

My Travel Videos

Connect with Me

Total Pageviews

Categories

Amerika Serikat Australia Belanda Belgia Ceko Denmark Hong Kong Indonesia Inggris Irlandia Italia Jepang Jerman Korea Selatan Macau Malaysia Prancis Singapura Skotlandia Spanyol Thailand Vietnam

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  May (1)
      • 6 Lokasi untuk Melihat Bunga Musim Semi di Bratisl...
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2024 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2022 (6)
    • ►  October (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (19)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (51)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (10)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2018 (30)
    • ►  December (8)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (60)
    • ►  December (6)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (8)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  May (8)
    • ►  April (9)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (6)
    • ►  April (5)
    • ►  March (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (51)
    • ►  December (7)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  June (4)
    • ►  May (6)
    • ►  April (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (6)
    • ►  July (5)
    • ►  June (3)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
    • ►  February (5)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (13)
    • ►  December (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)

Search a Best Deal Hotel

Booking.com

Translate

Booking.com

FOLLOW ME @ INSTAGRAM

Most Read

About Me

Hi, I'm Yani. I have 15 years experience working in the media industry. Despite my ability to write various topics, my biggest passion is to write travel stories. By writing travel stories, I combine my two favourite things; travelling and writing. All the content in this blog are mine otherwise is stated. Feel free to contact me if you have questions or collaboration proposal :)

Contact Me

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 My Travel Stories. Created by OddThemes & VineThemes