My Travel Stories

Lots of memories I can't keep, that's why I write.

Powered by Blogger.
  • Home
  • Indonesia
  • Asia
  • Australia
  • Eropa
  • Amerika
  • Travel Tips
  • Itinerary
  • Portfolio



Sejak akhir tahun 2021, Australia sudah membuka kembali perbatasannya yang sempat tutup nyaris dua tahun karena pandemi COVID-19. Kini, turis atau wisatawan bisa kembali mengunjungi Australia. Tidak mau melewatkan kesempatan ini, saya pun mengundang kedua orangtua saya untuk bisa berkunjung ke sini. 

Lalu apa saja syarat masuk Australia saat pandemi? Berikut berdasarkan pengalaman kedua orangtua saya ketika masuk Australia minggu ketiga April 2022.

1. Paspor + visa. Orangtua saya menggunakan visitor visa sub class 600. Visa ini diperuntukan untuk kunjungan sementara, baik dengan tujuan wisata atau bertemu keluarga. Saat pembuatan visa, dijelaskan bahwa tujuan mereka ke sini adalah untuk berkunjung/bertemu dengan saya, suami saya dan cucu mereka. Kurang lebih sekitar satu bulan dari mulai daftar visa secara online hingga akhirnya visa disetujui.   

2. Bukti vaksin. Persyaratan untuk masuk negara bagian Victoria adalah visitor harus sudah divaksin minimal dua kali. Orangtua saya sudah divaksin tiga kali, jadi tidak masalah. Jenis vaksin yang mereka gunakan, yaitu Sinovac dan AstraZeneca juga sudah diakui oleh pemerintah Australia. Sedangkan untuk mendapatkan bukti vaksin internasional (berbahas Inggris), orangtua saya dapatkan dari aplikasi PeduliLindungi. 

3. Tiket pesawat pulang pergi. Ini sih, syarat standar ya kalau bepergian ke luar negeri, harus punya bukti tiket pulang dan pergi. Tapi tiket ini dibeli setelah visa mereka disetujui. Jadi saat daftar visa, tidak menunjukkan bukti tiket sama sekali.    

4. Tes PCR atau antigen saat mendarat. Mulai 18 April 2022, Australia tidak meminta lagi bukti tes PCR sebelum keberangkatan pesawat namun untuk yang sudah mendarat di Australia wajib tes PCR atau antigen harus melalui badan kesehatan resmi, tidak boleh tes sendiri. Kedua orangtua saya melakukan tes PCR di HISTOPATH bandara Melbourne. Hasilnya mereka terima dalam waktu sekitar 1,5 jam. Visitor wajib melakukan karantina (tidak bersosialisasi) mandiri dulu selama hasil tes belum keluar. 

5. Mengisi Digital Passenger Declaration (DPD) secara online di link berikut ini. DPD harus diisi dalam waktu 72 jam sebelum keberangkatan pesawat. 

Selain dokumen wajib di atas, dokumen tambahan yang dimiliki orangtua saya adalah asuransi. Mengingat mereka bepergian di masa pandemi dan biaya rumah sakit di Australia super mahal, jadi memiliki asuransi yang bisa meng-cover urusan kesehatan selama mereka di sini tentunya pilihan yang bijak. 

Dokumen-dokumen ini diperiksa oleh petugas check-in Singapore Airlines (maskapai yang mereka gunakan) sementara menurut orangtua saya, dokumen-dokumen ini tidak diperiksa lagi di imigrasi bandara kedatangan Melbourne. Petuga imigrasi hanya menyambut mereka dengan ucapan selamat datang di Australia. 

Yuk, yang ingin jalan-jalan ke Australia, syaratnya tidak sulit, kok :)


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • Persyaratan Masuk Amerika Serikat Saat Pandemi COVID-19

  • Drama Menginap di 'Gubuk' Saat Pandemi

  • Kebijakan Australia Berubah: Siapkah Saya Hidup Berdampingan dengan COVID-19?

  • My 2021 Highlight: Road Trip di Australia dengan Balita Saat Pandemi COVID-19
  • Road Trip Ballarat: Boleh Tolong Tunjukkan Bukti Vaksinnya?





Setelah hampir dua tahun, akhirnya saya naik pesawat lagi. Kali ini untuk perjalanan bisnis ke Amerika Serikat. Jangan tanya deh, bagaimana khawatirnya saya sebelum terbang. Karena perjalanan saat pandemi sangat jauh berbeda dengan sebelum wabah ini ada. Tapi Alhamdulillah perjalanan saya masuk Amerika Seirkat sangat lancar. Saya mengetik ini dari kamar hotel di Santa Cruz, California, di hari pertama saya tiba di Amerika Serikat. 

Dokumen Perjalanan yang Dibutuhkan

Saya awalnya sempat merasa akan sangat ribet mengurusi berbagai dokumen perjalanan di masa pandemi COVID-19 ini namun ternyata, persyaratan untuk masuk Amerika Serikat saat pandemi COVID-19 tidak susah-susah amat. Hanya butuh hal-hal berikut ini:

1. Paspor + visa. Untungnya paspor saya masih aktif. Saya juga masih punya visa kunjungan Amerika Serikat. Saya membuatnya pada tahun 2019 dan dapat visa untuk kunjungan berkali-kali yang berlaku selama lima tahun.

2. Bukti vaksin. Saya sudah vaksin Pfizer sebanyak tiga kali. Vaksin ini masuk kategori vaksin yang diperbolehkan masuk ke Amerika Serikat. Jadi saya hanya perlu mencetak bukti vaksin saja dari aplikasi medicare Australia saya. 

3. Bukti negatif COVID-19 dengan melakukan tes PCR atau antigen 24 jam sebelum penerbangan. Saya memilih tes PCR di bandara Melbourne sekitar 16,5 jam sebelum penerbangan saya. Hasil tes negatif bisa saya terima dalam bentuk PDF email sekitar 30 menit setelah tes. Sangat cepat! Oh iya, ini tidak bisa dilakukan sendiri ya. Harus melalui badan kesehatan resmi. 

4. Tiket pesawat pulang pergi. Petuga imigrasi bandara kedatangan internasional San Fransisco meminta bukti tiket pulang saya. Untungnya saya sudah cetak semua, sehingga bisa langsung saya tunjukkan saat itu juga. 

Tambahan Dokumen Lainnya

Selain keempat dokumen wajib tersebut, saya juga mempersiapkan dokumen standar travelling pada umumnya, yaitu

5. Asuransi perjalanan. Sebelum masa pandemi, saya selalu siap dengan asuransi perjalanan karena kita tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi selama perjalanan kita. Bedanya kali ini, asuransi perjalanan yang saya beli adalah yang juga meng-cover biaya rumah sakit bila saya terkena COVID-19. Meskipun bukan dokumen yang diwajibkan namun saya rasa sangat perlu untuk memiliki asuransi perjalanan. 

6. Bukti akomodasi. Saya mendapat pertanyaan mengenai tempat menginap dari dua orang petugas, yaitu petugas check in di bandara Melbourne dan petugas imigrasi di bandara kedatangan internasional San Fransisco. Saya memang tidak punya bukti bookingan hotel karena semuanya diurus oleh kantor saya tapi saya menunjukkan undangan perjalanan bisnis dari kantor saya yang di dalamnya menyebutkan hotel yang menjadi lokasi kegiatan. 

7. Bukti finansial. Saya sama sekali tidak membawa uang dollar tapi saya membawa kartu ATM dan kartu kredit yang bisa dipakai sewaktu-waktu tentunya. Jadi saat petugas imigrasi bandara internasional San Francisco bertanya berapa uang yang saya bawa, agak bingung juga jawabnya. Jadi saya sebut saja jumlah kira-kira yang ada di rekening bank saya. 

Kesimpulan

Dokumen persyaratan masuk Amerika Serikat saat pandemi sebenarnya tidak jauh berbeda dari sebelum pandemi. Hanya ada dua dokumen tambahan yang diminta, yaitu bukti vaksin dan tes PCR atau antigen yang menunjukkan negatif COVID-19. Tapi sebaiknya selalu periksa kembali semua persyaratan yang dibutuhkan sebelum pergi karena peraturan sering sekali berubah sehingga persyaratan juga bisa berubah setiap saat. 

Saran saya, cek saja persyaratan yang tertera di website maskapai yang akan membawa kita karena mereka cukup update perihal ini. Dan mereja juga yang pertama kali akan mengecek semua persyaratan kita. Jadi kalau saat check in, ada persyaratan yang tidak bisa kita penuhi mereka tidak akan mengizinkan kita terbang. 

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • Drama Menginap di 'Gubuk' Saat Pandemi

  • Kebijakan Australia Berubah: Siapkah Saya Hidup Berdampingan dengan COVID-19?

  • My 2021 Highlight: Road Trip di Australia dengan Balita Saat Pandemi COVID-19
  • Road Trip Ballarat: Boleh Tolong Tunjukkan Bukti Vaksinnya?

  • Senangnya Nemu Boba Kemasan di Australia




Akhir Januari lalu, kami melakukan road trip lagi. Kali ini yang menjadi tujuan adalah Portland, kota tua yang berada di negara bagian Victoria dan berbatasan tepat dengan negara bagian Australia Selatan. Kota ini paduan antara sejarah, alam yang luar biasa cantik dan kenyamanan fasilitas ala kota. Namun bukan itu yang mau saya ceritakan di sini, melainkan drama di penginapan yang kami alami.

Perjalanan dari rumah kami ke Portland harusnya hanya memakan waktu 3,5 jam namun karena kami melakukan perhentian di berbagai kota dan sempat hujan deras yang membuat kami berhenti sejenak demi keamanan diri, total waktu yang ditempuh menjadi delapan jam. Untungnya saat ini sedang musim panas, sehingga ketika kami sampai di penginapan jam 19.00, hari masih terang benderang sehingga memudahkan mobilitas.

Tentang Penginapan

Tempat yang kami sewa berada sekitar 10 menit sebelum kota Portland dan lokasinya juga terisolasi dari tetangga sehingga membuat kami memutuskan ini tempat yang tepat untuk menghindari keramaian. Namun di sisi lain, kami dimanjakan dengan akses ke pantai yang hanya tiga menit jalan kaki dari pagar rumah melalui jalan umum atau lima menit dari pintu rumah dengan melalui akses privat melewati pepohonan dan semak-semak yang membuatnya lebih terasa alami.

Sang pemilik menyebut akomodasi ini "shack" atau dalam bahasa Indonesianya "gubuk". Tentunya tempat ini tidaklah seperti gubuk dalam arti yang sesungguhnya. Karena layaknya rumah, tempat ini ini menyediakan fasilitas yang oke seperti TV, mesin cuci baju, mesin cuci piring, oven, microwave, AC, toaster, berbagai perlengkapan makan dan masak. Lengkaplah, sesuai perlengkapan standar rumah-rumah di Australia. Lalu dari lantai 2, baik itu dari dalam kamar maupun balkoninya kami bisa mendapatkan sedikit pemandangan laut.


Namun ada alasan kenapa mereka menyebut tempat ini gubuk. Bangunan rumah ini mengingatkan saya akan kain perca, yang dibuat dari gabungan-gabungan kain yang berbeda. Nah, tempat ini seperti itu, antar dindingnya seperti menggunakan kayu dan lis kayu yang berbeda yang membuatnya kurang rapi. Gubuk ini dibangun bukan dengan material unggulan namun masih layak huni banget.

Shannon menemukan shack ini di website lokal pemesanan akomodasi. Shack ini tidak ada di pemesanan akomodasi seperti booking.com atau agoda. Cara pesannya juga tidak otomatis. Jadi setelah melakukan booking di situs tersebut, kami harus menunggu sekitar satu hari sampai agensi menghubungi kami dan bisa melakukan transfer.

Saat berkorespondensi dengan sang agen, Shannon mendapat informasi bahwa mereka biasanya mengosongkan rumah satu hari sebelum penyewa yang lain masuk untuk melakukan pembersihan sesuai standar COVID-19. Mendengar ini saya tenang dong, karena berarti prosedur protokol kesehatan dijalankan dengan baik.

Sudahlah lokasi rumah yang jauh dari tetangga dan produser kebersihannya mantap. Okelah, saya jadi bisa tenang untuk bepergian! Karena jujur aja perjalanan kali ini agar bikin parno mengingat kasus COVID-19 yang luar biasa tinggi di sepanjang sejarah Victoria. Baca tentang berubahnya kebijakan Australia dalam menangani kasus COVID-19 di tautan ini.

Kebersihan di penginapan

Namun ketenangan saya langsung terporakporanda begitu kami masuk ke dalam rumah. Karena sofa penuh pasir dan lantai pun ngeres, banyak pasir dan debu. Lalu kamar mandi tercium aroma tak sedap. Saya jadi berpikir, ini sebenarnya mereka sudah membersihkan rumah dari tamu sebelumnya atau belum sih?

Tapi saya lihat kitchen bench bersih, handuk-handuk di kamar mandi pun bersih, dan kompor bersih. Jadi logikanya rumah ini sudah dibersihkan. Tapi kenapa kesannya nggak total membersihkannya?

Aduh kalau cuma perkara lantai ngeres sih, saya bisa dengan sangat mudahnya menyapunya. Toh ruangannya tidak besar. Saya pernah juga ketika liburan ke Bali mendapatkan penginapan dengan lantai ngeres sampai saya harus pinjam sapu ke petugas hotel untuk membersihkan.

Tapi ini bukan perkara nyapunya. Ini membuat saya mempertanyakan apakah mereka sudah melakukan pembersihkan maksimal sesuai standar COVID-19 kalau lantai aja masih kotor. Jadi bikin parno, kan?

Ya daripada hidup nggak tenang kan, akhirnya saya bersihkan ini rumah dan saya minta Shannon menjaga Noah di beranda rumah. Saya sapu lantainya dan saya disinfektan (untungnya tersedia disinfektan di rumah ini) semua permukaan yang terlihat. Mulai dari sofa, kitchen bench, permukaan lemari, microwave, oven, gagang pintu dan pegangan tangga ke lantai dua. Intinya semua yang berpotensi dipegang, saya disinfektan.

Setelah satu jam saya bersih-bersih, saya bilang sama Shannon, "Saya tidak yakin apa yang saya lakukan bisa membunuh virus COVID-19, kalau seandainya ada virus tersebut di rumah ini. Namun satu hal yang pasti, saya mendapatkan ketenangan pikiran." Shannon paham dan merasakan hal yang sama.

Alhamdulillah nggak ada COVID-19

Kami menginap di gubuk tersebut selama 8 malam dan sudah dua minggu sejak kami meninggalkan akomodasi tersebut dan Alhamdulillah kami bertiga sehat dan tidak terkena COVID-19. Itu berarti di penginapan tidak ada virus COVID-19.

Overall gubuk ini nyaman untuk ditempati. Fasilitas untuk hidup sehari-hari lengkap, suasana rumah sangat hijau, akses ke kota dekat dan ke pantai super dekat. Harganya juga tidak terlalu mahal untuk fasilitas satu rumah. Sayang saja, harus sedikit ternoda oleh masalah kebersihan.

Namun ini memberikan kami pelajaran agar jangan langsung percaya dengan apa yang dikatakan pengelola dan amannya memang kita disinfektan sendiri kamar atau rumah yang akan kita sewa. Makan waktu dan capek tenaga tapi bagi saya hal tersebut memberikan ketenangan pikiran. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Sepakat?

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • Kebijakan Australia Berubah: Siapkah Saya Hidup Berdampingan dengan COVID-19?

  • My 2021 Highlight: Road Trip di Australia dengan Balita Saat Pandemi COVID-19
  • Road Trip Ballarat: Boleh Tolong Tunjukkan Bukti Vaksinnya?

  • Senangnya Nemu Boba Kemasan di Australia

  • 6 Tip Travelling Hemat Ini Bisa Jaga Dompet Juga Bumi



Hari ini ada 44.155 kasus COVID-19 baru di negara bagian Victoria, Australia dengan total kasus aktif sebanyak 146.863. Dan angka ini sangat mungkin akan terus meningkat mengingat varian omicron yang memiliki penyebaran luar biasa cepat dan tidak adanya lagi kebijakan lockdown. Lalu siapkah saya hidup berdampingan dengan COVID-19?

Sebelumnya, Australia memiliki strategi "nol kasus COVID-19". Australia melakukan berbagai cara agar si COVID-19 tidak betah lama-lama di negara kanguru ini. Misalnya, Australia melacak dan memburu setiap virus COVID-19 yang ada. Satu orang saja terinfeksi COVID-19, 14 hari ke belakang pergerakan orang tersebut langsung dicek, kemana dia pergi dan bertemu siapa saja. Dan orang-orang yang datang ke tempat yang sama serta orang-orang yang melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi tersebut langsung dites secara gratis. Jadi nggak heran kalau dari satu kasus aja, yang dites bisa ratusan, bahkan ribuan. Sehingga penyebarannya bisa langsung ditekan sebelum bergerak lebih parah. 

Selain itu, untuk tetap membuat Australia "nol kasus COVID-19", perbatasan internasionalnya ditutup serta negara bagian-negara bagian di sini juga sering banget buka tutup lockdown. Bahkan ada lho, hanya satu kasus saja terdeteksi, langsung diputuskan lockdown. Ini terjadi di ibukota Australia, Canberra.   

Melbourne yang merupakan ibu kota negara bagian Victoria, menjadi salah satu kota yang sering menjadi pusat hotspot COVID-19 karenanya nggak heran Melbourne sering lockdown. Namun itu terbukti berhasil mengusir virus dan membuat orang-orangnya bisa merasakan hidup normal untuk sekian waktu, sebelum kembali lockdown. Saking seringnya lockdown, Melbourne sempat menjadi salah satu kota dengan lockdown terlama di dunia. 

Sedangkan untuk saya yang tinggal di regional Victoria, kehidupan lebih nyaman lagi karena bisa dibilang nyaris tidak pernah merasakan lockdown. Pernah ada lockdown tapi tidak lama karena kasusnya juga masih dalam hitungan jari sehingga lockdown cepat berakhir. Jadi saat saya melihat negara-negara lain jumpalitan mengatasi virus ini, saya sempat merasakan bahwa hidup cukup normal meskipun prokes tetap dilakukan. 

Namun itu tinggal sejarah karena kini Australia mengubah strateginya dari "nol kasus COVID-19" menjadi "hidup berdampingan dengan COVID-19". Kebijakan ini sudah terdengar sejak varian delta menyerang. Kecepatan varian ini menularkan, membuat negara ini kesulitan untuk membuatnya menjadi nol kasus. Karena itu pemerintah Australia menggenjot mati-matian tingkat vaksinasi. 

Victoria yang mencapai sekitar 80% tingkat vaksinasi, memutuskan mengangkat lockdown panjangnya sekitar Oktober 2021. Tidak ada lagi pembatasan kilometer perjalanan, tidak ada lagi pembatasan kunjungan ke tempat umum atau rumah seseorang, tidak ada lagi larangan keramaian, dan tidak ada lagi kewajiban memakai masker. Dan sampai saya mengetik ini, Victoria tidak pernah memberlakukan lockdown lagi. 

Perdana Menteri Australia Scott Morrison berkata tidak akan ada lagi lockdown dan kita harus hidup berdampingan dengan COVID-19. Dia tidak khawatir dengan keberadaan omricon karena fasilitas kesehatan masih memadai. Memang sih, omricon ini kecepatan penyebarannya luar biasa namun kabarnya gejalanya tidak separah varian lain dan dengan banyaknya yang sudah divaksinasi, bisa menekan jumlah orang yang harus dirawat di rumah sakit. 

Di satu sisi saya mengerti dengan keputusan ini. Ekonomi harus kembali berjalan. Australia sudah menutup diri nyaris dua tahun karena pandemi, jadi wajar kalau pemerintah harus menggerakkan kembali perekonomian untuk bisa kembali pulih. Dan salah satu caranya adalah dengan menghentikan lockdown tersebut. 

Selain itu, banyak orang yang secara mental mengalami gangguan karena lockdown yang cukup lama. Jadi mungkin dengan tak ada lagi lockdown dapat membuat orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental bisa merasa baik kembali. 

Tentu saja kebijakan baru ini membuat saya khawatir. Saya merasa hidup tidak seaman sebelumnya meski saya juga tidak tahu dimana tempat yang saat ini lebih aman dari sini. Karena nyaris semua negara di dunia mengalami problema yang sama.

Tahun lalu, saya bisa road trip karena memang kasus COVID-19-nya tidak banyak, bahkan Australia Selatan dan ACT yang sempat kami kunjungi saat itu, tidak ada kasus COVID-19 sama sekali sehingga membuat saya merasa sedang berada di planet lain. 

Dengan kondisi sekarang ini saya tidak yakin saya bisa melakukan road trip lagi karena bisa dibilang tidak ada lagi negara bagian yang sekarang nol kasus COVID-19. Bahkan Australia Selatan yang sempat kami kunjungi 6 bulan lalu, kasus COVID-19-nya sudah mencapai ribuan kasus per harinya.  

Sebenarnya tidak kemana-mana pun saya masih baik-baik saja karena kami tinggal di dalam hutan dengan pemandangan langsung ke laut lepas. Melihat laut dari balik jendela rumah menjadi kegiatan normal yang baik untuk kesehatan mental saya. Namun nggak enaknya tinggal di destinasi wisata adalah pantai yang biasanya seperti milik pribadi menjadi ramai ketika musim liburan Natal dan Tahun Baru seperti saat ini. 

Apalagi dengan tanpa adanya pembatasan dan lockdown, manusia benar-benar ada di mana-mana. Bahkan saat kami ke supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari saja, susah cari tempat parkir karena banyaknya turis yang belanja. Untuk beli susu Noah saja, saya jadi parno. Meski untungnya, supermarket tersebut masih mewajibkan semua pengunjung memakai masker.

Saya dan Shannon sendiri memutuskan untuk tetap memakai masker kalau kami pergi ke fasilitas umum meskipun tidak ada lagi kewajiban dari pemerintah. Ini cara kami untuk tetap menjaga diri kami. 

Lalu apakah saya siap hidup berdampingan dengan COVID-19 seperti yang diharapkan Scott Morrison? Jawabannya tidak! Tapi pada kenyataannya, mau tidak mau saya harus menjalaninya. Yang bisa saya lakukan hanyalah tetap menjaga diri saya dan keluarga saya sebaik-baiknya dengan tetap melakukan prokes dan menghindari keramaian sebisa kami dan tentunya banyak berdoa!

Biar bagaimanapun nasib saya ada di tangan Allah SWT. Semoga kita semua tetap ada di dalam lindunganNya. Amin!


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • My 2021 Highlight: Road Trip di Australia dengan Balita Saat Pandemi COVID-19
  • Road Trip Ballarat: Boleh Tolong Tunjukkan Bukti Vaksinnya?

  • Senangnya Nemu Boba Kemasan di Australia

  • 6 Tip Travelling Hemat Ini Bisa Jaga Dompet Juga Bumi

  • Rekomendasi Penginapan Nyaman di Ballarat, Australia: Eureka Views B&B Ballarat

 




Kondisi pandemi COVID-19 yang tak berkesudahan membuat saya belum bisa bepergian meninggalkan Australia, bahkan untuk pulang ke Indonesia sekalipun. Namun saya bersyukur karena hasrat travelling saya masih bisa terpenuhi tahun ini karena saya, Shannon dan Noah sempat melakukan road trip ke beberapa tempat pada tahun 2021 ini. Jadi bisa dibilang, highlight perjalanan saya pada tahun ini adalah road trip di Australia. 

1. Road Trip ke Canberra
Berkunjung ke Canberra, ACT menjadi road trip pertama yang kami lakukan pada tahun ini. Ini pertama kalinya saya ke Canberra. Yang saya suka dari Canberra adalah banyak museum dan galeri bagus terbuka untuk umum, gratis dan ramah bayi. Cocok dengan kondisi kami yang membawa Noah yang saat itu masih berusia 11 bulan. 


Termasuk di antaranya National Museum of Australia, National Gallery of Australia yang saat itu memiliki pameran karya seni dari Yayoi Kusama yang instagrammable, National Potret Gallery yang memiliki pameran lukisan potrait tokoh-tokoh terkenal, dan Australian War Memorial, monumen yang didedikasikan kepada para prajurit korban perang. Untuk keterangan tempat tersebut dan tempat-tempat gratis lainnya bisa dibaca di tautan berikut ini.

Saya juga suka dengan kotanya yang berada di bawah kaki gunung dengan danau besar yang ada di tengah kota. Keberadaan gunung dan danau ini membuat Canberra yang sangat kota menjadi terasa cukup hijau dan cukup damai. 

Kalau untuk liburan atau jalan-jalan rasanya cukup menghabiskan waktu hanya 2-3 hari saja di sini pasti sudah habis terkunjungi semuanya. Tapi kami waktu itu tinggal lebih lama di sana karena Shannon ada pekerjaan yang harus dilakukan di sana dan itu alasan kenapa kami melakukan road trip ke sana.

2. Road Trip ke Australia Selatan
Road trip yang kami lakukan pada tengah tahun ini adalah road trip dalam rangka liburan. Dari rumah kami di Victoria, kami berhenti di berbagai titik yang menurut kami menarik dijelajahi, sebelum kami sampai di ibukota Australia Selatan, yaitu Adelaide. Namun Adelaide memang bukan tujuan utama kami. Ini hanya satu tempat yang kami kunjungi selama road trip. Tujuan utamanya tentu menikmati berbagai destinasi yang kami kunjungi. 

Dengan mengunjungi Adelaide, saya sudah resmi berkunjung ke seluruh negara bagian Australia dengan ibukotanya. Mulai dari Melbourne, Sydney, Perth, Hobart, Brisbane dan Adelaide. Menurut saya Adelaide hanyalah kota biasa. Kota ini tidak memesona saya layaknya Melbourne dan Hobart namun countryside Australia Selatan sangatlah memesona saya. Banyak sekali tempat yang luar biasa bagus yang membuat saya berkata, "Australia itu indah!"


Beberapa di antaranya adalah Tantanoola Caves (videonya bisa ditonton di sini), gua kecil namun memiliki susunan stalaktit dan stalakmit yang cantik sekali, Umpherston Sinkhole (videonya bisa ditonton di sini), taman cantik yang unik karena ada di lubang bawah tanah, dan Granite Island (videonya bisa ditonton di sini), pulau kecil yang memesona dengan susunan bebatuan granitnya. Tiga tempat tersebut benar-benar membuat saya terkagum-kagum dan sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk menikmati keindahannya. 

3. Road Trip ke Ballarat 
Ini adalah road trip terakhir yang kami lakukan pada tahun ini sekaligus yang sempat membuat saya deg-degan. Berbeda dengan road trip yang kami lakukan ke Canberra dan Australia Selatan di mana kami datang ke tempat yang saat itu bebas COVID-19 sehingga meembuat saya merasa sedang ada di planet lain, Ballarat tidak bebas COVID-19. Berada di negara bagian Victoria yang selalu jadi salah satu hot spot COVID-19, saat kami berkunjung, Ballarat memiliki 5 kasus COVID-19 per hari. Namun karena beberapa pertimbangan, kami memutuskan pergi. Bisa dibaca alasannya di sini. 

Meski hanya melakukan perjalanan 2 malam 3 hari saja, saya cukup terkesan dengan kota tua ini. Bangunan-bangunan tua berpadu dengan nuansa hijau dan danau di pusat kota membuat kota ini terasa hangat meskipun termasuk kota yang terdingin di Victoria. 

Salah satu favorit saya adalah Ballarat Botanical Gardens (videonya bisa dilihat di sini) yang tertata cantik dengan bunga-bunga yang berwarni-warni. Saya sudah pernah mengunjungi botanical gardens di beberapa kota di Australia dan yang ada di sini merupakan salah satu yang tercantik. Jadi wajib banget dikunjungi. 

Hal lain yang saya sukai ketika melakukan road trip ke Ballarat adalah mengunjungi ladang bunga canola yang sungguh memesona. Bayangkan saja, hamparan bunga berwarna kuning yang memenuhi lahan berhektar-hektar. Cantiknya nggak ketolongan!

Note:
Travelling dengan Bayi
Travelling dengan bayi yang kemudian bertambah besar dan menjadi balita memiliki keseruan dan tantangannya tersendiri. Yang jelas, saya dan Shannon tidak boleh egois hanya memikirkan kepentingan kami saja. Kami juga harus memasukkan Noah dan kebutuhannya ketika melakukan rencana perjalanan. 

Berbeda ketika Noah masih bayi kecil di mana dia cukup anteng dalam mobil, makin dia bertambah besar maka dia makin tidak betah bila berlama-lama berada di dalam mobil. Karena itu, sebelum pergi Shannon biasanya sudah mengatur rute tempat-tempat mana saja kita bisa break agar Noah bisa bermain sesaat, menyalurkan keaktifannya. 

Untuk yang ingin bepergian dengan bayi, saya pernah menuliskan tip road trip yang mungkin bisa berguna. Silakan dibaca di sini. 

Road Trip Saat Pandemi
Bepergian saat pandemi jelas berbeda dengan situasi normal (bisa dibaca di sini untuk detailnya). Banyak hal yang harus kita perhatikan untuk memastikan perjalanan kita bisa tetap lancar dan aman. Dan tentunya protokol kesehatan yang tidak boleh dikasih kendor. 

Saya sungguh berharap kita semua bisa tetap sehat dan pandemi ini segera berakhir. Semoga tahun 2022 bisa membawa lebih banyak kebaikan untuk kita semua. 

Selamat tahun baru 2022!


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie

Blog Sebelumnya:
  • Road Trip Ballarat: Boleh Tolong Tunjukkan Bukti Vaksinnya?

  • Senangnya Nemu Boba Kemasan di Australia

  • 6 Tip Travelling Hemat Ini Bisa Jaga Dompet Juga Bumi

  • Rekomendasi Penginapan Nyaman di Ballarat, Australia: Eureka Views B&B Ballarat

  • Pengalaman Bikin Kacamata di Australia, Bingung Karena Tidak Diminta Uang Muka


 




Saya, Shannon dan Noah pergi melakukan road trip ke Ballarat, Victoria pada minggu ke-3 Oktober. Sebenarnya agak deg-degan sih, melakukan road trip kali ini karena kasus COVID-19 di Victoria belum juga turun. Masih di kisaran 1000-an kasus baru per harinya. Tapi ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan sehingga kami akhirnya berani travelling. 

Pertimbangan pertama adalah kasus COVID-19 di Ballarat tidak tinggi. Sehari sebelum kami pergi, Ballarat hanya ada 5 kasus COVID-19 per hari. Yap, saat itu Ballarat bukanlah hot spot COVID-19. Kota yang selalu masuk sebagai hot spot COVID-19 tidak lain dan tidak bukan adalah Melbourne dan sekitarnya (greater Melbourne). Karena kasus COVID-19 terbanyak di Victoria nyaris selalu berasal dari sana.

Dan waktu keberangkatan kami ke Ballarat adalah seminggu sebelum orang-orang dari Melbourne dan sekitarnya diizinkan bepergian ke area regional Victoria. Yap, meski saat itu lockdown panjang di Melbourne dan sekitarnya sudah diangkat, orang Melbourne dan sekitarnya masih belum boleh bepergian ke area regional Victoria. 

Jadi saya berpikir mungkin ini kesempatan terakhir untuk bisa bepergian tanpa dihantui oleh kemungkinan bertemu banyak orang dari Melbourne yang mungkin saja membawa virus COVID-19. Ini bukan karena saya parno atau curigaan sih. Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi karena fokus pemerintah bukan lagi menekan kasus COVID-19 sampai nol melainkan fokus pada tingginya angka vaksinasi. Buktinya ketika lockdown di Melbourne diangkat, kasus masih di atas 1000-an per hari. 

Nah, untuk orang-orang yang telah divaksinasi dan memiliki imun bagus sangat mungkin mereka tidak akan merasakan gejala apa-apa bila terkena COVID-19. Jadi bisa saja orang tersebut bepergian kemana-mana dan terlihat sehat namun sebenarnya menyebarkan virus. 

Dengan dua pertimbangan tersebut, plus keinginan untuk keluar rumah sesaat di momen ulang tahun saya, akhirnya saya memberanikan diri dan kami memutuskan pergi. Tentu saja dengan tetap memenuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker dan check-in ketika kami mengunjungi tempat-tempat umum. 

Selain kedua hal tersebut, ada lagi protokol yang berbeda dalam road trip kali ini, yaitu kami harus menunjukkan bukti vaksin dan identitas diri yang menunjukkan alamat kami. Paling tidak di dua restoran yang kami kunjungi, yaitu di Dr Fill dan Eclectic Taste Cafe & Pantry, kami ditanyakan hal ini. 



Di hari pertama di Ballarat, kami makan malam di Dr. Fill. Begitu melewati pintu masuk ada seorang pelayan menunggu dekat meja yang di atasnya terdapat pengumuman bahwa restoran ini hanya menerima pengunjung yang sudah divaksin saja. 

Setelah saya melakukan check-in, dia menanyakan bukti vaksin. Untungnya saya sudah menyambungkan bukti vaksin saya ke aplikasi Victorian Government sehingga sangat mudah diakses dari apps tersebut. Setelah melihat bukti vaksin dia juga meminta identitas yang ada alamat tempat tinggal kami. Dia ingin memastikan bahwa Saya, Shannon dan Noah bukan warga Melbourne dan sekitarnya. 

Hal yang sama dilakukan oleh pelayanan di Electic Taste saat kami brunch keesokan harinya. "Mulai hari ini kami memberlakukan peraturan untuk hanya menerima pengunjung yang sudah divaksinasi saja," kata pelayan perempuan sebelum mencatat pesanan kami. Di restoran tersebut kami pun diharuskan tetap memakai masker, kecuali saat makan dan minum. 

Baik di Dr. Fill maupun di Eclectic Taste, kami memutuskan untuk duduk di kursi luar ruang. Saya meminta demikian kepada Shannon yang ia pun sepakat. Sirkulasi udara jauh lebih baik di luar ruang dan kemungkinan untuk terkena virus COVID-19 lebih kecil di luar ruang daripada di dalam ruangan. Meskipun bukan berarti bebas risiko sama sekali tapi setidaknya ini usaha terbaik kami untuk terhindar dari virus. 

Saat saya diminta untuk menunjukkan bukti vaksin, di situlah saya makin yakin bahwa dunia kita sudah benar-benar berubah. Cara kita hidup dan travelling pun mau tidak mau harus beradaptasi dengan dunia baru ini. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus hidup berdampingan dengan COVID-19. 

Siapkah saya? Siapkah kamu?


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilau

Blog Sebelumnya:
  • Senangnya Nemu Boba Kemasan di Australia

  • 6 Tip Travelling Hemat Ini Bisa Jaga Dompet Juga Bumi

  • Rekomendasi Penginapan Nyaman di Ballarat, Australia: Eureka Views B&B Ballarat

  • Pengalaman Bikin Kacamata di Australia, Bingung Karena Tidak Diminta Uang Muka

  • Cuma di Australia Bisa Main Golf Bareng Kanguru



"Kayaknya aku kecanduan, deh!" kata saya kepada Shannon sambil mengusap perut saya yang membesara.
"Hah? Kecanduan apa?" respon Shannon dengan raut wajah terkejut. 
"Bubble tea! jawab saya dengan mimik wajah serius.
"Astaga, Yani! Kirain kecanduan apa," Shannon menghembuskan napas lega. 

Percakapan tersebut terjadi sekitar dua tahun lalu, saat Noah masih di dalam perut. Saya sudah minum bubble tea atau boba sebelum saya hamil Noah. Namun intensitasnya meenjadi berkali-kali lipat saat saya hamil. 

Dalam seminggu bisa 3-5 kali saya minum boba. Mulai dari boba yang dijual di convenience store hingga boba yang brand-nya sangat terkenal dan ada di hampir semua mal di Jakarta. Namun yang sering saya minum adalah boba yang dijual di kantin kantor saya di Jakarta dulu. Rutin tiap habis makan siang, pasti minumnya boba. 

Saking seringnya, sampai-sampai teman kantir saya, Enggar keheranan bila saya nggak minum. "Nggak ngeboba?" tanya Enggar. "Nggak deh. Ntar anak gue kayak boba," jawab saya sama Enggar. Serius deh, saya sempat takut kalau kebanyakan gula akan berdampak tidak baik untuk janin saya. Karena itu, saya sudah menahan untuk tidak minum boba setiap hari. Kalau nggak ditahan bisa sehari 2-3 kali saya minum boba.

Nah, sekarang saya tinggal di tengah hutan yang boro-boro ada boba, KFC atau McD saja nggak ada. Hiks. Karena itu setiap kali saya ke Melbourne, pasti bela-belain untuk cari dan beli boba. Tapi kan saya ke Melbourne-nya juga jarang, ya. Makanya suka berasa kangen pengen minum boba.

Untungnya sekitar dua minggu lalu, saya dapat info bahwa di supermarket-supermarket kayak Woolies dan Coles menjual boba kemasan. Nggak pakai lama, saat Shannon ke kota terdekat yang ada Woolies-nya, dia membelikan saya boba kemasan yang sudah saya pilih terlebih dahulu melalui situsnya. Iya belanjanya click & collect, jadi Shannon tinggal ambil saja barang-barang pesanan kami tanpa harus muter-muter supeermarket.

Saya memilih tiga brand yang berbeda. Salah satunya adalah brand yang cabangnya banyak di Jakarta dan Melbourne. Happy banget pas melihat harganya yang hanya 10 dollar tapi untuk 4x minum. Ini jauh lebih murah dibandingkan beli langsung di tokonya dalam bentuk tinggal minum yang harganya mencapai sekitar 6 dollar per gelas. Ya repot sedikit meracik boba dari kemasan gpp-lah yang penting bisa irit.

Selain irit dompet, juga mengurangi gelas plastik sekali pakai yang berujung jadi sampah. sampah plastik berbahaya karena menghasilkan gas rumah kaca yang menyumbang pemanasan global dan mendorong perubahan iklim. 

Iklim yang berubah menyebabkan banyak bencana, termasuk kebanjiran, kekeringan dan ancaman tenggelamnya pulau-pulau di Indonesia.

Saya sendiri belum 100% bisa lepas dari plastik tapi sedikit demi sedikit berusaha mengurangi. Selain mengurangi kemasan plastik sekali pakai, ternyata banyak lho, langkah mudah yang bisa kita lakukan untuk membantu mengatasi perubahan iklim. 

Meski kesannya simpel tapi bila kita semua bergerak serentak tentunya akan membantu membuat bumi lebih baik. Masih mau kan, tinggal di bumi lebih lama lagi?

Memang langkah mudahnya seperti apa? Cek di www.teamupforimpact.org ya. Di sana ada enam hal yang bisa kita lakukan bersama untuk membantu mengatasi perubahan iklim. Ya, kalau bukan kita siapa lagi coba yang harus peduli sama bumi? 

Kembali ke boba, kamu suka boba jugakah? Rasa apa yang paling disuka?

#TeamUpForImpact #TimeForActionIndonesia #MudaMudiBumi #UntukmuBumiku   

----------@yanilauwoie----------


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • 6 Tip Travelling Hemat Ini Bisa Jaga Dompet Juga Bumi

  • Rekomendasi Penginapan Nyaman di Ballarat, Australia: Eureka Views B&B Ballarat

  • Pengalaman Bikin Kacamata di Australia, Bingung Karena Tidak Diminta Uang Muka

  • Cuma di Australia Bisa Main Golf Bareng Kanguru

  • Travelling di Australia Saat Pandemi, Begini Rasanya Berasal dari Area Hotspot

Foto: Pexels

Sebagai seorang traveller dengan budget yang pas-pasan, saya selalu berusaha hemat dalam setiap perjalanan yang saya lakukan. Mulai dari berburu tiket pesawat promo, pesan penginapan dengan kupon diskonan, dan berbagai hal lain saya lakukan untuk memastikan perjalanan yang saya lakukan tidak membuat tabungan saya kosong. Enam hal berikut ini adalah yang sering saya lakukan untuk menghemat uang saat travelling. Ternyata, bukan cuma bisa menyelamatkan dompet tapi juga berdampak besar untuk bumi!

1. Ikutan free walking tour

Apa sih free walking tour? Kalau dalam bahasa Indonesia free walking tour dapat diartikan sebagai tur jalan kaki gratis.  Para peserta akan diajak keliling kota oleh satu orang pemandu dengan tujuan untuk mengenal kota tersebut. Untuk kota-kota besar di Eropa dan Australia hal ini merupakan praktek yang sangat lumrah dilakukan. 

Ada berbagai operator berbeda yang menyediakan jasa ini. Nah, yang pernah saya coba adalah free walking tour dari SANDEMANs yang memiliki layanan free walking tour di 20 kota di Eropa, Amerika Serikat dan Timur Tengah. Waktu itu saya mencoba free walking tour yang diselenggarakan mereka di kota Edinburgh, Skotlandia, Amsterdam, Belanda. dan Copenhagen, Denmark. 

Serunya ikutan free walking tour adalah kita akan mendapat banyak cerita tentang kota tersebut dan diajak ke tempat-tempat bersejarah sekaligus menjadi destinasi wisata. Bahkan saat free walking tour di Amsterdam, saya sempat icip-icip keju gratis karena sang pemandu membawa kami ke toko-toko yang menjual keju. Yap Belanda memang terkenal dengan kejunya! 

Tentu saja maksud sang pemandu membawa kami tur ke toko keju adalah dengan harapan para peserta tur membeli keju dan (mungkin) dia akan mendapat tip dari toko tersebut. Tapi kami sama sekali tidak dipaksa untuk membeli keju-keju tersebut. 

Keseruan lain yang saya dapatkan adalah ketika mengikuti free walking tour di Copenhagen. Tur berakhir di area Istana Amalienborg, tepat saat mau pergantian pengawal. Saya langsung lari ke halaman istana untuk melihat aksi ini. Dan di sini pula saya sempat ketemu sama Ratu Denmark, Margrethe II. Bahkan sempat disenyumi segala! Beruntung banget! Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini.

Bayangkan, sudah hemat uang karena turnya gratis (saya hanya keluar uang untuk memberikan tip seikhlasnya), dapat cerita dan pengalaman seru pula! 

2. Manfaatkan transportasi umum gratisan

Naik tram ini gratis untuk area Melbourne CBD

selain ikutan free walking tour, salah satu cara menghemat uang saat travelling adalah dengan menggunakan transportasi umum tidak berbayar. Contohnya kayak di Melbourne, Australia mereka memiliki tram gratis khusus untuk area Melbourne CBD. Kebetulan di Melbourne, ada beberapa destinasi wisata di wilayah CBD. Jadi pas banget kalau mau hemat ongkos bisa naik tram ini. 

Selain tram yang untuk publik dan memiliki area jangkauan yang cukup luas, ada juga tram khusus wisatawan yang area jangkauannya fokus di destinasi wisata. Karena dirancang khusus untuk turis, tram ini akan berhenti di area-area turis dan memiliki voice over yang menjelaskan setiap destinasi wisata yang dilewati. 

Naik kedua tram ini cukup menghemat biaya transport saat jalan-jalan di Melbourne. Untuk yang mau tahu lebih jauh tentang tram ini, bisa baca blog saya di sini. 

Selain di Melbourne, Perth juga punya sarana transportasi gratis yang bernama CAT Bus yang beroperasi di area Perth CBD, Freemantle dan Joondalup. Saat ke Perth, saya sering menggunakan bus ini. Meskipun gratis namun busnya sangat nyaman dan jadwalnya juga teratur. 

Satu lagi, kota di Australia yang menyediakan tansportasi gratis, yaitu Brisbane. Kota ini menyediakan City Loop (bus) dan CityHopper (kapal ferry) yang beroperasi di area CBD Brisbane. Jadi kalau tujuan kita berada di area CBD atau dekat-dekat area CBD, kedua transportasi ini merupakan pilihan asyik. 

Saya sempat mencoba keduanya dan bagi saya CityHopper bukan hanya sarana transportasi tapi juga seperti wahana atraksi tersendiri. Coba deh, naik kapal ini pada malam hari saat cuaca tidak hujan dan tidak terlalu dingin, menikmati binaran lampu kota dari atas air punya pesonanya sendiri! 

3. Bawa kantong belanjaan sendiri

Saat ke Tasmania, Australia pada tahun 2017 lalu saya sempat kaget karena saya harus bayar kantong plastik ketika saya berbelanja di supermarket Woolworths. Tidak mahal sih, hanya 75 cent kalau tidak salah. Tapi kalau dirupiahin kan lumayan ya, sekitar Rp7.500,- 

Saat itu, selain Woolworths, ALDI adalah supermarket di Australia yang juga sudah menerapkan tidak menyediakan kantong belanja gratis. Kini, semua supermarket dan departement store besar di Australia, seperti Coles, Target dan Kmart sudah tidak menyediakan kantong belanja gratis lagi. Semuanya harus bayar. Di website Kmart ini tertulis bahwa mereka menyediakan kantong belanja plastik yang 80% bahannya bisa didaur ulang dengan harga 80 cent. 

Kalau dipikir-pikir, ya apalah arti 80 cent, kan? Tapi kalau belanjanya lebih dari satu kali, misalnya belanja makanan (saya termasuk yang sering belanja makanan di supermarket untuk mengirit biaya makan), belanja pernak-pernik (kalau ke Australia, harus banget belanja pernak-pernih di Kmart karena barangnya bagus-bagus dan harganya murah-murah), dan belanja pakaian. 

Kalau kita termasuk yang senang belanja, bisa banyak deh, pemakaian kantong plastiknya dan dikalikan 80 cent. Ya daripada buat bayar kantong plastik lebih baik uangnya buat nambahin beli magnet tempelan kulkas buat oleh-oleh, kan? Dan kita belanjanya pake kantong belanja sendiri yang bisa dipakai berulang-ulang. 

4. Bawa botol air minum sendiri

Siapapun yang pernah jalan-jalan ke Eropa, Australia atau Amerika Serikat pasti akan berasa 'dirampok' kalau beli air minum kemasan. Eh, kecuali kamu anak sultan, ya. Bagaimana nggak? Kalau di indonesia harga air minum keemasan ukuran 600ml kisaran 2-3 ribuan. Di negara-negara maju tersebut harganya bisa berkali-kali lipat. Di Australia misalnya, harga air kemasan di kisaran AUD1-3 atau sekitar 10-30 ribuan. Nah, bayangkan saja kalau sehari kita minum beberapa botol air, lumayan berasa juga, kan. 

Karena itu, saya biasanya selalu bawa botol minum sendiri, apalagi di banyak negara di Eropa dan Australia menyediakan air yang bisa diminum langsung dari keran air tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Jadi kita bisa isi botol air di manapun. 

Saking iritnya nggak mau beli air minum kemasan, saya sampai pernah isi botol air di toilet museum Louvre di Paris, Prancis dan toilet Royal Tasmanian Botanical Garden di Tasmania, Australia. Kalau dipikir-pikir sekarang jijik juga ya isi air minum di toilet. Hahaha... Tapi air minumnya aman kok, dan saya tidak sakit karenanya. 

Tapi memang harus dipastikan dulu sih, setiap mau ambil air dari keran. Cari tahu dengan pasti bahwa air keran tersebut aman untuk diminum. Saya biasanya menggoogling dulu aturan air keran ini setiap berkunjung ke suatu negara. Kalau merasa nggak yakin, saya bertanya sama petugas penginapan. Lalu kalau mau ambil air di keran, celingak-celinguk dulu untuk cari pemberitahuan apakah air keran tersebut aman diminum atau tidak. 

Contohnya di Australia yang bisa dibilang aman untuk minun air keran namun ada tempat-tempat tertentu yang air kerannya tidak aman untuk diminum. Biasanya mereka akan pasang kertas pemberitahun dekat keran air dan bilang bahwa air tersebut bukan untuk diminum. 

Bisa dibilang saya sering membawa botol air minum sendiri saat travelling namun bukan berarti juga saya nggak pernah beli air minum kemasan karena kadang saat saya haus, saya tidak menemukan tempat isi ulang air minum dan mau tidak mau harus beli. Dan di situlah saya berasa 'dirampok'. 

5. Bayar 1 untuk 2 kali makan

Pita bread dan salad di Capital Restaurant, London yang saya makan bareng kedua teman saya, Asri dan Stacey

Salah satu nasihat dari bapak saya saat saya kecil dan terus terngiang hingga kini adalah untuk selalu menghabiskan makanan. "Banyak orang yang mau makan saja susah," begitu kata bapak saya kalau melihat kami, anak-anaknya ada yang tidak menghabiskan makanan. Karena itu sebisa mungkin saya selalu menghabiskan makanan meskipun tidak selalu sukses. 

Yang jadi masalah adalah kalau saya travelling ke Eropa, Amerika Serikat atau Australia yang restoran-restorannya kayaknya kompak menjual makanan dengan porsi terlalu besar (untuk ukuran saya). Sulit bagi saya untuk menghabiskan makanan-makanan di sana hanya dengan sekali makan. 

Nah, karena itu, saya biasanya mengakalinya untuk menjadikan makanan tersebut dua kali makan. Contohnya saat saya di Los Angeles, Amerika Serikat, saya ingin makan makanan China. Tapi saya tahu porsinya akan terlalu besar untuk saya habiskan sendiri bila saya makan di restoran. Akhirnya saya putuskan makan di penginapan. Alhasil Fried Rice + Sichuan Stir Bean dari Le Oriental Bistro, Highland, Hollywood Boulevard, saya santap untuk makan malam dan sarapan. 

Sebenarnya saya bukan tipe yang suka sarapan nasi di pagi hari. Namun daripada saya harus buang makanannya dan mengeluarkan uang lagi untuk beli sarapan, ya mending saya sikat saja tuh, makanan. Lumayan kan, bayar satu untuk dua kali makan.

Kalau memang saya ingin makan di restoran, biasanya saya tak sungkan untuk membawa pulang sisa makanan tersebut, seperti yang saya lakukan di restoran China di San Francisco, Amerika Serikat. 

Karena itu, bagus juga kalau bepergian kita membawa kotak makan sendiri. Tujuannya ya untuk membawa sisa makanan sehingga bisa kita makan lagi. Atau enaknya kalau travelling bareng teman, kita bisa share makanan supaya lebih hemat. Seperti saat saya travelling sama dua teman saya, Asri dan Stacey ke Inggris dan Eropa, kami sering banget berbagi makanan. 

6. Go paperless

Dulu, saat bepergian, saya biasanya membawa setumpuk dokumen. Mulai dari print-an tiket pesawat, visa, itinerary, fotokopian passport, bookingan hotel dan lain sebagainya. Selain cukup menambah beban di pundak karena biasanya saya masukkan dokumen ini di dalam tas backpack, print dan fotokopi juga lumayan mengeluarkan uang. 

Namun sekarang semuanya sudah lebih mudah dengan yang serba digital. Saya hanya perlu menyiapkan semua dokumen tersebut di handphone saya dan membukanya tiap dibutuhkan. Seperti untuk check in tiket pesawat, petugas tinggal scan barcode yang ada di dokumen. Karena dunia juga go digital sehingga memudahkan juga bagi saya untuk mengarah ke hal yang sama saat travelling. Dan pastinya jadi lebih hemat uang.  

Awalnya demi hemat uang

Saya melakukan semua hal di atas awalnya ya semata-mata demi irit saat travelling tapi ternyata hal tersebut juga bisa membantu menjaga bumi dalam menghambat laju pemanasan global.

Saat kita ikutan free walking tour atau naik kendaraan umum (daripada menyewa kendaraan pribadi), itu berarti kita sudah mengurangi pemakaian kendaraan berbahan bakar fosil. Kendaraan berbahan bakar fosil dapat menghasilkan emisi karbon yang membuat bumi makin panas.

Begitu juga sampah dari makanan yang tak dihabiskan dan kemasan plastik sekali pakai akan menghasilkan emisi karbon yang terus mendorong laju pemanasan global. Untuk lebih tahu tentang emisi karbon bisa menonton video di bawah ini.


Sementara itu, bila kita mengonsumsi banyak kertas, berarti akan lebih banyak lagi pohon ditebang. Tahu sendiri kan, bahwa pohon itu menyerap gas karbon dioksida (CO2) yang bisa mengurangi hawa panas. Coba aja, kita duduk di bawah pohon saat siang hari, pasti rasanya langsung sejuk kan? Nah, kalau semakin sedikit pohon, maka gas CO2 yang seharusnya diserap pohon akan terlepas kembali yang tentunya ini membuat bumi makin panas. 

Sadar atau tidak sadar, banyak aktivitas yang kita lakukan memang berkontribusi besar terhadap pemasan global ini, dan saking panasnya bumi akhirnya menyebabkan perubahan iklim. 

Perubahan iklim adalah...

Apa sih perubahan iklim? Yaitu perubahan secara signifikan terhadap hawa (suhu, kelembapan, awan, hujan, dan sinar matahari) yang terjadi dalam jangka waktu yang lama. Contohnya perubahan iklim sudah terjadi adalah kita sudah tidak bisa memprediksi lagi kapan musim hujan dan kemarau di Indonesia. 

Dulu, zaman SD saya diajari bahwa musim hujan terjadi di bulan-bulan berakhiran "ber", yaitu September, Oktober, November dan Desember. Tapi sekarang hujan bisa terjadi di tengah tahun dan ada wilayah di Indonesia yang bahkan bisa tidak hujan sepanjang tahun. 

Bisa dibilang lebih gampang memprediksi tukang nasi goreng atau sate yang lewat depan rumah saya di Tangerang daripada memprediksi cuaca saat ini.  

Ya, perubahan iklim bikin pola cuaca kita jadi ngaco dan menyebabkan bencana seperti kekeringan dan kebanjiran yang bisa berdampak pada gagal panennya para petani. 

Untuk kita para traveller, perubahan iklim juga sedikit banyak berpengaruh kepada perjalanan kita. Ini saya sebutkan beberapa contohnya, yang beritanya saya ambil dari situs-situs terpercaya.

Saya menikmati bunga sakura pada bulan April 2019 di Jepang

  • Bunga sakura di Jepang yang biasanya mengalami puncak mekar pada bulan April, eh menjadi lebih cepat, yaitu bulan Maret karena perubahan iklim (ceritanya bisa dibaca di sini). Bayangkan kalau seandainya kita ada di posisi yang merencanakan perjalanan dari jauh-jauh hari karena ingin melihat bunga sakura di bulan April, eh begitu sampai Jepang, hanya melihat sisa-sisanya saja. Kalau itu terjadi sama saya, pasti saya kesal. 
  • Kamu termasuk traveller yang suka icip-icip makanan lokal? Misalnya nih, kalau ke Aceh wajib banget mencoba Kopi Gayo Aceh langsung di daerah asalnya. Nah, kebayang nggak kalau kopi bisa aja menjadi komoditas langka suatu hari nanti karena perubahan iklim ini. Soalnya kopi adalah tanaman yang bergantung pada iklim dan ketika cuacanya ngaco ya wajar bila panen terganggu. Beritanya bisa dibaca di sini. Nah, ini bisa aja kan terjadi pada komoditas pangan lainnya, baik di Indonesia maupun dunia. Acara icip-icip makanan lokal saat jalan-jalan bisa terhambat karena perubahan iklim ini. 
  • 115 pulau di Indonesia terancam tenggelam pada tahun 2100, bila perubahan iklim tidak segera diatasi. Ini termasuk pulau-pulau yang menjadi destinasi wisata seperti Pulau Belitung dan Pulau Nusa Penida di Bali. Jakarta juga disebut sebagai kota yang terancam tenggelam. Beritanya bisa dibaca di sini. Kalau ancaman pulau-pulau tenggelam ini sih, bukan cuma berpengaruh terhadap rencana jalan-jalan tapi juga kehidupan orang-orangnya. Kalau kota atau pulau tempat kita tinggal tenggelam, mau tinggal di mana coba? Secara kita bukan Spongebob atau Deni Manusia Ikan.
Selain ketiga contoh di atas, hal yang juga berdampak langsung untuk kita yang sering bepergian adalah tertundanya keberangkatan pesawat atau kapal laut karena cuaca ekstrem. Penundaan ini tentu bisa berpengaruh pada seluruh jadwal perjalanan kita. Tapi ini masih mending, bayangkan kalau kita sudah berada di dalam pesawat dan di tengah perjalanan terjebak cuaca ekstrem. Ih, membayangkannya saja sudah serem!

Panas bumi akan mencapai ambang batas

Segitunya ya, dampak perubahan iklim yang bukan cuma terjadi di Indonesia tapi juga seluruh dunia. Ngeri membayangkan banyaknya bencana yang menghampiri karena perubahan iklim. Tapi bukan berarti kita nggak bisa menekan laju perubahan iklim. Kita bisa banget, kok! Caranya? Ya jangan sampai membuat bumi semakin panas. 

Menurut laporan yang diterbitkan pada tahun 2021 oleh IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), yaitu laporan tentang perubahan iklim yanng diinisiasi oleh PBB dan disusun oleh ratusan pakar iklim dari seluruh dunia, kita tidak boleh membuat bumi makin panas. Bila bumi menjadi lebih panas 1,5 derajat Celcius saja maka cuaca ekstrem dan bencana akan makin mengancam kehidupan seluruh makhluk bernyawa (iya bukan hanya manusia saja!).

Namun kenyataannya dengan industri di seluruh dunia yang terus melaju dan menghasilkan banyak emisi karbon, para ilmuwan tersebut memperkirakan suhu bumi akan mengalami kenaikan 1,5 derajat (atau mencapai batas atas) pada tahun 2040, dan bahkan bisa lebih cepat, yaitu pada tahun 2030-an. 

Karena itu, dekade ini adalah dekade menentukan bagi seluruh negara di dunia untuk membuat kebijakan yang dapat menurunkan emisi karbon secara besar-besaran, termasuk Indonesia yang masuk ke dalam 10 negara penyumbang emisi karbon terbesar di dunia karena dua alasan, yaitu maraknya deforestasi (penggundulan hutan) dan penggunaan energi fosil. 

Tapi saya percaya bahwa negara kita bisa menjadi negara yang berkontribusi besar dalam menghambat laju pemanasan global ini, soalnya kita punya hutan yang luar biasa luas. Hutan hujan Indonesia yang ketiga terbesar dunia. Kawasan berhutan kita tiga kali lipat luas wilayah Filipina. 

Banyak dan beragamnya pohon di hutan, sangat efektif untuk menyerap karbon. Bisa dibilang hutan itu kayak kulkas alami bumi yang membantu bumi lebih sejuk. 

Bayangkan bila semua negara yang punya kawasan hutan berkomitmen untuk menjaga hutan, serta seluruh negara di dunia mengganti energi fosil ke energi baru terbarukan (kayak pembangkit listrik tenaga air, tenaga angin, dan tenaga matahari) yang lebih ramah lingkungan dan tidak membuat bumi makin panas, kayaknya bisa banget mengatasi permasalahan perubahan iklim ini.

Lalu kita bisa apa?

Sebagai traveller tentunya dengan menjadi eco-traveller yang tidak menambah panas bumi seperti enam poin yang saya sebutkan di atas. Lalu kalau kita hobi jalan-jalan ke hutan, janganlah merusak hutan dan sebisa mungkin mengurangi mengonsumsi barang yang harus membuat pohon ditebang.

Dan traveller atau bukan kita bisa melakukan aksi yang sangat mudah untuk menekan laju pemanasan global ini. Langkah mudahnya bisa dilihat di situs www.teamupforimpact.org. Hal sepele dan mudah yang tertulis di situs tersebut bisa sangat berdampak pada bumi bila kita melakukannya secara serentak. 


Saya bukan ahli di dunia eco-travelling ini. Banyak tindakan saya yang masih sangat tidak ramah lingkungan. Namun pelan-pelan saya juga ingin berkontribusi untuk tetap membuat bumi ini masih menjadi rumah yang nyaman untuk kita para penghuninya. Karena saya masih ingin jalan-jalan menikmati dunia. 

Saya juga ingin anak saya, Noah juga bisa menjelajah dunia seperti ibu dan bapaknya. Karena itu saya ingin bumi ini baik-baik saja untuk dia. Bukan hanya untuk dia bisa bepergian namun juga untuk dia bisa hidup nyaman. Dan semoga kamu yang membaca ini juga memiliki keinginan yang sama! Let's team up for impact!


#TeamUpForImpact #MudaMudiBumi #UntukmuBumiku #TimeForActionIndonesia

----------@yanilauwoie----------


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h


Blog Sebelumnya:
  • Rekomendasi Penginapan Nyaman di Ballarat, Australia: Eureka Views B&B Ballarat

  • Pengalaman Bikin Kacamata di Australia, Bingung Karena Tidak Diminta Uang Muka

  • Cuma di Australia Bisa Main Golf Bareng Kanguru

  • Travelling di Australia Saat Pandemi, Begini Rasanya Berasal dari Area Hotspot

  • Pengalaman Suntik Vaksin COVID-19 Pfizer di Australia untuk Penderita Asma

Newer Posts Older Posts Home

My Travel Book

My Travel Book
Baca yuk, kisah perjalanan saya di 20 negara!

My Travel Videos

Connect with Me

Total Pageviews

Categories

Amerika Serikat Australia Belanda Belgia Ceko Denmark Hong Kong Indonesia Inggris Irlandia Italia Jepang Jerman Korea Selatan Macau Malaysia Prancis Singapura Skotlandia Spanyol Thailand Vietnam

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  May (1)
      • 6 Lokasi untuk Melihat Bunga Musim Semi di Bratisl...
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2024 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2022 (6)
    • ►  October (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (19)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (51)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (10)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2018 (30)
    • ►  December (8)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (60)
    • ►  December (6)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (8)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  May (8)
    • ►  April (9)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (6)
    • ►  April (5)
    • ►  March (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (51)
    • ►  December (7)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  June (4)
    • ►  May (6)
    • ►  April (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (6)
    • ►  July (5)
    • ►  June (3)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
    • ►  February (5)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (13)
    • ►  December (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)

Search a Best Deal Hotel

Booking.com

Translate

Booking.com

FOLLOW ME @ INSTAGRAM

Most Read

  • Tour Guide Berbahasa Indonesia di Thailand: Saya Belajar dari Sinetron
  • Mudahnya Mengurus Visa Australia
  • Turis Indonesia Terkenal Tukang Pipis di Korea Selatan
  • Bolehkah Membawa Pulang Selimut dan Bantal Pesawat? Ini Eksperimen Saya

About Me

Hi, I'm Yani. I have 15 years experience working in the media industry. Despite my ability to write various topics, my biggest passion is to write travel stories. By writing travel stories, I combine my two favourite things; travelling and writing. All the content in this blog are mine otherwise is stated. Feel free to contact me if you have questions or collaboration proposal :)

Contact Me

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 My Travel Stories. Created by OddThemes & VineThemes