My Travel Stories

Lots of memories I can't keep, that's why I write.

Powered by Blogger.
  • Home
  • Indonesia
  • Asia
  • Australia
  • Eropa
  • Amerika
  • Travel Tips
  • Itinerary
  • Portfolio
"Traveling lebih mudah karena kamu dan teman-temanmu perempuan-perempuan cantik," seseorang pernah melontarkan kalimat tersebut kepada saya. Benarkah demikian? 

Selama pengalaman traveling saya ke beberapa tempat di beberapa negara, saya merasa selalu mendapatkan kemudahan. Bukan berarti saya tidak pernah menemukan kesulitan. Tapi kesulitan itu selalu berakhir dengan bantuan orang-orang sekitar saya saat itu. Baik dari sesama traveler maupun dari penduduk lokal.

Contohnya aja, saya dan kedua teman perempuan saya pernah tersasar saat menjelajah Paris dan Barcelona. Tersasar tengah malam di tempat yang benar-benar asing benar-benar pengalaman yang cukup menakutkan. Untungnya kami diselamatkan oleh orang-orang lokal yang luar biasa baik.

Pernah juga saya dan keempat teman perempuan saya bingung arah mana yang harus diambil ketika kami berada di kota Ho Chi Minh, Vietnam. Waktu itu seorang bapak melihat kami kebingungan di tengah jalan, tidak tahu harus ke arah mana. Dia pun menghampiri kami dan dengan bahasa isyarat seolah menanyakan ke kami kemana tujuan kami. Dengan bahasa isyarat pula kami menunjukkan peta ke mana tujuan kami. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan kami tidak bisa bahasa Vietnam. 

Namun niat bapak itu untuk membantu kami, sungguh membuat saya merasa lucu dan terharu di saat yang bersamaan. Lucu karena kami berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Terharu karena kendala bahasa sama sekali tidak menghalangi niat baik dia kepada saya dan teman-teman saya. Berkat arahan isyaratnya, saya dan teman-teman sukses menemukan tempat bus yang kami cari.

Saya dan teman-teman saya sampai di VungTau, Vietnam setelah mendapat petunjuk arah dari bapak yang baik hati tersebut.

Ah, kalau ditulis satu per satu banyak sekali bantuan yang saya dapatkan ketika traveling. Bantuan dibawakan koper di berbagai kota di Eropa, dibantu berdiri ketika terpeleset di Korea Selatan atau sekedar dibantu untuk diambilkan foto. Rasanya tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menyukuri tiap perjalanan yang saya lakukan karena saya merasa selalu dipertemukan dengan orang-orang baik.

Namun orang terdekat saya bilang bahwa saya dan teman-teman saya mudah mendapatkan bantuan-bantuan tersebut karena kami perempuan. Apalagi menurutnya kami ini perempuan-perempuan cantik. "Siapapun mau membantu perempuan-perempuan cantik," tambahnya.

Sejujurnya saya tidak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap pernyataan tersebut. Senang karena dianggap cantik atau marah karena pernyataan tersebut sexist. Namun saya tahu pasti saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Karena berdasarkan pengalaman saya, orang-orang tersebut tulus saat memberikan bantuan. Tapi saya mulai meragukan pemikiran saya ketika saya melakukan perjalanan kedua saya ke Melbourne pada Mei 2015 lalu.

Saat itu saya sedang berada di area Flinders Street Station, tepatnya di Elizabeth Street. Tujuan saya adalah ingin ke Queen Victoria Market. Saya tahu saya harus naik tram untuk menuju ke tempat tersebut. Tapi untuk memastikan tram mana yang harus saya naiki, saya pun bertanya kepada seorang pria yang sedang merokok di halte tram. 

"Oh semua tram yang ada di sini akan melewati Queen Victoria Market, jadi kamu bisa naik yang mana pun," jelasnya.

Saya pun akhirnya naik tram yang ada di depan saya tersebut. Duduk di kursi paling depan. Dengan tujuan bisa bertanya kepada driver tram. Siapa sangka pria yang tadi saya tanya ternyata adalah driver tram tersebut. Saat naik ke kursi kemudi, dia melihat ke arah saya. Saya langsung bersyukur karena logikanya dia akan memberitahu saya halte di mana saya harus turun.

Dugaan saya benar, di tengah perjalanan, dia menengok ke arah saya dan berkata (tanpa pengeras suara), "Queen Victoria Market," sambil memberi tanda kepada saya untuk berdiri. Saya pun otomatis berdiri dan mendekat ke arah pintu yang juga dekat dengan tempat dia mengemudi. Lalu kurang lebih terjadilah percakapan seperti ini:

Driver tram: "Kamu berasal dari mana?"
Saya: "Indonesia"
Driver tram: "Sudah berapa hari di sini?"
Saya: "Beberapa hari"
Driver tram: "Wajahmu cantik"
Saya: (Kaget karena tidak menduga akan mendapat kalimat seperti itu, saya pun hanya tersenyum)
Driver tram: "Mau minum kopi nggak?"
Saya: "Nggak terima kasih" (Berusaha menyembunyikan wajah kaget saya)
Driver tram: "Kenapa nggak?"
Saya: "Saya nggak lama di sini. Sebentar lagi pulang"
Driver tram: "Makanya minum kopinya nanti sore."
Saya: "Nggak terima kasih" (Sambil berdoa semoga segera sampai ke halte Queen Victoria Market. Saat itu, tram terasa berjalan lambat).
Driver tram: "Nggak apa-apa. Catat nomor telepon aku ya?"
Saya: (Saya rasanya ingin lompat dari tram saat itu juga. Damn! Mana sih, Queen Victoria Market?)
Driver tram: "Telepon aku dan kita bisa pergi selesai aku kerja"
Saya: "Terima kasih" (Akhirnya tram sampai juga dan saya turun tanpa menoleh lagi ke arahnya)

Ketika mengalami ini saya tiba-tiba teringat kalimat: "siapapun mau membantu perempuan-perempuan cantik."

Benarkah? Ada yang pernah mengalami seperti yang saya alami?

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Tip Hemat Jalan-jalan di Melbourne, Australia
  • Nonton di Bioskop dengan Layar Terbesar ke-3 di Dunia
  • Backstreet Boys, Konser Luar Negeri Pertama
  • Tim Sepak Bola Warisan Keluarga

Melbourne bukan lah kota murah namun bila kita bisa menyiasatinya dengan baik, jalan-jalan hemat di kota ini bisa juga, lho. Setidaknya saya sudah mencobanya selama dua kali mengunjungi kota ini di bulan November 2014 dan Mei 2015. Berikut beberapa trik yang bisa dicoba.

1. Pilih penginapan di pusat kota. Letak penginapan sangat mempengaruhi biaya transportasi. Karena itu, bila memang tujuan kita adalah jalan-jalan di pusat kota maka pilih lah penginapan di pusat kota, sehingga dekat untuk pergi kemana-mana. Bisa jalan kaki atau naik tram gratisan. Kalaupun mau agak minggir sedikit, area Southbank masih oke. Saya sempat menginap di area sini. Tidak terlalu ramai namun masih bisa jalan kaki ke pusat kota.

2. Kunjungi tempat-tempat wisata gratis. Melbourne punya banyak tempat wisata gratis. Dari museum, taman, perpustakaan atau public space yang nyaman untuk menghabiskan waktu kala kaki sudah capek karena keliling-keliling. Untuk tempat wisata gratis di Melbourne bisa dilihat di sini dan sini.

3. Keliling kota dengan City Circle Tram. Tram gratis yang menjadi salah satu ikon kota Melbourne ini akan membawa kita keliling kota. Serunya, tram ini akan berhenti di tempat-tempat yang memang jadi tujuan wisata. Kalau pun tidak persis berhenti di depannya, kita hanya perlu jalan sedikit menuju tempat wisata tersebut. Di dalam tram juga selalu ada penjelasan dan sejarah mengenai tiap tempat wisata yang dilewati. Jadi kalau clueless mau kemana saat di Melbourne, tinggal naik aja tram ini dan turun di tempat wisata yang sekiranya kita anggap menarik.

City Circle Tram ini sendiri bagian dari wisata yang harus dicoba

4. Naik tram gratisan. Selain City Circle Tram yang memang khusus wisatawan, tram umum juga gratisan, lho. Tapi hanya untuk area city centre atau pusat kota saja. Jadi bila kita naik atau turun tram dari atau di area pusat kota, kita tidak harus bayar. Lalu bagaimana kita tahu apakah area tersebut termasuk pusat kota atau bukan? Perhatikan papan pemberitahuan di halte. Untuk yang gratisan akan tertulis: “Free Tram Zone.” Atau ambil brosur "Free Tram Zone" yang ada di dalam tram. Di brosur itu tertera halte-halte dengan "Free Tram Zone". Bila kita naik atau turun bukan di area pusat kota, maka tiap kali naik tram kita harus men-tap kartu myki. Jadi kita harus membuat kartu myki terlebih dahulu karena mereka tidak menerima pembayaran dengan uang cash.

5. Manfaatkan free wi-fi. Daripada menggunakan paket internet dari provider Indonesia yang harganya luar biasa mahal, lebih baik pergunakan free wi-fi selama di Melbourne. Arts Centre Melbourne, State Library of Victoria dan bioskop Imax adalah beberapa di antaranya yang menyediakan free wi-fi dan koneksinya cukup baik.

6. Bawa botol air. Air dalam kemasan dijual dengan harga rata-rata 2 AUD. Dalam sehari saya butuh sekitar 3 botol air dalam kemasan. Itu berarti kalau saya beli saya akan menghabiskan 6 AUD atau 60 ribu rupiah (bila kursnya dihitung 10 ribu rupiah per 1 AUD) untuk air minum saja. Nah, kalau membawa botol air, saya bisa isi air dari penginapan. Lalu nanti tinggal isi ulang dari kran air yang ditemui. Di Melbourne cukup aman untuk minum langsung dari kran air atau mereka menyebutnya tap water.

7. Pesan tap water. Seperti yang sudah saya bilang di atas bahwa minum dari tap water cukup aman. Jadi kalau makan di restoran, bilang aja minumnya mau tap water. Saat saya makan makanan Vietnam di Mekong Restaurant yang ada di Swanston Street saya bilang saya mau air putih, lalu pelayannya bertanya, “tap water?” dan saya pun mengiyakan. Lumayan tidak perlu bayar untuk minum karena tap water ini gratis.

8. Gunakan kupon diskon. Mampir deh, ke Melbourne Visitor Centre yang terletak di depan Flinders Station. Selain menyediakan informasi lengkap tentang wisata di Melbourne dan sekitaran kota Melbourne (termasuk bisa untuk booking paket wisata juga), di sini tersedia buku Official Visitor Guide for free. Buku ini selalu update sesuai musim. Saat ke sana di bulan Mei lalu, saya mendapatkan Melbourne in Autumn Official Visitor Guide yang berisi event-event seru di musim gugur (autumn) 2015. Nah, di buku ini terdapat kupon-kupon potongan harga. Baik potongan harga untuk tempat wisata, tur maupun pertunjukan.

9. Belanja oleh-oleh di Queen Victoria Market. Beli merchandise seperti magnet, t-shirt, gantungan kunci dan sebagainya jauh lebih murah di Queen Victoria Market daripada di toko-toko souvenir yang ada di pusat kota atau di Melbourne Visitor Centre. Tapi tentunya barang-barangnya produksi China ya. Meskipun begitu, hitungannya tetap saja lebih murah daripada barang produksi yang sama di toko-toko souvenir di pusat kota.  

----------@yanilauwoie----------


Booking.com
Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Nonton di Bioskop dengan Layar Terbesar ke-3 di Dunia
  • Backstreet Boys, Konser Luar Negeri Pertama
  • Tim Sepak Bola Warisan Keluarga
  • 3 Makanan Terlezat di 3 Negara
 
Dari sekian negara yang sudah saya kunjungi, baru di Australia lah saya sempat menonton film di bioskop. Beruntungnya saya karena bioskop yang saya tonton memiliki layar yang super besar. Ini adalah layar bioskop terbesar ke-3 di dunia.




Bioskop ini bernama Imax Melbourne, berlokasi di Melbourne Museum, Rathdowne Street, Carlton, Melbourne, Victoria. Dari pintu masuk, saya langsung disambut oleh eskalator yang lumayan panjang. Eskalator tersebut bukan untuk naik ke atas melainkan turun ke bawah. Yap, ini mengesankan bioskop ini terletak di bawah tanah. 

Tidak jauh di depan eskalator terdapat counter penjual aneka snack. Mulai dari popcorn, soft drink dan es krim dijual di sini. Di dekatnya tersedia beberapa sofa untuk penonton yang menunggu jam putar film.

Di sebelah counter snack, ada counter penjualan tiket. Mereka menjual tiket on the spot namun membuka juga untuk yang mau beli online. Kalau yang membeli online bisa membawa bukti print-an pembelian tiket atau kalau tidak sempat nge-print, hanya perlu menunjukkan email pembelian tiket dan nanti petugas akan mencetakkan tiket. Opsi terakhir yang saya dan Trav lakukan ketika kami akan menonton film Interstellar pada November 2014 lalu.

Menonton film yang berbau science di negara yang berbahasa Inggris tampaknya bukan ide bagus untuk saya. Pasalnya tanpa adanya sub-title, banyak dialog-dialog yang syarat ilmu pengetahuan sukses membuat saya bengong. I understand what the whole movie about but not every single sentence. Begitu Trav membahas adegan per adegan setelah nonton film tersebut, kelar lah saya. Hahahaha...

Film kedua saya, Avenger: Age of Ultron pada Mei 2015 lebih saya pahami dibandingkan Interstellar. Meskipun saya yakin kalau nontonnya film drama romantis atau drama komedi, saya akan jauh lebih paham. Ya intinya film yang menggunakan percakapan sehari-hari deh. Tanpa perlu ada istilah-istilah ilmiah yang dalam bahasa Indonesia aja kadang membuat bingung ;p

Lalu gimana di dalam theater-nya sendiri? Well, nggak salah memang mereka memakai jargon layar bioskop terbesar ke-3 di dunia karena belum pernah seumur hidup saya menonton dengan layar sebesar itu. Menurut situs resmi Imax layar tersebut memilik lebar 32 meter dan tinggi 23 meter. Huge! 

Tapi jangan harapkan kursinya jadi lebih lebar dibandingkan kursi bioskop di Indonesia. Justru bila dibandingkan dengan kursi bioskop di Indonesia, kursi di sana terbilang kecil. Sebagai perbandingan, kalau nonton di XXI atau Blitzmegaplex, saya bisa duduk dan menyelipkan tas saya di kursi. Di Imax tidak bisa. Kursi hanya pas untuk saya duduki. Ini membuat saya merasa sangat dekat dengan siapun yang berada di sebelah saya. Dempet banget!

Selain itu, jarak antara deretan kursi juga tidak terlalu lebar. Jadi seandainya datang telat atau ingin keluar pipis di tengah film akan repot banget. Apalagi kalau duduknya di tengah, karena di Imax jalur ke luar masuk hanya ada di masing-masing ujung kursi. Eh saya tidak tahu sih, apakah seluruh theater-nya sama seperti ini. Tapi di dua theater yang saya masuki bentuknya seperti itu.

Namun secara keseluruhan nonton di sini merupakan pengalaman yang cukup menyenangkan. Tempatnya rapi, teratur, dan toiletnya bersih. Selain itu, di sini juga ada free wifi. Pernah, ketika sedang berjalan-jalan di area ini, saya mampir ke Imax cuma untuk numpang pipis dan dapat koneksi internet. Lumayan gratis ;p

Find me at:
LINE: @psl7703h
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie


YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • Backstreet Boys, Konser Luar Negeri Pertama
  • Tim Sepak Bola Warisan Keluarga
  • 3 Makanan Terlezat di 3 Negara
  • Roma, Italia Publish di Majalah GADIS No.21/2015
"Ikuti terus sungai ini, nanti akan sampai di Rod Laver Arena. Nanti pasti banyak orang yang jalan kaki menuju ke sana, ikuti aja arus orang-orang tersebut," ucap Trav saat melepas saya di tepi Sungai Yarra.

Malam itu, 8 Mei 2015, Trav dan saya punya agenda yang berbeda. Dia menonton pertandingan sepak bola Australia dengan ayahnya sementara saya menonton konser Backstreet Boys (BSB) yang digelar di Rod Laver Arena, Melbourne. Karena itu kami memutuskan berpisah di tepi sungai Yarra. 

Saya sebenarnya bukan penggemar berat BSB. Bahkan saat masa remaja dulu saya pernah beradu argumen dengan sepupu saya, Yuni mengenai siapa boyband terbaik. Dia tim pembela BSB sementara saya fans berat Boyzone. Tapi saya akui ada beberapa lagu BSB yang cukup saya nikmati.

"BSB yang ada Ronan Keatingnya, kan?" Trav sempat bertanya dengan polos. Dengan geregetan saya jelaskan bahwa Ronan Keating itu anggota Boyzone dan bukan BSB. "Lalu kenapa kamu nonton BSB? Bukannya sukanya sama Boyzone?" lanjut Trav bingung. 

"Aku belum pernah menonton konser di luar negeri. Jadi ingin tahu gimana suasana konser di sini," jawab saya. Yap alasan utama saya menonton konser BSB di Melbourne bukan semata-mata saya suka beberapa lagu mereka. Tapi demi mewujudkan salah satu impian menonton konser di luar negeri. 

Saya penyuka musik dan sudah menonton banyak konser musisi nasional dan internasional di Indonesia. Tapi saya belum pernah menonton konser di luar Indonesia. Karena itu saat tahu BSB menggelar konser dengan jadwal yang sama dengan jadwal saya jalan-jalan di Melbourne maka saya pun tidak mau melewatkan kesempatan tersebut.

Setelah menyusuri Sungai Yarra, saya akhirnya sampai di lokasi konser. Perasaan semangat langsung memenuhi saya. Di pintu gerbang, ada petugas yang memeriksa tas para penonton. Sama seperti di Indonesia, tidak boleh membawa makanan dan minuman masuk ke lokasi konser. Orang-orang pun menghabiskan minumannya dan membuang botol minumannya di tong sampah. Ada juga yang meninggalkan minumannya di meja-meja di depan para penjaga. 

Lepas dari penjaga yang memeriksa tas, dilanjutkan dengan pemeriksaan tiket. Saya hanya perlu men-tap tiket saya pada mesin yang tersedia baru saya bisa masuk melewati palang besi. Persis seperti mesin pemeriksaan tiket saat mau naik Trans Jakarta. Selanjutnya setelah melewati palang besi tersebut saya sampai di dalam ruangan. Tapi belum ruangan konser diadakan, melainkan baru di lobinya. 


Lobinya cantik

Lantai lobinya beralas karpet dan di sekeliling lobi banyak penjual makanan. Mulai dari snack seperti keripik sampai yang agak berat seperti hot dog tersedia di sini. Minumannya juga beraneka ragam, dari soda sampai minuman beralkohol seperti wine tersedia. Selain itu ada juga merchandise BSB yang diperdagangkan.

Ketika masuk ke dalam ruangan konser ada petugas yang membantu di mana lokasi saya duduk. Tiap orang harus duduk di kursi yang ditentukan sesuai yang tertera di tiket. Arena yang bisa menampung 15 ribu orang ini tidak menyediakan untuk penonton berdiri.

Ketika saya sampai di tempat duduk saya, kursi-kursi di sekitar saya masih kosong. Saya memperhatikan di depan kursi saya alias belakang kursi penonton depan saya tersedia tempat untuk menyimpan minuman. Lubang layaknya tempat minuman di kursi bioskop.

Saya tadinya berasumsi konser ini tidak sold out. Tapi satu persatu orang berdatangan. Mereka membawa makanan dan minuman yang tentunya dibeli di lobi. Saya sempat melotot saat ada seorang wanita yang mencari kursinya sambil membawa gelas kristal (ya mungkin bukan kristal asli) dengan isi minuman merah gelap yang saya duga wine. Ini jelas pemandangan yang tidak pernah saya temui saat menonton konser. Bukan perihal minuman beralkoholnya namun gelasnya yang seperti untuk makan malam formal.


Penuuuuh

Setelah penampilan opening act grup wanita yang terdiri dari 4 orang wanita yang berasal dari Texas, Amerika Serikat, arena konser nyaris penuh dan benar-benar penuh saat BSB mulai tampil pukul 20.43.

Tidak saya sangka saya sangat menikmati aksi mereka selama 2 jam penuh. Bukan hanya berhasil membawa memori masa remaja kembali dengan lagu-lagu As Long As You Love Me, I'll Never Break Your Heart dan favorit saya, Quit Playing Game With My Heart. Cara mereka berinteraksi dengan penonton dan beraksi di atas panggung juga benar-benar total. Terlintas di benak saya, seandainya saja Yuni ada di sini. Tentu dia akan sangat kegirangan melihat idolanya belum kehilangan pesonanya.


Dengan umur yang tidak muda lagi, mereka tetap lincah nge-dance

Hidup memang lucu, saya yang berharap konser pertama luar negeri yang saya tonton adalah Boyzone di Dublin, Irlandia, malah menjadi BSB di Melbourne, Australia. But it really was a good concert.

Oh satu lagi yang harus saya ceritakan adalah saat konser usai dan saya menuju keluar, saya melihat gerombolan wanita yang merapat di pagar pembatas dan sedang memandang ke bawah. Kepo, saya ikut mendekat dan ternyata di lantai bawah para personel BSB sedang berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka. 

Teriakan-teriakan para wanita memanggil nama para personel BSB pun terdengar. Apalagi saat para personel itu menoleh ke atas dan melambaikan tangannya, jeritan kembali terdengar. Jeritan baru reda ketika mobil-mobil hitam yang membawa BSB jalan dan menghilang dari pandangan.

Benar-benar pengalaman nonton konser yang seru. What a night :)

Find me at:
LINE: @psl7703h
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie


YouTube: yanilauwoie


Blog Sebelumnya:
  • Tim Sepak Bola Warisan Keluarga
  • 3 Makanan Terlezat di 3 Negara
  • Roma, Italia Publish di Majalah GADIS No.21/2015
  • 13 Tempat Wisata Gratis di Melbourne, Australia (Part 2)
  • 13 Tempat Wisata Gratis di Melbourne, Australia (Part 1)
Suatu siang di bulan Mei, saya dan Trav bergegas naik tram menuju Melbourne Cricket Ground (MCG). Kami ingin nonton pertandingan sepak bola Australia. 

Saya sebenarnya bukan penggemar sepak bola. Apalagi sepak bola Australia yang cara mainnya berbeda dengan sepak bola Indonesia atau Eropa, mana saya ngerti? Hari itu pun tim yang bermain bukan tim favorit Trav. Jadi sebenarnya tidak ada keharusan bagi kami untuk hadir di MCG. 

Namun saya penasaran ingin tahu bagaimana stadion terbesar di Australia dan no. 12 terbesar di dunia ini. Sedangkan Trav, selaku warga Australia yang bangga dengan negaranya selalu ingin menunjukkan sesuatu kepada saya. Alhasil di hari terakhir kunjungan saya di Melbourne, saya dan Trav nonton pertandingan yang tidak kami rencanakan sebelumnya.

Saat di tram, saya sempat memperhatikan 4 orang yang saya duga adalah 1 keluarga. Mereka terdiri dari pasangan muda serta 2 anak mereka yang terdiri dari perempuan (si kakak) dan laki-laki (si adik). Si kakak yang rambut pirangnya dikuncir kuda memakai slayer yang warnanya senada dengan bajunya, kuning kecokelatan. Saya melirik si adik yang juga memakai slayer dan baju yang sama. Kemudian setelah melihat kedua orangtuanya yang juga memakai seragam yang sama, saya yakin mereka pendukung salah satu tim yang akan kami tonton. 

"Mereka pendukung tim Hawtorn. Warnanya bukan kuning cokelat tapi warna seperti kotoran manusia," jawab Trav sambil nyengir ketika saya menanyakan kepadanya kira-kira keluarga ini pendukung tim mana. 

Saya melihat tram dipenuhi warna kuning cokelat dibanding merah yang menjadi simbol tim lawan, yaitu tim Melbourne. "Para pendukung tim Melbourne terkenal lebih suka liburan daripada mendukung tim sepak bolanya," tambah Trav.

Selanjutnya Trav bilang bahwa Hawtorn adalah juara Australian Football League (AFL) tahun lalu. "Tahun 2008, Hawtorn pernah berada di final bareng Geelong. Hawtorn menang dan mempermalukan Geelong. Karena itu aku harap pertandingan ini Melbourne yang menang dan bukan Hawtorn," cerocos Trav.

Hmm.. Saya langsung mengerti kenapa Trav bilang warna Hawtorn seperti kotoran manusia. Rupanya dia bete dengan tim yang pernah mengalahkan tim favoritnya tersebut. Trav pendukung fanatik tim Geelong. "Aku jadi penggemar Geelong selama aku hidup," jelas Trav. Tentu saja yang mengenalkan tim ini kepadanya adalah ayah Trav yang memang berasal dari Geelong (sekitar 1 jam dari Melbourne).


Stadion MCG ini sungguh besar dan bagus


Sesampainya di MCG saya melihat banyak orangtua yang datang bersama anak-anak mereka. Di deretan kursi depan saya sisi kanannya diisi oleh 2 orang bapak-bapak dengan 2 anak laki-laki berusia sekitar 4-5 tahun. Sementara di sisi kirinya, ada seorang Ibu membawa 1 orang anak laki-laki berusia tidak jauh berbeda. Melihat seragam yang dikenakannya mereka adalah pendukung tim Hawtorn yang hari itu memenangkan pertandingan.

Mungkin anak-anak tersebut dan kakak-beradik yang ada di tram akan tumbuh besar seperti Trav yang menyukai tim sepak bola karena warisan orangtuanya. Sama seperti Trav yang mulai mewariskan juga kepada anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun untuk suka kepada Geelong. 

Kemarin malam saya mengobrol dengan mereka berdua lewat video call. Trav bercerita bahwa mereka dan ayah Trav baru saja pulang nonton pertandingan sepak bola di mana Geelong bermain. Keduanya sedih karena Geelong kalah lagi dari Hawtorn. Namun dengan mata berbinar-binar mereka menyanyikan lagu anthem tim Geelong kepada saya. Saat itu saya yakin, ikatan yang dihadirkan lewat sepak bola tersebut akan selalu menyatukan mereka sampai kapan pun :)



----------@yanilauwoie----------

Find me at:
LINE: @psl7703h
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie


YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • 3 Makanan Terlezat di 3 Negara
  • Roma, Italia Publish di Majalah GADIS No.21/2015
  • 13 Tempat Wisata Gratis di Melbourne, Australia (Part 2)
  • 13 Tempat Wisata Gratis di Melbourne, Australia (Part 1)
Saya bukan ahli kuliner. Bukan juga pengejar makanan tertentu saat traveling ke suatu tempat. Namun tiga makanan yang saya nikmati saat sedang liburan beberapa waktu lalu, tidak bisa hilang dari rekam jejak lidah saya. Setelah jalan-jalan ke 12 negara, tiga makanan di tiga negara ini saya nobatkan sebagai makanan terlezat yang pernah saya cicipi saat traveling.

1. Pizza di Roma, Italia 


Bawang merah mentah meninggalkan after taste yang sungguh membuat lidah saya tidak nyaman. Karena itu saya kurang menyukainya. Namun itu berubah ketika saya makan pizza di Restoran La Famiglia yang berada di Via Gaeta, 66, 00185, Roma pada tahun 2013 lalu. Saat itu saya memesan pizza dengan campuran mozzarella cheese, tomat, tuna dan bawang merah. Ketika pelayan menyajikan pizza tersebut, saya sempat kaget, tidak menduga bahwa bawang merahnya adalah bawang merah mentah. Sempat ragu untuk memakannya dan tidak yakin pula bisa menghabiskannya karena ukurannya yang besar. Namun kenyataannya saya tidak bisa berhenti makan sampai potongan akhir. Tunanya sangat enak, kejunya terasa pas tidak berlebihan, bahkan si bawang merah yang tidak saya sukai itu sukses melengkapi kelezatan pizza tersebut. Belum pernah saya menghabiskan pizza berukuran besar sendirian. Sempat terpikir mungkin ketipisan pizza ini yang membuat saya tidak gampang kenyang tapi saya sangat yakin, itu bukan penyebab utamanya. Alasan kuatnya adalah kelezatan rasa pizza itu yang membuat saya terus mengunyah sampai akhir. Benar-benar pizza terenak yang pernah mampir di lidah saya.

2. Kebab di Berlin, Jerman 


Saat melakukan EuroTrip pada tahun 2013 lalu, saya sempat makan kebab di tiga kota dari tiga negara berbeda, yaitu di Berlin, Jerman, Barcelona, Spanyol dan Dublin, Irlandia. Paling tidak enak adalah kebab yang saya makan di Dublin. Bukan saja karena rasanya yang menurut saya aneh namun kebab ini juga membuat perut saya sakit. Sedangkan kebab terlezat yang saya makan adalah yang di Berlin. Nama kebabnya Doner in Teigrolle di OBA Cafe Restaurant, dekat tempat wisata Checkpoint Charlie, Berlin. Sayurnya segar, daging sapinya banyak dan paduan bumbunya sangat terasa. Untuk lidah saya yang sangat terbiasa dengan bumbu, kebab ini sungguh nikmat. Saking nikmatnya saya sampai bisa menghabiskan kebab yang bagi saya porsinya ini sangat jumbo. Satu hal lagi yang saya suka dari kebab ini adalah membuat saya merasa guilty free karena halal :)

3. Cheesecake di Great Ocean Road, Australia


"Life is uncertain. Eat dessert first." -Ernestine Ulmer. Quote tersebut pas banget dengan kondisi saya saat itu (tahun 2014). Ketika sudah menghabiskan waktu cukup lama berkendara dari Melbourne, saya tidak tahu kapan tepatnya akan sampai di kawasan wisata Twelve Apostles. Untung saja, saya dan rekan seperjalanan saya, Trav memutuskan untuk istirahat dulu. Kami mampir di Apollo Bay Hotel, kawasan Great Ocean Road. Di hotel tersebut saya menemukan dessert bernama Macamedia Cheesecake. Tidak ada yang merekomendasikan dessert tersebut. Saya pun memesannya karena saya penyuka keju dan sudah sering makan cheesecake dari beberapa kafe atau cake shop di Jakarta. Namun belum pernah saya merasakan cheesecake selezat itu dalam hidup saya. Lembutnya cake berpadu dengan gurih asin keju serta krim yang memiliki tingkat kemanisan pas, membuat lidah saya tidak bisa berhenti sampai suapan terakhir. Bahkan ketika saya menuliskan ini pun, air liur saya menetes. Literary the best cheesecake I ever ate so far!  

Find me at:
LINE: @psl7703h
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie


YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • Roma, Italia Publish di Majalah GADIS No.21/2015
  • 13 Tempat Wisata Gratis di Melbourne, Australia (Part 2)
  • 13 Tempat Wisata Gratis di Melbourne, Australia (Part 1)
  • Sydney, Australia Publish di Majalah GADIS No. 20/2015 
Saya tidak menjelajah seluruh Roma saat di sana. Tapi apa yang saya tuliskan di majalah GADIS edisi terbaru, edar 4 Agustus 2015 adalah yang wajib didatangi saat berkunjung ke sana :)





Find me at:
LINE: @psl7703h
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie

YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • 13 Tempat Wisata Gratis di Melbourne, Australia (Part 2)
  • 13 Tempat Wisata Gratis di Melbourne, Australia (Part 1)
  • Sydney, Australia Publish di Majalah GADIS No. 20/2015 
  • Penguin Parade, Phillip Island Publish di Majalah Reader's Digest Indonesia Edisi Juli 2015 

Saya dua kali mengunjungi Melbourne, Australia. Bulan November, 2014 dan Mei 2015. Ada banyak tempat menarik yang bisa didatangi di ibukota negara bagian Victoria, Australia ini. Serunya, banyak yang bisa dikunjungi tanpa membayar. Berikut 13 tempat yang bisa dikunjungi secara gratis di Melbourne.

Klik di sini, untuk tempat wisata gratis di Melbourne no. 1 - 6. 

7. Hosier Lane
Melbourne terkenal dengan gang-gangnya yang artistik. Kenapa? Karena banyak gang di sini dihias dengan coretan graffiti. Salah satunya adalah Hosier Lane yang berada di sebrang Atrium (Federation Square). Coretan graffiti memenuhi tembok dan bahkan rolling door yang ada di sini.  

8. Town Hall
Bangunan yang berada di sudut antara Swanston dan Collin Street ini sudah digunakan sejak tahun 1870. Selain digunakan untuk berbagai acara pemerintahan, tempat ini juga disewakan untuk kepentingan konser, pameran dan pernikahan. Menurut situs ini kita juga bisa ikutan free tour untuk tahu lebih jauh tentang Town Hall. Namun sayang saat ke sana saya nggak ikutan free tour ini. Cukup foto-foto di luar saja :)

 Town Hall dihias untuk perayaan Natal.

9. H&M Store
Kalau belanja di sini tentu mengeluarkan uang ;p Tapi nggak perlu bayar kalau ingin memotret salah satu bangunan bersejarah yang terletak di sudut antara Elizabeth dan Bourke Street ini. Dulunya gedung ini merupakan General Post Office (GPO) yang mulai dibangun pada 1859. Namun kini sudah beralih fungsi menjadi salah satu shopping centre.

10. Royal Arcade
Tempat yang tidak jauh dari H&M Store ini juga merupakan salah satu shopping centre. Tapi tanpa perlu belanja di sini, saya bisa menikmati kecantikan arsitektur tempat ini. Terutama jam yang diapit oleh patung Gog dan Magog yang berada di sini, cantik sekali untuk difoto. Bangunan yang menghubungkan antara Bourke, Little Collin dan Elizabeth Street ini dibangun pada tahun 1869 - 1870 oleh arsitek Charles Webb.  

11. State Library of Victoria
Saya bukan pecinta perpustakaan tapi saya sungguh jatuh hati dengan tempat ini. Ini adalah perpustakaan terbesar dan tercantik yang pernah saya masuki dalam hidup saya. Selain berfungsi sebagai mana perpustakaan pada umumnya, tempat ini juga jadi objek wisata. Diperbolehkan untuk memotret di sini selama tidak berisik dan mengganggu pengunjung. Untuk jam buka tutup perpustakaan bisa lihat di sini.  

 Koleksi perpustakaan ini lebih dari 2 juta buku.

12. Royal Exhibition Building + Carlton Gardens
Bangunan yang terletak di Nicholson Street ini termasuk ke dalam World Heritage Site. Dibangun pada tahun 1879 dan selesai pada 1880. Kita memang bisa masuk ke pelataran dan taman yang ada di sekitar bangunan ini secara gratis. Tapi kalau ingin masuk dan ikut tur tentu ada biayanya. Untuk yang mau tahu jadwal dan harga tiket turnya bisa dilihat di sini.

13. Parliement House  
Selain digunakan untuk urusan pemerintahan, tempat ini dibuka juga untuk turis. Bahkan menyediakan free tour. Namun tentunya ada waktu-waktu tertentunya seperti yang tertera di sini. Saat saya ke sini, waktu tur selanjutnya baru akan dimulai sekitar 30 menit lagi. Saya memutuskan melewatkan tur karena ada hal lain yang harus saya lakukan. Plus, this will be another reason to come back there :)



----------@yanilauwoie----------

Find me at:
LINE: @psl7703h
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie


YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • 13 Tempat Wisata Gratis di Melbourne, Australia (Part 1)
  • Sydney, Australia Publish di Majalah GADIS No. 20/2015 
  • Penguin Parade, Phillip Island Publish di Majalah Reader's Digest Indonesia Edisi Juli 2015 
  • Tempat Belanja Oleh-oleh di Sydney, Australia
 
Newer Posts Older Posts Home

My Travel Book

My Travel Book
Baca yuk, kisah perjalanan saya di 20 negara!

My Travel Videos

Connect with Me

Total Pageviews

Categories

Amerika Serikat Australia Belanda Belgia Ceko Denmark Hong Kong Indonesia Inggris Irlandia Italia Jepang Jerman Korea Selatan Macau Malaysia Prancis Singapura Skotlandia Spanyol Thailand Vietnam

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  May (1)
      • 6 Lokasi untuk Melihat Bunga Musim Semi di Bratisl...
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2024 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2022 (6)
    • ►  October (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (19)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (51)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (10)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2018 (30)
    • ►  December (8)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (60)
    • ►  December (6)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (8)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  May (8)
    • ►  April (9)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (6)
    • ►  April (5)
    • ►  March (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (51)
    • ►  December (7)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  June (4)
    • ►  May (6)
    • ►  April (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (6)
    • ►  July (5)
    • ►  June (3)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
    • ►  February (5)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (13)
    • ►  December (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)

Search a Best Deal Hotel

Booking.com

Translate

Booking.com

FOLLOW ME @ INSTAGRAM

Most Read

  • Tour Guide Berbahasa Indonesia di Thailand: Saya Belajar dari Sinetron
  • Mudahnya Mengurus Visa Australia
  • Tip Hemat Jalan-jalan di Sydney, Australia
  • Turis Indonesia Terkenal Tukang Pipis di Korea Selatan

About Me

Hi, I'm Yani. I have 15 years experience working in the media industry. Despite my ability to write various topics, my biggest passion is to write travel stories. By writing travel stories, I combine my two favourite things; travelling and writing. All the content in this blog are mine otherwise is stated. Feel free to contact me if you have questions or collaboration proposal :)

Contact Me

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 My Travel Stories. Created by OddThemes & VineThemes