Terbang ke Luar Negeri Tanpa Tiket Pulang? Siap-siap Diinterogasi Petugas

Foto Ilustrasi: Pexels

"Mbak, belum punya tiket pulang, ya?" tanya petugas check in Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta kepada saya pada bulan April 2017 ketika saya ingin terbang ke Melbourne. "Belum," jawab saya singkat, jantung saya yang tadinya berdetak stabil langsung terasa mengalami kenaikan. Aduh, akan kena masalahkah saya?

Lalu petugas tersebut mulai bertanya apa tujuan saya ke Melbourne dan visa apa yang saya miliki. Saya menjawab semua pertanyaannya, termasuk menjelaskan alasan kenapa saya belum punya tiket pulang.

"Soalnya banyak yang pergi ke luar negeri dengan tujuan sengaja mencari asylum," tambah sang petugas. Waduh! Saya sih, tidak pernah berpikir untuk mencari suaka ke Australia. Nggak pernah kepikiran juga untuk menjadi imigran gelap. Membayangkan konsekuensinya saja sudah bikin saya ngeri.

Alasan saya belum punya tiket pulang adalah karena saya belum tahu kapan tepatnya saya akan pulang dari Melbourne dari jangka waktu maksimum 90 hari tinggal yang diberikan berdasarkan ketentuan yang tertera di visa turis saya. Saya ingin pilihan saya tetap terbuka.

Sejujurnya saya tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan ini dari petugas Garuda Indonesia. Saya menduga kalaupun ada yang menginterogasi saya, itu harusnya datang dari petugas imigrasi di Melbourne. Tapi penjelasan sang petugas membuat saya mengerti kenapa dia harus menanyakan hal tersebut kepada saya.

Dia berkata bahwa untuk penerbangan ke luar negeri seharusnya penumpang memang memiliki tiket pulang pergi. Karena kalau sampai penumpang dideportasi begitu sampai di negara yang dituju karena tidak punya tiket pulang, pihak maskapai bisa disalahkan dan harus menanggung transportasi pulang sang penumpang.

"Mbak bisa tetap pergi tapi harus menandatangi surat pernyataan," ujar sang petugas. Inti dari surat pernyataan tersebut adalah bahwa benar saya hanya punya tiket pergi saja dan bersedia membeli tiket pulang sendiri seandainya saya dipulangkan oleh pihak imigrasi Australia.

Wah, saya langsung was-was mendengarnya. Bukan takut karena harus tanda tangan suratnya. Tapi takut kalau sampai harus dideportasi dari Australia. Saya sudah bolak-balik Australia sejak tahun 2014 dan selalu punya tiket pulang pergi ketika bepergian ke sana. Baru kali ini saya tidak punya tiket pulang. Saya pun cemas. Kan nggak lucu kalau saya dideportasi. Bisa rusak catatan bersih saya.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket pulang. Saya pun bertanya kepada petugas counter pembelian tiket Garuda Indonesia yang tidak jauh dari counter check in. Setelah tanya-tanya ternyata harga tiketnya mahal banget. Di kisaran 6 sampai 7 juta untuk periode penerbangan Juni – Juli 2017. Aduh!

Saya pun batal membeli tiket Garuda Indonesia dan memilih menandatangi surat pernyataan yang memang sudah ada template-nya. Sang petugas juga meminta saya mengisi alamat yang jadi tujuan saya di Australia dan memotret paspor saya. Mungkin karena melihat wajah saya yang panik, dia berkata, "Ini bukan apa-apa kok, Mbak. Cuma prosedur saja agar kami tidak disalahkan kalau sampai Mbak dipulangkan."

Saya hanya tersenyum melihat usaha petugas tersebut menenangkan saya. Tapi dia tidak tahu yang saya khawatirkan bukan perkara surat yang saya tanda tangani tersebut, justru kalimat "kalau mbak dipulangkan" itu yang membuat saya deg-degan.

Pergi dari counter check in, saya berusaha mencari tiket pesawat melalui telepon genggam saya. Namun karena koneksi internetnya sungguh membuat saya hilang kesabaran, akhirnya saya putuskan untuk menelepon dan meminta pertolongan teman baik saya Stacey.

Stacey langsung membuka laptopnya dari rumahnya dan mencarikan saya tiket saat itu juga. Ketika saya sedang mengantri di pemeriksaan menuju ruang tunggu pesawat, dia menelpon saya dan meminta saya untuk melihat beberapa image screen shot yang dia kirimkan ke telepon genggam saya.

Saya melihat image-image screenshot dari hasil pencariannya di situs Traveloka. Di situ tertera berbagai pilihan maskapai lengkap dengan jam penerbangan dan harganya untuk beberapa tanggal yang berbeda. Ini salah satu alasannya kenapa saya dan Stacey suka membeli tiket pesawat di Traveloka. Selain sering ada promo, mereka punya fitur best price finder yang memberikan perbandingan harga dari berbagai maskapai. Bahkan mereka menampilkan harga termurah bukan hanya di tanggal yang kita pilih saja namun juga di beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal pilihan kita. Jadi mudah untuk mendapatkan harga tiket pesawat terbaik di periode waktu yang kita inginkan.

Setelah saya menimbang-nimbang antara tanggal perjalanan, maskapai, waktu transit, dan harga, saya memilih tiket AirAsia untuk tanggal kepulangan di bulan Juni. Mendapat balasan dari saya, Stacey langsung bergerak cepat mengurus semuanya.

Saat akhirnya saya mencapai ruang tunggu Stacey mengabarkan bahwa ia sudah berhasil membeli tiket tersebut. Tapi saya tidak bisa langsung tenang karena e-ticket-nya belum masuk ke email saya.

"Maksimum satu jam," kata Stacey. Aduh, kalau sampai menunggu satu jam, saya sudah masuk pesawat. Saya inginnya sudah menerima e-ticket tersebut dan mengunduhnya sebelum saya terbang. Jadi saya bisa bobok dengan tenang di pesawat dan mendarat di Melbourne tanpa beban.

Menit demi menit kami menunggu. Kok email nggak masuk juga. Sampai akhirnya petugas memberi tahu sudah waktunya untuk boarding, telepon genggam saya bergetar. E-ticket saya masuk ke email. Alhamdulillaaaaaah. E-ticket saya terima dalam waktu kurang dari 15 menit. Rasa panik hilang. Saya pun tenang. Terima kasih Stacey :)

Sampai di imigrasi Melbourne mereka tidak menanyakan tiket pulang saya. Sama seperti sebelum-sebelumnya saat masuk Australia (selain Melbourne, saya pernah mendarat di Sydney dan Perth), saya tidak pernah ditanyakan tiket pulang. Tapi saya sama sekali tidak menyesal sudah membeli tiket pulang di menit-menit terakhir menuju penerbangan.

Bahkan saya berterima kasih telah ‘diinterogasi’ oleh petugas check in Garuda Indonesia. Karena kita tidak pernah tahu kan, kalau tiba-tiba ada random check. 'Diinterogasi' pihak Garuda Indonesia saja sudah bikin saya deg-degan. Apalagi kalau sampai kejadian diinterogasi pihak imigrasi Melbourne. Ih membayangkannya saja sudah seram.

Ini mungkin akan menjadi pengalaman pertama dan terakhir saya untuk membeli tiket satu arah ketika jalan-jalan ke luar negeri. Nggak lagi-lagi, deh. Deg-degannya itu lho, nggak tahan. Berasa kayak ikutan Amazing Race. Hahahaha...

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:

Share:

0 komentar