My Travel Stories

Lots of memories I can't keep, that's why I write.

Powered by Blogger.
  • Home
  • Indonesia
  • Asia
  • Australia
  • Eropa
  • Amerika
  • Travel Tips
  • Itinerary
  • Portfolio

Situasi Salat Ied di Sports Complex, Monash University, Melbourne

Ini adalah ketiga kalinya saya merayakan Idul Fitri di Australia tapi baru lebaran tahun inilah saya bisa melaksanakan salat Ied berjamaah dengan muslim-muslim lain di sini. Rasanya? Saya bisa memaknai lebaran dari kacamata yang berbeda. 

Berbeda dari tahun lalu, situasi Melbourne dan wilayah Victoria lainnya terkait COVID-19 sudah jauh lebih baik. Karena itulah, berbagai aktivitas yang melibatkan banyak orang kembali diperbolehkan, termasuk di antaranya untuk melakukan salat Ied secara berjemaah. Meskipun jumlah jemaahnya dibatasi (tergantung dari luasnya tempat salat) dan semuanya tetap harus dilakukan sesuai peraturan protokol kesehatan. 

Saya sebenarnya ingin salat di KJRI Melbourne tapi sayangnya mereka sudah memenuhi kuota maksimal untuk 80 orang sehingga saat saya mau mendaftar sudah tidak bisa. Akhirnya saya googling lokasi salat terdekat dari rumah dan keluarlah Monash University - Clayton campus yang hanya 15 menit dari rumah.


Langsung aja saya buka situsnya dan di sana melihat pengumuman untuk pelaksanaan salat Ied. Alhamdulillah-nya, mereka masih buka pendaftaran padahal saat itu sudah H-1. Saya pun mengisi google form yang kolomnya hanya terdiri dari 3 pertanyaan, yaitu nama lengkap, nomor telepon dan email. 

Setelah mengirim data diri, saya mendapat notifikasi pendaftaran tersebut melalui email, termasuk di dalamnya peta untuk menuju lokasi dan peraturan yang harus diikuti, yaitu:

  • Memakai masker dan membawa sajadah sendiri
  • Sudah berwudhu saat datang ke lokasi
  • Check-in/scan QR code sebelum memasuki arena (sejak pandemi COVID-19, ini adalah peraturan yang berlaku di Australia saat kita berkunjung ke tempat-tempat publik seperti restoran, kafe, rumah sakit, tempat wisata, dll. Tujuannya adalah bila terjadi outbreak yang terkait tempat tersebut, kita bisa dilacak dan dihubungi untuk diminta tes COVID-19)
  • Mengikuti arahan para relawan agar pelaksanaan berjalan lancar

Sejujurnya saya sedikit khawatir untuk melakukan salat Ied ini. Meskipun saat ini situasi terkait COVID di Melbourne bisa dibilang sangat terkendali, dalam artian tidak ada penularan yang berasal dari komunitas lokal tapi saya tetap sedikit khawatir. 

Namun logikanya, pemerintah tidak akan memberikan izin pelaksanaan salat Ied bila dianggap dapat membahayakan. Selain itu saya juga sangat percaya sama Allah SWT. Saya berdoa, kalau memang tidak aman untuk saya pergi maka mohon jangan biarkan saya pergi. Tapi kalau memang tidak apa-apa saya pergi ke sana, mohon agar diberi perlindungan. Alhasil dengan bekal kepercayaan tersebut, saya berangkat ke lokasi dengan diantar Shannon dan Noah. 

Saya sampai sekitar pukul 07.40 di lokasi salat Ied yang digelar di gedung olahraga kampus Clayton, Monash. Di depan gedung saya melihat para relawan yang mengarahkan jemaah untuk melakukan scan QR code dan memakai masker. Mereka bahkan membagikan masker gratis untuk jemaah yang tidak membawa masker. Mereka juga mengarahkan jemaah pria dan wanita arah pintu masuk yang sesuai. Sama seperti di Indonesia, jemaah pria berada di bagian depan dan wanita di belakang.

Saya yang sudah memakai masker saat memasuki area ini melangkah ke pintu belakang dan melakukan scan QR code yang ada di depan pintu. Scan QR code tersebar di banyak titik, jadi saya tenang tidak harus berdekatan dengan orang lain hanya untuk melakukan check-in. 

Memasuki gedung, saya melihat belum terlalu banyak orang yang hadir. Saya pun memilih lokasi yang tidak jauh dari pintu dan menggelar sajadah saya di sana. Terdengar suara takbir berkumandang,

"Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, La Ilaha Illallahu Wallahu Akbar"

Dari pertama kali saya mendengarnya ketika memasuki area gedung olahraga ini, perasaan saya sudah bergetar. Hati saya merasa hangat! 

Lantunan takbir tersebut seolah membawa saya pergi dari Australia dan mendaratkan saya ke tanah kelahiran saya di momen istimewa saat takbir ini terus berkumandang selama sekitar 24 jam. 

Saat saya melakukan salat Ied bersama mama yang berada di sebelah saya. Saat kami saling bermaafan begitu salat selesai. Saat semua keluarga berkumpul dan bercengkrama. Saat makan hidangan lebaran terenak yang disiapkan mama; ketupat, sayur, opor, rendang dan kue keju parut yang hanya ada saat lebaran atau ulang tahun. Semua masa indah dan menyenangkan tersebut seperti berlomba hadir di pikiran saya.   

Makin lama saya mendengarkan takbir, memori itu makin kuat dan mengaduk-aduk perasaan. Tanpa sadar, saya tak bisa menahan tangis. Air mata saya bercucuran. Bukan hanya memperkuat ikatan religius antara saya dengan Sang Pencipta, lantunan takbir tersebut juga memperkuat rasa akan kenangan, keluarga dan budaya yang begitu saya rindukan!

Ini adalah sebuah rasa baru yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Benar adanya bahwa kita akan lebih menghargai sesuatu saat kita tidak bersamanya.

Setelah sekitar 15 menit mendengarkan takbir, akhirnya salat Ied pun dimulai. Dan tepat saat salat akan mulai tiba-tiba ada seorang wanita yang menggelar sajadahnya tepat di sebelah saya, tanpa ada jarak! Saya langsung panik!

Dia seharusnya memberikan jarak seperti wanita yang ada di sebelah kanan saya. Dan seharusnya sisi kiri saya tidak digunakan untuk salat karena itu ada di luar batas salat. Paling tidak, itu yang saya lihat dari shaf-shaf di depan saya. Itu juga alasan saya memilih lokasi ini karena paling tidak di sisi kiri saya akan lowong dan saya tak perlu berdekatan dengan orang lain. 

Saya menduga karena dia datang sangat mepet saat salat akan dimulai, jadi dia mengambil tempat yang terdekat dan lowong, tanpa berusaha mencari ke lokasi lain. Dan saya pun tidak bisa melakukan banyak hal karena salat akan segara mulai dan area ini sudah terlihat penuh meskipun tidak sesak. 

Saya akhirnya putuskan untuk fokus pada salat. Untungnya, baik saya dan dia sama-sama memakai masker, jadi semoga saja kami tidak saling mentransfer virus (seandainya kami bervirus). 

Salat Ied tidak berlangsung lama. Tidak sampai 10 menit. Setelah itu, dilanjutkan dengan ceramah. Namun saya putuskan untuk tidak mengikuti ceramah hingga selesai. Alasannya? Saya tak mau berdesakan saat mengambil sepatu untuk kemudian dilanjutkan berdesakan menuju pintu keluar. Saya bisa parno!

Karena itu saya putuskan untuk meninggalkan gedung tersebut lebih dulu, saat saya masih bisa bergerak tanpa harus bertabrakan dengan orang lain. 

Kurang lebih sekitar 30 menit saja pengalaman saya salat Ied di Melbourne namun rasa dan makna yang saya rasakan sungguhlah luar biasa. Kini saya tahu rasanya menjadi minoritas di sebuah negara. 

Tanpa perlu mengalami diskriminasi saja, rasanya sungguh berat jauh dari keluarga dan budaya kita di hari yang sangat istimewa. Bayangkan dengan orang-orang yang teraniaya hanya karena berbeda agama? 

Jadi marilah kita saling menghargai satu sama lain terlepas di manapun kita dan apapun agama kita. Kalau kita belum bisa berbuat baik untuk orang lain, paling tidak jangan menyakitinya!

Selamat Idul Fitri 2021. Mohon maaf lahir batin!

Semoga ini lebaran terakhir kita terpisah dari keluarga karena pandemi. Berharap lebaran tahun depan situasi sudah membaik dan kita bisa merayakan dengan sukacita dengan seluruh keluarga. Amin! 

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Tinggal di Australia saat Pandemi Corona, Begini Rasanya

  • 6 Tip Road Trip dengan Bayi

  • Noah Merusak Instalasi Seni Yayoi Kusama. Lapor atau Kabur?

  • My 2020 Highlight: Terbang Membawa Bayi 4 Minggu di Tengah Pandemi COVID-19

  • Berlinangan Air Mata di Los Angeles, Amerika Serikat


 




Setahun lebih kita mengalami pandemi COVID-19 dan sudah lebih dari setahun pula saya menjalaninya di luar Indonesia, tepatnya di Australia. 

Ketika mendarat di Australia pada Maret 2020 saya menduga kami hanya akan menghabiskan waktu selama sekitar 2 bulan saja di sini, sambil menghabiskan waktu cuti melahirkan saya. Tapi siapa sangka pandemi membuat dunia jungkir balik, membuat perencanaan saya dan Shannon ikut berantakan. 

Namun sejujurnya, berada di Australia selama pandemi bukanlah sesuatu yang buruk karena Australia bisa mengelola pandemi dengan cukup baik dan merupakan salah satu negara teraman untuk ditinggali dalam situasi krisis ini.

Tentu saja ada momen-momen dimana Victoria (negara bagian tempat saya tinggal) mengalami situasi yang cukup buruk. Tepatnya ketika ada ratusan orang terpapar COVID-19 setiap harinya sehingga lockdown keras benar-benar diberlakukan. 

Perbatasan Victoria dengan negara bagian lain ditutup. Kita pun tidak boleh keluar rumah sama sekali kecuali untuk hal yang benar-benar penting, seperti bekerja (kalau memang tidak bisa dilakukan dari rumah), ke rumah sakit, olahraga dan belanja kebutuhan pokok dengan jarak maksimal 5 kilometer dari rumah.

Protokol kesehatan juga diberlakukan. Kita wajib memakai masker di semua tempat umum, tidak boleh berkumpul di tempat umum lebih dari 2 orang dan itu pun harus tetap jaga jarak, tidak boleh saling bertamu, kafe hanya boleh untuk takeaway dan berbagai macam peraturan lainnya yang harus diikuti demi memutus rantai penyebaran virus. 

Berbagai peraturan tersebut diikuti dengan pengawasan yang ketat dan tegas dari petugas keamanan. Polisi ada di mana-mana. Mereka melakukan cek secara random di berbagai tempat dan tak segan-segan memberikan hukuman bagi para pelanggarnya. Dendanya nggak main-main lho, bisa sampai ribuan dollar.

Saya masih ingat pada bulan Juli tahun lalu saat media di sini ramai memberitakan tentang sekelompok orang pelanggar aturan yang secara total harus membayar sekitar AUD26.000. Kisah berawal ketika ada dua orang paramedis sedang makan di KFC dan melihat ada dua orang lain yang memesan makanan sebanyak 20 porsi. kedua paramedis tersebut curiga bahwa kedua orang tersebut sedang mengadakan pesta dan segera melaporkan kecurigaan mereka ke polisi dengan menyebutkan plat nomor mobil mereka. 

Polisi yang dapat melacak alamat rumah melalui plat mobil bertindak sangat cepat dengan mendatangi rumah sang pembeli KFC. Ternyata kecurigaan kedua paramedis tersebut terbukti. Polisi menangkap basah sang pembeli KFC sedang mengadakan perayaan pesta ulang tahun. Alhasil 16 orang yang terlibat harus bayar denda masing-masing sebesar AUD1.652. Itu berarti untuk 16 orang, total denda yang dibayarkan hampir 300 juta rupiah!

Ya memang secepat itu para petugas bergerak dan setegas itu peraturan dilaksanakan!

Kecepatan para petugas dalam melakukan pelacakan juga terlihat setiap kali ada outbreak. Pergerakan orang yang dinyatakan positif COVID-19 akan ditelusuri selama 14 hari ke belakang. Kemana mereka pergi, bertemu siapa, dan melakukan apa. Dari sana, setiap orang yang terkait dengan orang tersebut langsung diminta tes. Orang-orang yang mengunjungi tempat yang dikunjungi orang yang positif COVID-19 pada waktu bersamaan pun diminta tes, baik ada atau tidak ada gejala. 

Biasanya pengumuman ini masyarakat ketahui dari media massa, baik media massa online, radio maupun teve. Disebutkan tempat-tempat yang terjadi outbreak dan yang terkait dengan tempat tersebut diwajibkan melakukan tes gratis. Selain mengharapkan orang-orang yang kemungkinan terkait dengan outbreak untuk lapor diri, pemerintah juga akan menghubungi langsung orang-orang yang diduga terkait. 

Darimana pemerintah dapat data orang-orang yang diduga terkait outbreak? Dari mana-mana. Salah satunya adalah data yang didapatkan saat kita check-in di tempat-tempat umum. Misalnya, ketika kita berkunjung ke kafe atau restoran, kita akan diminta mengisi data kehadiran, baik secara manual atau melalui aplikasi online. 

Contohnya saat saya mau makan makanan padang di rumah makan Salero Kito Melbourne, mereka meminta saya untuk check-in sebelum saya bisa memesan. Begitu juga saat saya berkunjung ke kafe atau restoran lainnya. Tujuannya bila ada outbreak yang terkait tempat tersebut, pemerintah bisa dengan segera menghubungi saya untuk melakukan tes.  

Kemampuan pelacakan yang terorganisir dan cepat ini sangat ampuh untuk menekan laju penyebaran virus.   

Dan begitu laju penyebaran virus bisa teratasi, lockdown pun pelan-pelan diangkat. Dan lockdown akan diberlakukan kembali saat terjadi outbreak baru, untuk kemudian diangkat lagi begitu kasus menurun. Ritme tersebut terus diulang selama setahun terakhir ini dan keketatan peraturan atau kebijakan lockdown tergantung dari seberapa besar outbreak yang terjadi. 

Setahu saya, buka tutup lockdown ini bukan hanya terjadi di Victoria saja, negara bagian-negara bagian lain pun memberlakukan hal yang sama. 

Peraturan yang jelas dari pemerintah, aparat hukum yang tegas dan masyarakat yang disiplin membuat kita bisa bersama-sama mengendalikan penyebaran virus ini. Sampai ketika akhirnya saya menulis ini, situasi di Victoria bisa dibilang aman terkendali tanpa ada penyebaran virus dari komunitas/masyarakat lokal. Meskipun saya tahu, kondisi ini bisa berubah dan lockdown bisa kembali diterapkan.

Namun untuk saat ini, saya bisa bilang saya merasa luar biasa beruntung karena masih bisa hidup normal di tengah situasi dunia yang tidak jelas ini. Tentu saya masih sangat berhati-hati dalam beraktivitas namun paling tidak tingkat kecemasan saya makin ke sini makin menurun. Saya tenang ketika bertemu teman dan kerabat. Saya tenang ketika berbelanja di supermarket. Saya tenang ketika membeli makanan di restauran, baik untuk takeaway atau santap di tempat.

Dan di atas segalanya, saya merasa sangat beruntung karena bisa membesarkan Noah di situasi yang tidak mengkhawatirkan. Noah bisa bebas main ke pantai, masuk ke hutan atau bermain perosotan dan ayunan di taman tanpa saya perlu merasa takut dia akan terpapar virus. Dan untuk itu, tidak henti-hentinya saya mengucap syukur!   

Saya hanya berharap orang-orang tersayang saya dan kamu yang membaca ini di manapun berada bisa terus sehat dan menemukan perasaan tenang dan damai yang sama di tengah situasi yang tidak menentu ini. 

Dan untuk kampung halaman saya, Indonesia, rindu saya sungguh tidak terkata. Tidak sabar menunggu semuanya membaik dan kita bisa kembali bersama :)

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • 6 Tip Road Trip dengan Bayi

  • Noah Merusak Instalasi Seni Yayoi Kusama. Lapor atau Kabur?

  • My 2020 Highlight: Terbang Membawa Bayi 4 Minggu di Tengah Pandemi COVID-19

  • Berlinangan Air Mata di Los Angeles, Amerika Serikat

  • Ross Dress for Less, Tempat Belanja Barang-Barang Branded Murah di San Francisco, Amerika Serikat

Holbrook Submarine Museum yang sengaja kami singgahi saat road trip agar Noah bisa bermain


Road trip alias jalan-jalan melalui jalur darat dalam durasi yang cukup panjang bisa menyenangkan sekaligus melelahkan. Menyenangkan karena kita bisa berhenti kapanpun di area-area yang menarik untuk dikunjungi. Namun duduk berjam-jam di dalam mobil bisa bikin pegel dan pantat tepos. Hahaha.. Nah, apalagi bila road tripnya bareng Noah yang saat itu baru berusia 11 bulan. Tentunya menjadi perjalanan yang cukup menantang!

Kami melakukan road trip dari negara bagian Victoria, Australia ke Australian Capital Territory (ACT), tepatnya ke Canberra. Road trip ini menjadi pilihan kami karena kami membutuhkan mobil untuk bepergian saat di Canberra dan kami juga menghindari terbang di tengah situasi pandemi. Meskipun saat itu situasi cukup aman, karena baik Victoria maupun ACT sedang tidak ada kasus lokal COVID-19. 

Beberapa hari sebelum keberangkatan Shannon sudah mengecek berbagai rute yang harus dilalui. Menurut google estimasi waktu sekitar 8 jam perjalanan tapi tentunya ini menjadi molor sampai sekitar 11 jam (perginya) dan 10 jam (pulangnya) karena kami banyak berhenti, salah satu alasannya tentu karena Noah.

Noah sebenarnya bayi yang cukup anteng saat diajak jalan-jalan dengan mobil. Tapi ya ketika perjalanan itu memakan waktu berjam-jam, ya dia akan bosan juga dan ujung-ujungnya akan menangis. Karena itu, kami harus berhenti dan beristirahat setiap 2 hingga 3 jam. Bahkan ada satu waktu kami berhenti sampai sekitar 30 menit hanya untuk membiarkan Noah bermain di taman.

Ya jangankan Noah, saya saja (yang hanya penumpang, tidak menyetir) kadang bosan duduk di mobil berjam-jam. Kebayang bagaimana rasanya jadi Shannon yang menyetir dan Noah yang lagi demen-demennya eksplorasi ke sana ke mari. Karena itu, demi menjaga kewarasan semua orang, istirahat  di tengah road trip adalah pilihan ideal.

Selain istirahat, berikut adalah tip road trip dengan bayi berdasarkan pengalaman kami:

1. Cek rute dan lokasi-lokasi yang akan dilalui serta perkiraan waktu untuk sampai ke sana. Jadi kita tahu kapan dan di mana harus berhenti untuk menyusui, memberi makan siang, mengganti popok atau sekedar berhenti untuk mengajak sang bayi bermain. 

2. Siapkan makanan favorit sang bayi. Saat road trip ke Canberra kemarin, kami membawa aneka makanan buat Noah tapi entah kenapa dia agak sulit makan. Setelah putus asa menyodorkan aneka makanan yang beragam, saya akhirnya menyerah dengan memberinya makanan favoritnya, yaitu strawberry & vanilla custard yang dilahapnya dengan sangat cepat. Ini memang senjata saya karena itu saya berikan ini sebagai pilihan terakhir. Bisa jadi karena Noah tidak berada dalam comfort zone-nya maka dia membutuhkan comfort food-nya. 

3. Siapkan musik favorit sang bayi. Noah adalah bayi yang sangat aktif tapi dia bisa sedikit tenang kalau mendengar musik favoritnya. Dan musik ini juga cukup membantu ketika kami dalam perjalanan. Contohnya ketika Noah sudah mulai merasa bosan dalam baby seat selama berjam-jam dan berujung tangisan, Shannon sempat memutar lagu Led Zeppelin dan membuat Noah terdiam sesaat. Namun belum juga satu lagu habis, Noah kembali menangis kencang. Akhirnya kami mengalah dan memutar lagu The Wiggles yang ternyata ampuh untuk membuatnya terdiam. Ya alhasil, saya dan Shannon harus terima nasib mendengarkan berkali-kali lagu The Wheels on the Bus dan Hot Potato berkali-kali. Bikin pening juga, ya. Ya sebenarnya tinggal pilih, sih. Mau pening karena anak nangis atau dengerin lagu yang sama berkali-kali. Hahahaha...

4. Siapkan dummy atau dot a.k.a cempeng. Dot ini cukup ampuh untuk membuat Noah tenang. Apalagi kalau dia mau tidur, dot ini akan membantunya tertidur. Karena itu, kami selalu menyediakan dot dalam mobil. Kami juga membeli semacam rantai perekat dot di mana kami bisa jepit rantai tersebut ke seat belt Noah. 

5. Siapkan mainan favorit sang bayi. Mainan juga ampuh untuk mengalihkan perhatian Noah. Tapi biasanya Noah tidak tahan lama dengan mainan. Dia akan mainkan sebentar untuk kemudian bosan. Jadi harus memiliki beberapa mainan yang berbeda dan tidak semuanya dikeluarkan di saat yang bersamaan. Sehingga ia merasa selalu ada hal baru yang seru untuk dimainkan saat di perjalanan. 

6. Siapkan alat tempur bayi yang mudah dijangkau. Kami memiliki tas hitam yang selalu ada di mobil dan dekat dengan Noah. Isinya mulai dari popok, baju ganti, tisu basah, selimut, dan kebutuhan Noah lainnya. Memiliki tas ini memudahkan, jadi tak perlu sibuk mencari ke sana ke mari atau ke dalam koper bila kita butuh sesuatu di tengah jalan.

Itu tip ala saya. Pernah melakukan road trip dengan bayi dan punya tip juga? Mau dong, di-share di kolom komentar, ya... :)

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Noah Merusak Instalasi Seni Yayoi Kusama. Lapor atau Kabur?

  • My 2020 Highlight: Terbang Membawa Bayi 4 Minggu di Tengah Pandemi COVID-19

  • Berlinangan Air Mata di Los Angeles, Amerika Serikat

  • Ross Dress for Less, Tempat Belanja Barang-Barang Branded Murah di San Francisco, Amerika Serikat

  • Bolehkah Ibu Hamil Melewati Metal Detector di Bandara?







Srreeek! Kepala saya dengan cepat menoleh ke sumber suara dan jantung saya hampir copot saat melihat Noah menggenggam robekan polkadot hitam. Ya Tuhan, Noah baru saja merusak properti dari instalasi seni karya Yayoi Kusama! Bagaimana iniiiii???

Hari itu, Shannon mengantar saya dan Noah mengunjungi National Gallery of Australia. Karena Shannon ada pekerjaan yang harus dilakukannya maka kunjungan ke galeri yang berlokasi di Parkes, Canberra menjadi acara 'kencan' saya dan Noah. 

Saya senang galeri ini memperbolehkan stroller bayi masuk sehingga lebih mudah bagi saya menikmati aneka karya seni tanpa harus menggendong Noah yang sudah makin berat. Noah pun terbilang anteng bila duduk di stroller yang bergerak. 

Kami menjadi salah satu pengunjung pertama hari itu karena masuk tepat saat galeri baru buka, yaitu pukul 10 pagi. Petugas pintu masuk mengarahkan kami untuk mendaftar di meja registrasi. Setelah nama kami dicatat, kami bisa langsung menikmati berbagai karya seni tanpa harus membayar apapun. Yap, masuk ke galeri seni ini gratis, namun ada pameran-pameran atau ekshibisi-ekshibisi tertentu yang tentunya mengharuskan membeli tiket masuk. 

Saya pun langsung mendorong Noah menuju lantai 2, lantai di mana karya Yayoi Kusama, The Spirits of the Pumpkins Descended Into the Heaven dipamerkan. Saya memprioritaskan ini karena berdasarkan pengalaman saya melihat karya Yayoi Kusama di tempat-tempat lain selalu dipenuhi pengunjung. 

Contohnya saya pernah mengantri selama hampir 1,5 jam untuk bisa menikmati Infinity Mirrored Room karya Yayoi Kusama di Museum MACAN Jakarta, selama 30 detik saja! Selain itu, saya pernah juga membatalkan melihat karya Yayoi Kusama di The Broad Museum, Los Angeles, Amerika Serikat karena nggak sabar nunggu antrian yang lama banget. 

Nggak mau mengalami kejadi serupa maka saya putuskan mengunjungi karya Yayoi Kusama ini pertama kali. Mumpung masih pagi dan belum banyak pengunjung. Keputusan yang tepat karena saat saya sampai di lokasi, tidak ada satu orangpun di sana. Ini enaknya bila berkunjung bukan pada akhir pekan. Puas menikmati karya seni dan foto-foto.

Tapi pergi dengan bayi 11 bulan sama saja dengan pergi sendirian, susah untuk mendapatkan foto diri yang bagus. Apalagi saya bukan penggemar selfie stick, jadi ya foto cuma mengandalkan kamera depan dengan angle dan frame yang terbatas. 

Setelah beberapa kali mengambil gambar, saya membebaskan Noah dari stroller. Tentunya dengan tujuan bisa mengambil foto wefie dengannya. Meskipun hasilnya cuma ada wajah kami berdua dan latar belakang polkadot hitam di atas dinding kuning. Secara estetika kurang indah tapi ya sudahlah ya...

Selanjutnya saya meletakkan Noah di lantai dengan tujuan mengambil foto Noah sendiri. Noah yang seperti menemukan kebebasannya merangkak ke sana kemari, saya pun dengan cepat mengambil fotonya berkali-kali. 

Ketika saya sedang melihat handphone untuk mengecek gambar, hanya dalam beberapa detik Noah sudah hilang dari hadapan saya dan yang saya dengar selanjutnya adalah "sreeeek"! 

Saya menengok ke arah Noah yang sedang memegang robekan dari salah satu polkadot hitam. Ya Tuhan saya panik melihatnya. Langsung saya gendong Noah dan mengambil robekan hitam itu dari tangannya. Selanjutnya, mata saya sibuk mencari-cari di mana sambungan si polkadot. Atau polkadot yang mana yang sukses dirusak Noah? Mata saya akhirnya menangkap sekitar 1/10 polkadot yang masih menempel di dinding. 

Sambil terus menggendong Noah, saya berjongkok dan berusaha menempelkan kembali robekan yang tadinya di tangan Noah ke dinding. Namun sekeras apapun usaha saya untuk membuat polkadot tersebut terlihat utuh, tetap saja sambungan robekan itu terlihat nyata. Dengan perasaan tidak keruan, saya keluar dari area instalasi tersebut.  

Menit-menit selanjutnya saya dihantui oleh perasaan galau. Haruskah saya melaporkan kejadian ini atau pergi saja meninggalkan TKP karena toh tidak ada siapapun di tempat tersebut. Sungguh perasaan yang menyiksa! 

Masih belum tahu keputusan apa yang akan saya ambil, tahu-tahu saya sudah ada di lantai 1 dan pintu keluar di depan saya. Namun saya merasa berat meninggalkan galeri ini. Akhirnya saya putuskan untuk menghubungi Shannon dan menjelaskan apa yang terjadi. Shannon menyarankan saya untuk jujur dan melaporkan hal tersebut kepada petugas. 

Sejujurnya saya setuju dengan Shannon karena kalau tidak saya pasti sudah kabur dari tadi. Namun saya tidak yakin bahwa saya siap dengan konsekuensinya. Bagaimana bila saya harus membayar ganti rugi di luar kemampuan saya? Atau mungkin lebih baik saya membeli lakban hitam dan mengguntingnya menjadi lingkaran untuk menggantikan si polkadot yang rusak? Aduh, repot banget! Di mana pula saya bisa menemukan lakban hitam?

Akhirnya setelah galau selama sekitar 1 jam, saya kembali ke TKP dan si polkadot tersebut masih terlihat rusak (ya iyalah!). Namun setelah saya edarkan pandangan saya, ada beberapa polkadot lain yang sudah meletek dari dinding juga. Hmm.. Mungkin itu dia kenapa Noah bisa menariknya hanya dalam hitungan 2-3 detik. Bisa jadi si polkadot tersebut memang sudah meletek. Apapun itu, tetap saja tidak membenarkan tindakan perusakan dan kabur. 

Momen yang menegangkan itu pun terjadi. Saya keluar memanggil petugas museum dan berkata kepadanya bahwa bayi saya merusak salah satu instalasi seni yang ada. Petugas dengan cepat mengikuti saya ke bilik TKP. Saya kemudian menunjukkan kepadanya kerusakan yang terjadi. Dia berjongkok, mengamati dan memegangnya. 

Jantung saya berdegup kencang, menunggu vonis apa yang akan diberikan oleh sang petugas.

Sejurus kemudian petugas pria berwajah India tersebut berkata, "Tidak apa-apa." Saya kaget mendengar perkataannya, "Anda yakin?" tanya saya. "Ya tidak apa-apa. Jangan khawatir," tambahnya. 

Ya Tuhaaan, lega luar biasa rasanya mendengar hal tersebut. Rasanya seperti divonis bebas dalam ruang pengadilan (meskipun saya tidak pernah mengalaminya). Saya pun mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada petugas tersebut dan dengan cepat meninggalkan lokasi. 

Moral dari cerita ini adalah Noah tidak salah. Yang salah adalah saya karena melepaskannya dari stroller. Seharusnya saya sudah bisa menduganya. Untuk anak seaktif Noah, tentu saja dia tidak akan tinggal diam dan tentu saja dia akan penasaran untuk memegang dan memasukkan ke dalam mulut benda apapun yang menarik perhatiannya.  

Moral lainnya adalah kejujuran tetap yang terbaik. Karena kalau seandainya saya tidak jujur, mungkin sampai sekarang (sekitar satu bulan setelah kejadian) saya masih akan dihinggapi perasaan bersalah yang tentunya bukan hal yang baik untuk kejiwaan saya. Pppffffuuuih. 

Tuhan memang baik!

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • My 2020 Highlight: Terbang Membawa Bayi 4 Minggu di Tengah Pandemi COVID-19

  • Berlinangan Air Mata di Los Angeles, Amerika Serikat

  • Ross Dress for Less, Tempat Belanja Barang-Barang Branded Murah di San Francisco, Amerika Serikat

  • Bolehkah Ibu Hamil Melewati Metal Detector di Bandara?
  • My 2019 Highlights



 






Sebenarnya saya agak ragu mau menulis highlight 2020 atau tidak. Pasalnya tahun 2020 bisa dikatakan saya nyaris tidak melakukan perjalanan. Saya pun nyaris tidak menulis blog pada tahun ini, padahal masih ada beberapa catatan perjalanan dari tahun-tahun sebelumnya yang belum sempat saya tuangkan di sini. Namun saya memutuskan untuk menulis highlight 2020 sebagai bentuk rasa syukur saya. 

Tahun ini hanya satu kali saya melakukan perjalanan jauh, yaitu dari Indonesia ke Australia. Namun perjalanan tersebut menjadi salah satu perjalanan paling berkesan bagi saya karena bukan hanya dilakukan di tengah pandemi COVID-19 tapi juga untuk pertama kalinya saya terbang membawa bayi, yaitu Noah yang umurnya saat itu baru 4 minggu!

Terbang membawa balita saja saya belum pernah. Ini harus membawa bayi yang belum lama lahir dan di tengah wabah global. Jangan ditanya deh, deg-degannya kayak apa! Terlebih lagi saya, Shannon dan Noah terbang pada bulan Maret, awal-awal pandemi, saat informasi mengenai penyakit ini belum sebanyak sekarang. Yang saya tahu saat itu, penyakit tersebut mematikan dan bisa masuk ke tubuh melalui hidung, mulut dan mata.

Maskapai pun belum menerapkan protokol kesehatan seperti sekarang. Baik petugas check in maupun kabin kru Garuda Indonesia tidak ada yang memakai masker. Karena saat itu memakai masker belum diwajibkan. WHO pun belum menetapkan prosedur memakai masker. Kami tidak juga dimintai surat keterangan sehat bebas COVID-19 karena memang peraturan untuk itu belum keluar. 

Satu-satunya surat keterangan yang saya bawa adalah surat keterangan dari dokter yang menyatakan Noah sehat dan boleh terbang. Saya membuat surat ini karena mendapat informasi dari customer service Garuda Indonesia saat saya menelepon dan bertanya apa saja syarat yang dibutuhkan untuk terbang membawa bayi berusia 4 minggu. Namun surat keterangan ini tidak diminta oleh petugas check in.   

Meskipun belum ada kewajiban masker atau surat bebas COVID-19 namun Garuda Indonesia sudah memberlakukan jarak untuk lokasi duduk penumpang. Walaupun kapasitas pesawat hanya penuh setengahnya sih, jadi memang tidak banyak orang yang terbang. Kebanyakan adalah orang Australia di dalam pesawat, jarang sekali orang Indonesia karena memang Australia sudah menutup bordernya, kecuali untuk warga negaranya, pemegang status permanent residence dan anggota keluarga langsung. Saya masuk kategori yang terakhir karena itu saya bisa masuk Australia. 

Selain deg-degan dengan situasi pandemi, saya juga deg-degan takut Noah menangis dan mengganggu seisi pesawat. Saya pernah terbang dengan penumpang yang membawa bayi di mana sang bayi menangis semalaman dan membuat saya tidak bisa tidur. Saya berdoa semoga Noah tidak seperti bayi tersebut. 

Alhamdulillah ketakutan saya tidak menjadi kenyataan. Selama di pesawat Noah sangat anteng, tidak menangis sama sekali. Dia hanya merengek untuk minta susu sekitar pukul 4 pagi dan 7 pagi waktu Indonesia (atau pukul 11 waktu Melbourne, saat mau mendarat). Noah anteng mungkin karena saya pangku sepanjang penerbangan. Dia kalau dipeluk memang tidurnya lebih anteng daripada diletakkan di kasur. 

Sebenarnya kami sudah membawa bassinet untuk tempat dia tidur. Tapi bassinet yang kami punya tidak bisa ditempatkan di lokasi khusus bassinet karena tempat tersebut dirancang khusus untuk bassinet milik pesawat. Pramugari meminjamkan bassinet-nya kepada kami namun karena saya takut bassinet tersebut ada virusnya. Jadi ya saya putuskan untuk menggendong Noah selama sekitar 7 jam penerbangan. Jangan ditanya deh, pegalnya kayak apa nih, lengan. 

Selain itu, karena saya juga parno dengan virus yang mungkin beterbangan maka saya memutuskan untuk menutup diri saya dan Noah memakai pashmina. Setidaknya saya bisa lebih leluasa bernapas dibanding memakai masker. Dan pashmina ini juga berfungsi untuk menutupi saat saya menyusui Noah. Multi fungsi, kan? 

Begitu mendarat di Australia, kami karantina mandiri selama 2 minggu. Saat itu karantina hotel belum diberlakukan. Hari-hari menuju 2 minggu, saya seperti hidup dalam kecemasan. Badan berasa nggak enak sedikit, langsung khawatir. Pikiran sudah kemana-mana, takut terkena virus saat dalam penerbangan. Setelah 2 minggu berlalu tanpa sakit, legaaaa rasanya!

Saya juga bersyukur karena saat menulis ini kami masih diberi kesehatan dan keselamatan. Bisa melalui 2020 yang penuh tantangan ini dengan banyak kebahagiaan, terutama melihat Noah terus tumbuh. Suatu kenikmatan yang luar biasa di tengah pandemi ini. 

Saya berharap tahun 2021 kita semua tetap sehat dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Untuk para ibu yang memiliki bayi di tengah pandemi, kalian semua luar biasa! 

Selamat tahun baru 2021!

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Berlinangan Air Mata di Los Angeles, Amerika Serikat

  • Ross Dress for Less, Tempat Belanja Barang-Barang Branded Murah di San Francisco, Amerika Serikat

  • Bolehkah Ibu Hamil Melewati Metal Detector di Bandara?
  • My 2019 Highlights
  • 10 Rekomendasi Tempat Wisata di Los Angeles, Amerika Serikat

Pantai Venice

Belum lama ini saya membaca sebuah postingan di sebuah grup travelling. Isinya testimoni seorang traveller yang merasa kota Los Angeles tidak se-wow yang dia bayangkan sebelumnya dan membuat ia sama sekali tidak terkesan. Dia menyebut bahwa LA identik dengan tiga hal, yaitu gelandangan, bau pesing dan bau marijuana. Hal ini membuat saya teringat akan pengalaman saya menjejak ke kota selebritas Hollywood tersebut pada tahun lalu.

Saya tidak bilang saya setuju dengan pernyataan traveller tersebut meskipun saya akui bahwa saya melihat banyak gelandangan di kota ini dan mencium bau pesing di beberapa tempat, terutama di halte bus. Mungkin karena gelandangan banyak tidur di halte dan pipis di sana makanya bau pesing. 

Terlepas dari itu, saya memiliki kesan tersendiri terhadap kota ini. Bukan karena saya akhirnya bertemu dengan "Adam Levine" di Hollywood Walk of Fame. Bukan juga karena saya bisa mengunjungi Griffith Observatory, lokasi syuting La La Land (yang sampai saya menulis ini, filmnya belum saya tonton). Bukan karena itu.

Perjalanan saya ke LA menjadi begitu berkesan karena ini perjalanan pertama dan terjauh saya saat saya hamil. Awalnya sempat ragu untuk melakukan perjalanan ini karena takut membahayakan bayi dalam kandungan yang saat itu berusia sekitar 4 bulan. Tapi setelah konsultasi dengan dokter, saya mantap untuk terbang ke negara yang menjadi negara ke-21 yang saya kunjungi. 

Alhamdulillah tidak ada gangguan berarti selama dalam penerbangan dan selama saya di Amerika Serikat. Namun saat sendirian di kamar hotel, saya bawaannya kesepian dan mellow. Alhasil saya terus-menerus menghubungi Shannon dan teman-teman dekat saya, seperti Asri dan Stacey.

Saya merasa waktu berlalu sangat lama. Saya tak sabar ingin pulang. Awalnya saya merasa heran kenapa saya merasa seperti itu karena travelling sendirian bukan hal baru bagi saya. Saya pernah melakukannya di Australia dan Eropa namun baru pertama kalinya dalam sejarah travelling saya, saya merasa sekesepian itu. 

Akhirnya saya sadar bahwa perasaan itu dipicu oleh hormon kehamilan saya. Saya meyakini ini terutama saat saya tiba-tiba berlinangan air mata saat berada di tengah jalan di LA.

Ceritanya saat itu saya sedang menunggu bus untuk membawa saya ke LACMA tapi setelah menunggu lebih dari 30 menit bus yang saya tunggu tidak kunjung datang padahal menurut jadwal yang tertera di halte seharusnya tuh bus sudah datang sejak bermenit-menit yang lalu. Saya pun memutuskan jalan kaki. 

Saya berjalan dari satu blok ke blok yang lain sambil melihat situasi sekitar. Baik-baik saja. Tidak merasa capek atau apa, tapi kok, ya tiba-tiba saya berlinangan air mata dan menangis sesenggukan. Untung saya pakai topi dan berkacamata sehingga orang yang melihat tidak ngeh saya sudah banjir air mata. 

Saat itu, sambil memegang perut saya mempertanyakan ke diri sendiri apakah saya egois memutuskan hamil di saat usia saya mendekati 40? Bagaimana bila saya saya atau Shannon meninggal sementara anak ini masih kecil? Bagaimana dia akan menghadapi dunia ini sendirian? Pikiran-pikiran tersebut membuat saya merasa bersalah kepada sang calon bayi. 

Hal tersebut terulang ketika saya sedang menikmati sore hari di pantai Venice. Di antara pasir, di tengah semilir angin dan pemandangan ombak yang tenang, saya kembali menangis sesenggukan. Masih dengan pikiran-pikiran yang sama. 

Akhirnya saya bisa menenangkan diri setelah saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya akan membuat anak ini mandiri dan kuat sejak dini sehingga dia siap untuk menghadapi dunia ini bila suatu waktu saya dan Shannon harus pergi meninggalkannya terlebih dulu. 

Saat saya menulis ini, anak tersebut sudah punya nama, yaitu Noah dan akan berusia 9 bulan dalam hitungan hari. Melihat pertumbuhan dan perkembangannya sejauh ini, saya percaya dia akan menjadi anak yang mandiri dan kuat :)


----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Ross Dress for Less, Tempat Belanja Barang-Barang Branded Murah di San Francisco, Amerika Serikat

  • Bolehkah Ibu Hamil Melewati Metal Detector di Bandara?
  • My 2019 Highlights
  • 10 Rekomendasi Tempat Wisata di Los Angeles, Amerika Serikat
  • 10 Rekomendasi Tempat Wisata di San Francisco, Amerika Serikat

Sebenarnya saya dalam perjalanan menuju Target ketika saya melewati Ross Dress for Less. Dasar senang dengan barang diskonan, makanya ketika melihat toko ini menyebutkan menjual barang dengan harga sampai dengan 60% lebih murah, kaki saya secara otomatis melangkah masuk. Haha...

Layaknya departemen store, di sini bisa ditemui banyak barang seperti pakaian, tas, sepatu, kosmetik, alat-alat rumah tangga, perhiasan, dan mainan. Nyaris semuanya dijual dengan harga lebih murah dari harga pasaran. 

Ya sejujurnya, saya juga tidak tahu berapa harga pasaran dari produk-produk yang dijual. Tapi mereka mencantumkan di tag harga nominal harga asli/normal barang tersebut dan nominal harga yang dijual di Ross. Rata-rata memang lebih murah.

Contohnya handbag Guess tertulis harga aslinya USD60 sedangkan di Ross dijual hanya seharga USD39,99 atau handbag Nine West tertulis harga aslinya USD24,99 dan di Ross dijual seharga USD16,99. Selain tas-tas branded, di sini banyak juga sepatu - sepatu branded, seperti sepatu Skechers yang tertulis harga aslinya USD55 dan di sini dijual seharga USD34,99 dan sepatu Fila yang tertulis harga aslinya USD40 dan di sini dijual seharga USD19,99. 



Lalu apakah tas-tas atau sepatu-sepatu ini original atau KW? Sesungguhnya saya tidak tahu tapi saat saya googling-googling banyak yang bilang bahwa barang-barang di sini original tapi merupakan dari musim sebelumnya sehingga harganya bisa dijual lebih murah. 

Tapi kalau memang ragu, ya saran saya nggak usah dibeli. Beli saja apa yang membuat kita ikhlas mengeluarkan uang sejumlah sekian untuk mendapatkan barang tertentu. 

Contohnya, saya tidak membeli berbagai tas branded tersebut karena memang saya juga tidak butuh tapi saya membeli beberapa pakaian bayi yang menurut saya memang murah-murah dengan kualitas bagus. Saya sebut kualitas bagus karena terbuat dari 100% katun dengan desain yang memang saya suka.  

Selain itu saya juga sempat membeli bra Calvin Klein dengan harga USD10,99 sementara harga aslinya tertulis USD39. Tambahan lainnya adalah belanja beberapa produk maternity yang Alhamdulillah harganya murah dan nyaman dipakai.

Penasaran? Coba saja datangi langsung Ross Dress for Less yang tersebar di berbagai kota di Amerika Serikat dan putuskan sendiri apakah barang-barangnya layak dibeli atau tidak. 

Oh iya, di antaranya banyaknya toko Ross di San Francicso, yang saya datangi adalah yang beralamat di: 799 Market St. San Francisco, CA 94103.

Booking.com
----------@yanilauwoie----------



Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Bolehkah Ibu Hamil Melewati Metal Detector di Bandara?
  • My 2019 Highlights
  • 10 Rekomendasi Tempat Wisata di Los Angeles, Amerika Serikat
  • 10 Rekomendasi Tempat Wisata di San Francisco, Amerika Serikat
  • Harga Makanan di Los Angeles, Amerika Serikat



Foto ilustrasi: Pixabay

Sebenarnya aman nggak sih, bila ibu hamil melewati mesin metal detector? Gosipnya metal detector ini tidak baik untuk bumil, benarkah demikian?

Karena tidak mau asal percaya berbagai praduga yang tidak pasti kebenarannya, saya memutuskan bertanya kepada dokter kandungan saya, sebelum keberangkatan saya ke Amerika Serikat pada Oktober 2019, mengingat di bandara saya pasti akan melewati alat pendeteksi metal ini. Lalu kurang lebih seperti ini jawaban sang dokter:

"Boleh kok, melewati mesin metal detector karena itu bukan x-ray, jadi tidak akan masuk sampai ke dalam tubuh. Yang berbahaya adalah mesin x-ray pemeriksaan tas. Tapi kalau kamu tidak nyaman, kamu bilang saja sama petugas bandara bahwa kamu sedang hamil."

Saya pun mengikuti anjurannya. Saya bilang sama setiap petugas bandara mengenai kondisi saya sebelum masuk ke dalam mesin metal detector dan saya mendapat reaksi yang berbeda-beda dari para petugas bandara.

Contohnya saat di bandara internasional Soekarno Hatta, Jakarta, petugasnya dengan cepat berkata bahwa hal ini aman dan meminta saya melewati mesin metal detector tanpa perlu merasa khawatir. 

Dari bandara Soetta, saya transit di Tokyo sebelum lanjut penerbangan ke Los Angeles. Di sini, saat bilang saya sedang hamil, saya langsung diarahkan ke jalur yang berbeda, tidak melewati mesin metal detector. Namun sebagai penggantinya, ada petugas wanita yang meraba tubuh saya dari atas hingga bawah. 

Sedangkan saat saya mau terbang dari bandara LAX, Los Angeles menuju Chicago, petugas di sini bilang aman karena mesin ini hanya memindai bagian luar saja tanpa kena ke dalam tubuh. Penjelasan yang kurang lebih sama dengan yang diberikan oleh dokter saya. Saat saya bertanya sama petugas yang berbeda, dia pun memberi penjelasan yang sama. Meskipun kali ini mesin metal detectornya berbeda. Kalau yang sebelum-sebelumnya hanya seperti gerbang, di sini mesin metal detectornya menyerupai tabung dimana saya harus mengangkat kedua tangan saya ke atas. 

Di bandara Roanoke, Virginia, saat saya mau terbang ke Washington D.C, sang petugas pun berkata bahwa aman bagi bumil untuk melewati mesin metal detector karena pindaian tidak sampai ke bagian dalam tubuh. 

Saya juga menanyakan hal yang sama ketika berada di bandara internasional San Francisco, ketika akan terbang menuju Tokyo. Sang petugas yang melakukan x-ray tas berkata bahwa aman bagi saya untuk melewati mesin metal detector namun saya diperbolehkan bila tidak mau melakukannya. 

Untuk mengkonfirmasi, saya bertanya lagi kepada petugas pria yang melakukan pemindaian metal ini dan dia pun bilang hal yang sama. 

"Bila kamu tidak mau melewatinya tidak apa-apa, nanti akan ada petugas wanita yang membantu memeriksa," ucapnya. 

Lalu saya pun memutuskan menunggu di pinggir sampai petugas wanita datang. Setelah beberapa waktu menunggu, ada seorang petugas wanita dan kemudian saya jelaskan lagi situasinya kepada dia. 

Dia mengatakan hal yang sama bahwa ini aman tapi kalau saya memutuskan tidak mau tidak apa-apa. Hanya saja, petugas wanita yang bertugas untuk memeriksa sedang tidak ada. Oh, saya pikir tadinya dia yang akan memeriksa, ternyata beda orang lagi. 

Akhirnya saya putuskan melewati metal detector yang mirip tabung tersebut. Selain percaya dengan kata-kata mereka, saya juga khawatir sama barang-barang saya yang sudah masuk mesin x-ray dari tadi. Nanti kalau barang-barang saya tidak sengaja terbawa oleh orang lain, saya juga yang akan repot. 

Berdasarkan pengalaman saya di atas, mesin metal detector aman untuk ibu hamil namun saya sarankan untuk memeriksakan diri kepada dokter kandungan sebelum melakukannya karena kondisi kehamilan tiap orang berbeda. 

Selain itu, lebih baik menjelaskan mengenai kondisi kita kepada petugas bandara setiap sebelum melewati mesin metal detector, sekadar untuk berjaga-jaga dan meminta nasihat terbaik dari mereka. 

Ada yang punya pengalaman yang sama? Share ya, di kolom komentar. 

Booking.com
----------@yanilauwoie----------


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • My 2019 Highlights
  • 10 Rekomendasi Tempat Wisata di Los Angeles, Amerika Serikat
  • 10 Rekomendasi Tempat Wisata di San Francisco, Amerika Serikat
  • Harga Makanan di Los Angeles, Amerika Serikat
  • Harga Makanan di San Francisco, Amerika Serikat
Newer Posts Older Posts Home

My Travel Book

My Travel Book
Baca yuk, kisah perjalanan saya di 20 negara!

My Travel Videos

Connect with Me

Total Pageviews

Categories

Amerika Serikat Australia Belanda Belgia Ceko Denmark Hong Kong Indonesia Inggris Irlandia Italia Jepang Jerman Korea Selatan Macau Malaysia Prancis Singapura Skotlandia Spanyol Thailand Vietnam

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  May (1)
      • 6 Lokasi untuk Melihat Bunga Musim Semi di Bratisl...
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2024 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2022 (6)
    • ►  October (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (19)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (51)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (10)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2018 (30)
    • ►  December (8)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (60)
    • ►  December (6)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (8)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  May (8)
    • ►  April (9)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (6)
    • ►  April (5)
    • ►  March (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (51)
    • ►  December (7)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  June (4)
    • ►  May (6)
    • ►  April (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (6)
    • ►  July (5)
    • ►  June (3)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
    • ►  February (5)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (13)
    • ►  December (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)

Search a Best Deal Hotel

Booking.com

Translate

Booking.com

FOLLOW ME @ INSTAGRAM

Most Read

  • Tour Guide Berbahasa Indonesia di Thailand: Saya Belajar dari Sinetron
  • Mudahnya Mengurus Visa Australia
  • Turis Indonesia Terkenal Tukang Pipis di Korea Selatan
  • Tip Hemat Jalan-jalan di Sydney, Australia

About Me

Hi, I'm Yani. I have 15 years experience working in the media industry. Despite my ability to write various topics, my biggest passion is to write travel stories. By writing travel stories, I combine my two favourite things; travelling and writing. All the content in this blog are mine otherwise is stated. Feel free to contact me if you have questions or collaboration proposal :)

Contact Me

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 My Travel Stories. Created by OddThemes & VineThemes