My Travel Stories

Lots of memories I can't keep, that's why I write.

Powered by Blogger.
  • Home
  • Indonesia
  • Asia
  • Australia
  • Eropa
  • Amerika
  • Travel Tips
  • Itinerary
  • Portfolio
Pancake dan hot chocolate di The Elephant House, rasanya biasa saja

Berkeliling Edinburgh selama dua hari satu malam pada Oktober 2018, berikut harga makanan di Edinburgh, Skotlandia yang sempat saya catat. 
  • Hot chocolate di Pret A Manger: 2,45 Pounds.
  • Free-Range Egg Mayo di Pret A Manger: 2,15 Pounds (Ini harga makan di tempat kalau take away harganya 1,79 Pounds).
  • Hashbrown di Subway: 99 Pence. 
  • Air mineral Abbey Well British Spring Water di Subway: 1,30 Pounds.
  • Mackie's of Scotland Sea Salt Potato Crisps di Grassmarket Cafe: 1 Pound.
  • Chicken Tom Yum Hot di Shamoli, Thai & Indian Restaurant: 5,95 Pounds + 10% tax.
  • Egg Fried Rice with Chicken, Tomato and Spring Onions di Shamoli, Thai & Indian Restaurant: 5,95 Pounds + 10% tax.
  • Scottish Pancake with Maple Syrup di The Elephant House: 5,25 Pounds.  
  • Small Hot Chocolate di The Elephant House: 2,65 Pounds.
  • Cream di The Elephant House: 0,60 Pence.
  • Paket 6 Pieces KFC, terdiri dari enam ayam, empat friench fries ukuran kecil, 1,5 liter soda drink dan empat side dish yang bisa dipilih (saya memilih coleslaw): 13,99 Pounds.
  • 1 paket shortbread Walkers jenis Pure Butter Rounds (isi tiga kotak, masing-masing beratnya 150 gram) di toko oleh-oleh Hector Russell, Royal Mile: 4,99 Pounds.

Booking.com

----------@yanilauwoie----------



Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Wanita Paruh Baya di Red Light District Amsterdam
  • Flying Tiger, Tempat Belanja Barang-barang Lucu dan Murah di Copenhagen, Denmark
  • 6 Rekomendasi Oleh-oleh dari Edinburgh, Skotlandia dan Kisaran Harganya
  • My 2018 Highlights
  • Keluar Inggris dan Masuk Prancis dalam Satu Antrian Imigrasi yang Sama

Nggak boleh foto rumah-rumah dengan lampu merahnya, jadi saya foto areanya saja

Perihal keberadaan Red Light District di Amsterdam, Belanda saya sudah tahu sejak lama namun benar-benar bisa menyaksikannya dengan mata kepala sendiri baru terjadi pada tahun 2018. 

Saya mendatangi area prostitusi ini melalui jasa free walking tour yang saya ikuti ketika berada di Amsterdam. Pemandu saya saat itu, Rocco menjelaskan ada empat hal yang membuat area ini sangat mendunia. Pertama, prostisusi dilegalkan di Belanda sehingga Red Light District ini bisa beroperasi secara bebas dengan sepengetahuan pemerintah. Kedua, semua wanita yang bekerja di sini adalah self-employed, dalam artian mereka yang menentukan sendiri peraturan yang mereka mau, seperti berapa harga untuk jasa mereka, apa yang mereka mau dan tidak mau lakukan ketika bercinta, dan siapa tamu yang mau mereka terima. Ketiga, memiliki area yang luas. Keempat, berada di pusat kota yang dekat dengan gereja Katholik. 

“Saya sempat mengobrol dengan sekitar lima wanita pekerja seks di sana. Mereka memang sengaja memilih pekerjaan tersebut karena mereka senang menjalaninya dan itulah profesi mereka,” ungkap Rocco.

Selanjutnya sang pemandu yang asli orang Belanda ini menjelaskan kenapa pemerintah memutuskan untuk melegalisasi prostitusi. Menurutnya, salah satu alasannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada wanita yang memang ingin menjalani profesi tersebut. Namun selain itu, dengan adanya peraturan yang tegas diharapkan bisa mencegah perdagangan perempuan. Namun sayangnya orang-orang tak bertanggungjawab tetap bisa menemukan celah untuk melakukan pelanggaran. 

Sebelum memasuki area Red Light District, Rocco memperingati semua peserta tur untuk tidak mengambil gambar mereka dan menghormati mereka. “Karena biar bagaimanapun mereka adalah manusia yang harus kita hormati,” pesan Rocco. 

Berusaha mengikuti pesan Rocco, saya sebisa mungkin berusaha menjaga mata saya dan tidak terlalu banyak memeloti tiap rumah yang saya lewati. Namun saya tidak bisa menutupi rasa terkejut ketika saya sempat melihat seorang wanita paruh baya ber-lingerie menempel di jendela. Saya tidak tahu mana yang membuat saya lebih terkejut, posenya yang menempel di jendela, usianya yang sudah paruh baya yang sangat terlihat jelas pada tampilannya, badannya yang sedikit gempal, atau karena rambut keritingnya yang megar. Yang jelas saya kaget ketika saya berjalan melewatinya. 

Saya kembali teringat ucapan Rocco bahwa wanita-wanita ini bekerja karena mereka senang dengan profesi yang mereka jalani. Bila sang wanita di jendela yang baru saja saya lihat itu termasuk dari mereka, saya penasaran apa yang disukainya dari profesi tersebut sehingga ia tetap menjalaninya di usianya yang sudah tidak muda lagi.


Booking.com
----------@yanilauwoie----------




Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Flying Tiger, Tempat Belanja Barang-barang Lucu dan Murah di Copenhagen, Denmark
  • 6 Rekomendasi Oleh-oleh dari Edinburgh, Skotlandia dan Kisaran Harganya
  • My 2018 Highlights
  • Keluar Inggris dan Masuk Prancis dalam Satu Antrian Imigrasi yang Sama
  • Hati-hati Menggunakan Maskapai Ryanair


Ingin mencari tempat belanja oleh-oleh murah di Copenhagen, Denmark? Coba deh, datang ke Flying Tiger di mal Fisketorvet. Selain banyak barang yang dijual dengan harga terjangkau, pilihan barangnya juga macam-macam. Saking variatifnya barang yang dijual, saya sampai bingung barang apa sebenarnya yang ingin mereka tonjolkan. Tapi di sisi lain, hal ini menguntungkan karena saya bisa menemukan barang-barang lucu yang bisa dijadikan oleh-oleh. 

Produk yang dijual di sini di antaranya adalah aneka camilan, seperti cokelat maupun biskuit. Ada yang merupakan produksi Denmark namun ada juga yang diproduksi oleh negara lain. Salah satu camilan yang menarik perhatian saya adalah Danish Chocolate Chip Cookies dalam kemasan kaleng yang dijual seharga 20 DK. Wah, ini akan menjadi oleh-oleh yang pas untuk dibawa pulang. 

Selain beragam cokelat dan biskuit, di sini juga menjual aneka alat tulis, seperti buku catatan seharga 20 DK dan pulpen dengan bentuk kepala boneka seharga 10 DK. Ada juga alat dapur, seperti spatula dan alat capit makanan dari kayu yang hanya 10 DK. Kemudian ada toples kaca yang beraneka warna seharga 10 DK. 

Hal yang juga menarik perhatian saya adalah adanya kacamata baca (plus) dengan berbagai model yang harga jualnya 30 DK. Melihat ini, tanpa pikir panjang saya membeli satu buah untuk oleh-oleh buat mama. 




Di luar barang-barang yang sudah saya sebutkan di atas, toko ini juga dipenuhi berbagai aksesoris rambut, aksesoris handphone, pajangan rumah dan mainan anak-anak yang cukup mengedukasi. Jadi benar-benar variatif pilihan barang-barangnya. 

Memang sih, mereka tak menjual gantungan kunci atau magnet yang biasanya menjadi oleh-oleh standar. Namun bila oleh-oleh yang diincar adalah barang-barang yang lucu dan murah, saya sangat merekomendasikan untuk belanja di Flying Tiger Kopenhagen.  

Sebagai info saja, Flying Tiger ini pertama kali dibuka di Kopenhagen pada tahun 1995 dan kini sudah memiliki lebih dari 500 toko yang tersebar di berbagai belahan dunia, termasuk UK, Italia, Spanyol, Jepang dan Amerika Serikat. 

Ada yang pernah belanja di Flying Tiger juga? 


Booking.com----------@yanilauwoie----------




Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • 6 Rekomendasi Oleh-oleh dari Edinburgh, Skotlandia dan Kisaran Harganya
  • My 2018 Highlights
  • Keluar Inggris dan Masuk Prancis dalam Satu Antrian Imigrasi yang Sama
  • Hati-hati Menggunakan Maskapai Ryanair
  • Review Abercorn House, Penginapan Murah di London
Bawa oleh-oleh apa dari Skotlandia? Mungkin enam rekomendasi oleh-oleh dari Edinburgh ini bisa jadi masukan.

1. Shortbread 


Untuk yang suka biskuit, camilan asli Skotlandia ini wajib dibeli. Ada banyak jenis shortbread dan dijual dalam berbagai merek. Namun yang paling populer adalah dari merek Walkers. Shortbread Walkers bisa ditemui di mana-mana, baik di tempat yang menjual aneka oleh-oleh maupun camilan. Saya membeli shortbread Walkers dengan jenis Pure Butter Rounds dengan berat 150 gram. Lucunya, harga shortbread ini dijual dengan harga yang berbeda-beda. Ada yang menjualnya seharga 4.99 pounds per kotak, ada yang menjualnya seharga 10 pounds untuk tiga kotak dan ada juga yang menjualnya seharga 4.99 pounds untuk tiga kotak. Harga yang terakhir adalah yang termurah dari hasil pengamatan saya di beberapa toko. Saya membelinya di toko oleh-oleh Hector Russell di 137 - 141 High Street, Royal Mile. Bagaimana rasanya? Enak! Saya sih, suka.   

2. Anjing Skye Terrier
Saya dengan monumen Bobby

Tentunya saya tidak merekomendasikan untuk membeli anjing sungguhan. Yang saya maksud adalah merchandise dengan bentuk anjing skye terrier. Kenapa? Karena ini merupakan jenis yang sama dengan Greyfriars Bobby, anjing yang terkenal dengan kesetiannya karena ia menjaga kuburan tuannya, John Gray selama 14 tahun hingga maut menjemputnya pada 14 Januari 1872. Ia pun dikuburkan di lokasi pemakaman yang sama dengan tuannya, yaitu Greyfriars Kirkyard, Edinburg. Karena kesetiannya ini Bobby menjadi sangat terkenal di Skotlandia. Selain bisa menemukan kuburan Bobby, kita juga akan bertemu dengan monumennya yang dibangun dekat pemakaman. Aneka merchandise Bobby, mulai dari magnet, gantungan kunci dan sebagainya bisa ditemukan di toko oleh-oleh di Skotlandia. Untuk magnet dan gantungan kunci harganya sekitar 3 - 4 pounds per buahnya. 

3. Tartan

Skotlandia terkenal dengan kilt-nya, yaitu rok dengan motif tartan yang dipakai oleh para pria. Karena itu, membeli oleh-oleh sesuatu yang berbau tartan tentunya "Skotlandia banget". Baik kilt maupun merchandise tartan lainnya sangat mudah ditemukan di berbagai toko oleh-oleh atau pakaian di Skotlandia. Harganya pun bervariasi, tergantung barang apa yang dibeli. Contohnya dompet harganya 6.99 pounds dan scarf seharga 6.50 pounds. Kedua barang tersebut saya lihat di toko merchandise di Edinburgh Castle.   

4. Scarf

Saat berjalan-jalan di Royal Mile, Edinburgh saya melihat banyak sekali toko yang menjual scarf dengan bahan cashmere dan lambswool. Tingkat kelembutan masing-masing scarf tergantung dari berapa persen kandungan cashmere dan lambswool yang dimiliki. Semakin banyak persentase cashmere dan lambswool-nya semakin mahal harganya. Kalau dari sepengamatan sekilas, scarf yang berbahan cashmere harganya lebih mahal dari yang berbahan lambswool. Harga untuk scarf dengan bahan 100% lambswool yang saya lihat di toko merchandise Edinburgh Castle adalah 21 - 24 pounds.  

5. Merchandise Harry Potter

Sebagai kota lahirnya Harry Potter, wajar bila Edinburgh sangat menjual hal tersebut. Selain terdapat tur untuk menapaki jejak Harry Potter, di kota ini juga banyak toko-toko 'sihir' yang menjual aneka souvenir Harry Potter. Sebut saja World of Wizardry dan Diagon House adalah dua nama toko yang menjual banyak aksesoris Harry dan teman-temannya, seperti boneka hedwig, tongkat sihir, t-shirt dan banyak lagi lainnya. Tapi saya lupa berapa masing-masing harganya.     

6. Souvenir 

Oleh-oleh standar tentunya adalah aneka souvenir khas Skotlandia, seperti gantungan kunci tulisan Skotlandia, magnet pria memakai kilt dan Edinburgh Castle, T-Shirt tulisan Edinburgh, pulpen tartan dan semacamnya. Harga magnet dan gantungan kunci di toko oleh-oleh sepanjang Royal Mile rata-rata sekitar 3 - 4 pounds namun saya menemukan magnet besi pria memakai kilt di Edinburgh Castle hanya seharga  2.99 pounds. 

Punya rekomendasi oleh-oleh dari Skotlandia lainnya? Mau dong, infonya.


Booking.com ----------@yanilauwoie----------



Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • My 2018 Highlights
  • Keluar Inggris dan Masuk Prancis dalam Satu Antrian Imigrasi yang Sama
  • Hati-hati Menggunakan Maskapai Ryanair
  • Review Abercorn House, Penginapan Murah di London
  • Apa yang Ditanyakan Petugas Imigrasi Inggris? Ini Pengalaman Saya
Saya mengunjungi Inggris untuk pertama kalinya

Sejauh ini, tahun 2018 merupakan tahun tersibuk saya dalam menjelajahi negara-negara di luar Indonesia, baik itu untuk urusan kerjaan, personal maupun liburan. Berikut adalah highlights-nya:

1. Liburan bersama orangtua ke Singapura
Sebenarnya sudah lama saya memimpikan membawa orangtua saya liburan ke luar negeri. Entah kenapa, setiap kali saya menginjakkan kaki di luar Indonesia, saya selalu kepikiran mereka, terutama kepikiran mama yang belum pernah ke luar Indonesia sekalipun. Masa hanya saya saja yang jalan-jalan terus ke luar negeri? Ujung-ujungnya saya sering merasa bersalah. 

Namun Alhamdulillah, pada awal tahun 2018 saya bisa mengajak kedua orangtua saya liburan ke Singapura. Negara ini merupakan pilihan yang tepat untuk orangtua saya karena berbagai alasan, di antaranya keamanan, keteraturan, kenyamanan dan banyak lagi lainnya. Bisa menunjukkan kepada mama ada peradaban lain di luar Indonesia membuat perasaan saya membuncah. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata ketika melihat mata mama berbinar-binar saat ia melihat banyak hal baru di Singapura. Saya bahagia :)

2. Menikah di Australia
Kalau ditanya apa peristiwa terbesar yang saya alami di tahun 2018, dengan lantang saya akan menjawab, "Menikah di Australia" pada bulan Juni. Bukan hanya terbesar, peristiwa ini juga tidak terduga datangnya. Pasalnya saya menikah dengan dia sekitar dua bulan setelah pertemuan pertama kami. Jangankan orang di sekitar kami, saya saja sampai sekarang masih tidak menyangka bahwa kami bisa seyakin itu ketika memutuskan menikah dalam durasi perkenalan yang begitu singkat. Tapi begitulah adanya. You know when you know!

Walaupun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menikah di Australia, terutama untuk urusan surat-surat, saya merasa semuanya bisa dilalui dengan sangat mudah. Seperti yang mama saya bilang, kalau memang sudah jodoh, semuanya akan dimudahkan. Seolah alam membantu untuk pernikahan ini. 

Bahkan dalam menentukan tempat pernikahan pun seolah sudah diatur oleh Tuhan. Dia ada di Australia untuk ulangtahun pernikahan orangtuanya dan saya ada di Australia untuk urusan kerjaan. Lalu kami berdua memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal kami di Australia untuk melakukan pernikahan. Sesimpel itu pertimbangannya. Simpel namun sangat membahagiakan. Keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup saya :)

3. Mengunjungi lima negara baru
Setelah sekitar lima tahun berlalu, akhirnya saya kembali mengunjungi Eropa pada bulan Oktober. Saya melakukan perjalanan ini bersama dua teman baik saya, Asri dan Stacey. Perjalanan ini bisa terjadi karena kami tergoda Qatar Airways Global Sale. Bayangkan saja untuk tiket Jakarta - London dan Copenhagen - Singapura, kami hanya perlu membayar 5,3 juta. Lalu kami pun membeli tiket Singapura - Jakarta sekitar 1 juta rupiah. Jadi total hanya sekitar 6,3 juta rupiah untuk tiket PP Eropa. Murah banget, kan? 

Dalam waktu sekitar tiga minggu, saya mengunjungi Inggris, Skotlandia, Belgia, Belanda dan Denmark. Banyak sekali hal yang terjadi selama perjalanan ini, mulai dari bertemu Ratu Denmark sampai 'terkecoh' oleh maskapai RyanAir. Satu per satu ceritanya sudah saya tulis di blog ini namun tentunya masih banyak lagi yang akan keluar. 

4. Kunjungan ulang ke dua negara
Selain mengunjungi lima negara baru, saya juga melakukan kunjungan ulang ke dua negara, yaitu Singapura dan Australia. Saya mengunjungi masing-masing negara tersebut sebanyak dua kali pada tahun ini. Bahkan saat saya menulis blog ini, saya melakukannya dari Australia, tepatnya dari sebuah kafe kecil bernama Willows Tea House di Split Point, Aireys Inlet, Great Ocean Road, Victoria yang berjarak sekitar dua jam dari Melbourne.


Willows Tea House

Merenungi apa saja yang sudah terjadi selama satu tahun terakhir dan sambil menikmati Mango Smoothies, saya sampai pada satu kesimpulan: "Saya sangat beruntung karena Tuhan benar-benar sayang sama saya :)"

Selamat tahun baru! Semoga semua mimpi akan tercapai pada tahun 2019, termasuk mimpi untuk menjelajah lebih banyak negara di dunia ini :) 


Booking.com----------@yanilauwoie----------



Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Keluar Inggris dan Masuk Prancis dalam Satu Antrian Imigrasi yang Sama
  • Hati-hati Menggunakan Maskapai Ryanair
  • Review Abercorn House, Penginapan Murah di London
  • Apa yang Ditanyakan Petugas Imigrasi Inggris? Ini Pengalaman Saya
  • 14 Tempat Wisata Gratis yang Instagrammable di London, Inggris (Bagian 2)
Saya setelah melewati imigrasi Prancis

Untuk pertama kalinya saya keluar dari satu negara dan masuk ke negara lainnya dalam satu antrian imigrasi yang sama. Ini terjadi saat saya mau ke luar dari negara Inggris untuk masuk ke negara-negara Schengen. Karena ini pengalaman perdana, saya merasa perlu mengabadikannya dalam bentuk catatan. 

Saat itu, saya dan kedua teman saya, Asri dan Stacey sampai di stasiun St Pancras International sekitar pukul 06.00. Kami langsung mencari di mana letak Eurostar, kereta yang akan membawa kami ke luar London untuk menuju Brussels, Belgia. Setelah bertanya kepada petugas stasiun kami langsung bisa menemukan lokasi kereta yang dituju.Begitu sampai gerbang Eurostar, langsung masuk antrian dan scan barcode yang ada di tiket untuk bisa masuk lokasi. Setelah itu dilanjutkan dengan metal detector. 

Melewati pemeriksaan metal detector, langsung menuju antrian imigrasi. Saat mau masuk antrian, salah seorang petugas bertanya apakah saya sudah membawa paspor. Saya jawab sudah, dan bersiap mengambil paspor dari kantung jaket namun sang petugas berkata, "Nggak perlu dikeluarkan. Saya percaya kok, dengan perkataanmu," tuturnya sambil tersenyum. Intinya dia hanya mengingatkan dan bukan bertujuan memeriksa. 

Saat saya dan Asri sudah di dalam antrian imigrasi, tiba-tiba Stacey berteriak, "Salah. Kalian salah antrian. Bukan di situ. Itu antrian khusus European." Mendengar teriakan Stacey, saya otomatis berhenti melangkah meskipun saya belum mengerti seutuhnya maksud omongannya. 

Lalu tiba-tiba sang petugas mendatangi kami, mungkin karena mendengar teriakan Stacey.  Dia bertanya apa yang terjadi. Stacey menunjukkan paspornya (yang ada sampul dengan tulisan Republik Indonesia) dan bertanya di mana harus antri. Saya tambahkan dengan berkata, kami dari Indonesia. Lalu sang petugas berkata, "You are all good." Kemudian mengarahkan Stacey untuk antri di tempat yang sama dengan kami. Hadeh, Stacey memang kebiasaan panik duluan, sama seperti saya ;p

Di antrian untuk keluar Inggris ini, terdapat dua loket imigrasi. Saya kebagian loket dengan seorang petugas pria yang ramah. Dia menyambut saya dengan senyuman. Setelah menerima paspor saya, dia meminta saya membuka topi. Tampaknya dia ingin memastikan bahwa saya benar pemilik paspor tersebut. Selanjutnya dengan menggunakan sebuah alat elektronik, dia menggosok pinggir paspor saya, kemudian menyuruh saya lanjut untuk melewatinya. 

Sekitar tiga meter di depan loket tersebut, masih di jalur antrian yang sama, terdapat lagi loket yang berbeda dan ada lagi antrian. Ada tulisan di loket tersebut yang tersedia dalam dua bahasa, Prancis dan Inggris. Yang bahasa Inggris, tulisannya "All Passports". Terdapat dua loket juga. Saya pikir tadinya loket itu merupakan rangkaian dari proses imigrasi untuk keluar Inggris. Saya baru sadar kalau itu loket untuk masuk wilayah Prancis, saat Asri bilang, "Ini kita sudah masuk imigrasi Prancis deh, karena tulisannya dalam bahasa Prancis." 

Setelah mendengar perkataan Asri yang saat ini mengantri di belakang saya, saya mengamati lebih lanjut sekitar saya dan menemukan papan pengumuman di ujung tali antrian yang bertulisan: "French Police Border". Wah benar ini merupakan antrian imigrasi untuk masuk wilayah Prancis.  

Saya langsung merasa was-was karena saya tidak mempersiapkan diri untuk ditanya-tanya imigrasi Prancis. Saya menduganya akan ditanya-tanya di imigrasi Belgia ketika keluar dari kereta. Namun rupanya karena kereta Eurostar yang kami naiki ini dari Inggris masuk ke Prancis terlebih dahulu sebelum ke Belgia, makanya bordernya dijaga oleh imigrasi Prancis.

Tapi ternyata kecemasan saya tidak berlanjut karena petugas sama sekali tidak bertanya apapun. Petugas perempuan berkacamata itu hanya memeriksa paspor saya, mencari visa Schengen saya, dan kemudian mempersilakan saya lanjut setelah memberikan cap di paspor saya. 

Dia bahkan tidak mempertanyakan kenapa visa Schengen saya dikeluarkan dari negara Denmark. Padahal sebelum membuat visa Schengen, ini adalah salah satu yang membuat saya galau, apakah saya harus membuat visa dari negara Schengen yang saya datangi pertama, Belgia atau dari negara terakhir Denmark karena saya memiliki tiket pulang dari Denmark. Ternyata saya malah masuk Schengen dari Prancis.  

Sebenarnya secara fisik saya masih ada di St Pancras International di negara Inggris tapi secara administratif saya sudah masuk wilayah Prancis dan Schengen. Seru rasanya mendapatkan pengalaman baru seperti ini. 


Kereta Eurostar yang saya tumpangi menuju Brussels

Melewati loket imigrasi masuk, kami menunggu pengumuman kereta ada di platform berapa. Tidak lama menunggu, di layar terlihat pengumuman kalau kereta ke Brussels ada di platform 10. Kami pun naik travelator menuju platform 10, naik kereta dan menuju petualangan selanjutnya. 

Ada yang pernah punya pengalaman berbeda saat masuk atau keluar imigrasi? 


Booking.com----------@yanilauwoie----------


Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Hati-hati Menggunakan Maskapai Ryanair
  • Review Abercorn House, Penginapan Murah di London
  • Apa yang Ditanyakan Petugas Imigrasi Inggris? Ini Pengalaman Saya
  • 14 Tempat Wisata Gratis yang Instagrammable di London, Inggris (Bagian 2)
  • 14 Tempat Wisata Gratis yang Instagrammable di London, Inggris (Bagian 1)

Pesawat Ryanair yang saya tumpangi dari Edinburgh ke London

Dua kali menggunakan maskapai Ryanair, dua kali juga saya mengalami kejadian tidak menyenangkan. Yang terbaru adalah saat saya terbang dari Edinburgh, Skotlandia ke London, Inggris pada Oktober 2018. Saya harus mengeluarkan uang tambahan sebesar 55 pounds untuk bisa check in!

Hari itu, saya dan teman saya, Stacey memiliki jadwal keberangkatan pukul 18.15 waktu setempat. Saya merasa tenang saat sampai bandara Edinburgh karena kami sampai sekitar dua jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat. Tapi perasaan tenang itu langsung berganti begitu sampai di loket check in dan bertemu dengan petugas Ryanair. 

Dia bilang kami nggak bisa check in di bandara dan harus check in online yang bisa dilakukan maksimal dua jam sebelum keberangkatan. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 16.14. "Kalian punya waktu satu menit untuk check in online atau kalian harus bayar untuk check in di loket sebelah sana", tunjuk si wanita. 

Apa? Saya tidak yakin kami bisa melakukan hal tersebut hanya dalam waktu satu menit. Meskipun demikian, Stacey sempat mencoba, dan benar dugaan saya, waktu tersebut terlalu singkat. Akhirnya saya bertanya lagi kepada petugas tersebut, loket mana yang harus kami tuju untuk bisa check in.  

Dia menjelaskan bahwa kami harus ke loket Swissport yang lokasinya dekat dengan Starbuck. Kami pun meluncur menuju ke sana. Kami jelaskan situasinya dan petugas wanita di Swisssport berkata bahwa kami harus membayar 55 pounds per orang untuk bisa check in. 

Apa? Lagi-lagi saya syok. Ini gila namanya! Harga tiketnya saja cuma 16 pounds, masa bayar check in sampai 55 pounds. Saya kesal bukan main mendengarnya. Rasanya ingin meninggalkan bandara dan menggunakan bus atau kereta saja untuk kembali ke London. Saya merasa tidak ingin memuaskan mereka dengan memberikan 55 pounds tersebut. Tapi Stacey benar, kembali ke kota dan mencari stasiun bus atau kereta hanya akan membuang waktu kami. Akhirnya tanpa ikhlas saya membayar 55 pounds untuk check in.  

Saya kemudian bertanya kepada petugas tersebut apakah kebijakan tidak bisa check in di bandara ini berlaku untuk seluruh maskapai di bandara Edinburgh atau hanya Ryanair saja. "Hanya untuk Ryanair saja," jawabnya. Mendengar jawaban tersebut, saya lagi-lagi merasa teperdaya oleh maskapai asal Irlandia ini, sama seperti peristiwa lima tahun lalu saat saya harus mengeluarkan 105 euro untuk membayar bagasi. Cerita lengkapnya bisa dibaca di tautan ini. 

Setelah membayar, kami kembali ke loket Ryanair untuk menyerahkan bon check in dan mendapatkan boarding pass. Ketika menunggu boarding pass dicetak, saya bertanya sama petugas wanita yang melayani kami, sejak kapan kebijakan tidak bisa check in di bandara ini berlaku? 

"Ini memang sudah peraturan Ryanair?" jawabnya. 
"Iya sejak kapan?" cecar saya. 
"Selama yang kami tahu sudah demikian peraturannya," jawabnya. 
"Kami mengirimkan email untuk memberitahukan perihal ini," petugas wanita lainnya ikut berbicara. 

Memang benar sih, ada email tersebut. Stacey, yang melakukan pembelian tiket untuk kami berdua, mengeceknya saat kami menunggu untuk mengambil boarding pass. Tapi email itu baru dikirimkan dua hari sebelum hari keberangkatan kami, bukan saat pertama kali dapat email saat pembelian tiket. Stacey tidak memperhatikan email tersebut karena sejak melakukan pembelian tiket, Ryanair selalu mengemail aneka promosi/penawaran, jadi saat Stacey menerima email pemberitahuan check in online tersebut, dia tidak membukanya karena dia menduga itu adalah email promosi lainnya.

Sementara saya yang pernah menggunakan maskapai ini lima tahun lalu tidak ingat sama sekali akan adanya peraturan ini. Yang saya ingat adalah saya harus membayar harga bagasi yang mahal sekali. Karena saat ke Edinburgh saya hanya membawa ransel, koper saya tinggalkan di London, saya merasa tidak perlu mengkhawatirkan urusan bagasi. Eh ternyata mengalami kasus tidak menyenangkan lainnya.  

Saya sadar saya tidak bisa menyalahkan Ryanair untuk hal ini karena mereka sudah melakukan prosedur sesuai peraturan yang berlaku, mereka sudah mengirimkan email pemberitahuan. Perihal kami yang tidak teliti karena tidak membaca email bukanlah salah mereka. Tapi bukan berarti saya tidak kesal luar biasa perihal ini. Saking kesalnya, saya meninggalkan loket Ryanair tanpa mengucapkan terima kasih kepada sang petugas. 

Pergi dari loket kami langsung menuju gate yang ditentukan. Pesawat berangkat sekitar pukul 18.35. Tidak lama dari pesawat take off, saya langsung tertidur. Nah, tidurnya saya ini mengarahkan pada satu peristiwa lain yang membuat saya merasa, "kok begini sih, pelayanan Ryanair?" 

Pasalnya saya baru terbangun ketika saya mendengar suara gabruk dan merasakan guncangan. Saya langsung tersadar dan melihat bahwa pesawat sudah mendarat. Guncangan bukan satu-satunya yang membuat saya kaget, menit berikutnya saya tersadar bahwa saya tidak memakai seat belt. Saya melepasnya sesaat sebelum tidur. 

Saya heran kenapa petugas tidak mengingatkan saya. Saya duduk di kursi 4D, di lorong, memakai pakaian warna cokelat terang dan tidak memakai kain apapun yang bisa menutupi pandangan awak kabin ke seat belt saya. Intinya kalau awak kabin melihat pinggang saya, dia pasti tahu seat belt saya tidak terpasang.  

Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah saya naik pesawat, saya tidak mengenakan seat belt saat mendarat. Biasanya awak kabin maskapai-maskapai lain selalu mengingatkan saya dan penumpang lain. Bahkan mereka tak sungkan membangunkan penumpang yang tertidur agar tetap mengikuti prosedur demi keamanan bersama. 

Saya sudah malas untuk mengkonfrontasi hal ini kepada awak kabin yang bertugas. Rasanya ingin cepat-cepat keluar dari pesawat dan kalau bisa tidak menggunakan lagi maskapai ini, meskipun harus diakui Ryanair adalah maskapai termurah untuk penerbangan antar negara di di Eropa.

Tapi ya saya harus menerima kenyataan bahwa "ada uang ada barang" adalah pepatah yang cocok ditujukan kepada Ryanair. Saya membayar murah dan seperti itulah pelayanan yang saya terima. 

Hal lain yang saya pelajari dari kasus ini adalah bahwa saya harus sangat hati-hati bila ingin kembali menggunakan Ryanair. Harus membaca semua peraturannya dengan sangat detail karena mereka memiliki peraturan yang berbeda dengan peraturan maskapai pada umumnya. Terlebih lagi untuk orang seperti saya yang jarang sekali naik maskapai ini, harus ekstra teliti. 

Punya pengalaman serupa dengan Ryanair?


Booking.com ----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:
  • Review Abercorn House, Penginapan Murah di London
  • Apa yang Ditanyakan Petugas Imigrasi Inggris? Ini Pengalaman Saya
  • 14 Tempat Wisata Gratis yang Instagrammable di London, Inggris (Bagian 2)
  • 14 Tempat Wisata Gratis yang Instagrammable di London, Inggris (Bagian 1)
  • Tempat Belanja Murah di London, Inggris
Saya dan kedua teman saya menyewa kamar di Abercorn House pada Oktober 2018 selama delapan malam. Mengambil kamar privat khusus tiga orang, berikut adalah plus dan minus yang saya rasakan ketika bermalam di penginapan murah di London ini.


Plus
1. Lokasi strategis
Menurut saya lokasi adalah keunggulan utama dari hostel ini. Pasalnya hanya dibutuhkan jalan kaki 5 menit dari stasiun Hammersmith, baik itu stasiun bus maupun underground/tube, sudah bisa sampai ke hostel ini. Letak stasiun Hammersmith yang ada di zona 2 juga memudahkan untuk pergi ke lokasi-lokasi wisata di London tanpa harus menghabiskan banyak waktu.

Selain itu, penginapan ini juga dekat ke pusat perbelanjaan Kings Mall. Jalan kaki tidak sampai 10 menit sudah bisa bertemu dengan deretan restoran dan pertokoan, termasuk supermarket Sainsbury's dan toko apparel Primark. Jadi sangat mudah kalau mau cari makan dan belanja.    

2. Fasilitas lengkap
Di dalam kamar tersedia lemari pakaian dengan cermin di pintu, meja kecil dengan tiga laci, meja besar +kursi, kulkas dan peralatan makan seperti piring, mangkuk, gelas, sendok dan garpu. Untuk ukuran hostel fasilitas ini termasuk mewah. Ini baru pertama kalinya saya menginap di hostel yang menyediakan peralatan makan di dalam kamar. 

3. Dapurnya banyak
Saya menginap di lantai 2, kamar 214. Tepat di depan kamar ada satu dapur. Kemudian ada dua dapur lainnya yang letaknya tidak berjauhan. Dapur ini dilengkapi dengan oven, kompor, microwave, toaster dan teko listrik. Meskipun saya jarang masak, paling hanya masak indomie dan air tapi keberadaan dapur yang lebih dari satu ini membuat nyaman karena tiap kali saya ke dapur selalu nyaris kosong, jadi tak perlu menunggu giliran. 

4. Kamar mandi pria dan wanita berbeda 
Tidak jauh dari kamar saya, terdapat kamar mandi. Di dalam kamar mandi ini terdapat lima bilik yang seluruhnya menggunakan shower. Di dalam bilik disediakan juga sabun cair. Sementara di luar bilik terdapat dua wastafel, satu kaca besar di dinding dan tempat sampah. Secara keseluruhan kamar mandi ini bersih namun yang paling saya suka adalah ini kamar mandi khusus wanita sehingga membuat saya merasa nyaman ketika mandi. 

Sedangkan untuk toiletnya, tidak jauh dari letak kamar mandi. Terdiri dari tiga bilik yang seluruhnya adalah toilet duduk. Di luar bilik-bilik tersebut terdapat dua wastafel, kaca di dinding dan tempat sampah. Untuk toilet ini tidak dibedakan antara pria dan wanita. 

5. Terdapat mesin cuci
Karena menginap agak lama di London, jadi penting mencari penginapan yang memiliki fasilitas mesin cuci sehingga pakaian bisa dipakai lagi untuk perjalanan saya di negara-negara selanjutnya. Untuk mengoperasikan mesin cuci dan pengeringnya saya hanya perlu beli koin di resepsionis, kemudian memasukkannya dalam mesin sesuai instruksi yang tertera. Kalau tidak salah, untuk mesin cucinya dibutuhkan koin senilai 3 pounds sedangkan mesin pengeringnya 2 pounds.  

6. Memiliki lift
Karena tahu akan membawa koper yang cukup besar dan berat maka lift adalah salah satu fasilitas yang harus ada di penginapan yang akan disewa di London. Hoste ini memiliki fasilitas tersebut. Meskipun ukuran liftnya kecil tapi ini jauh lebih baik daripada harus mengangkat koper melewati tangga.  

7. Memiliki jendela 
Bagi saya keberadaan jendela sangat penting karena dengan begitu sirkulasi udara dalam kamar akan tetap segar. Kamar ini memiliki jendela menghadap ke jalan yang memperlihatkan rumah-rumah khas Inggris yang tertata rapi. 

8. Memiliki ruang televisi
Di lantai dasar terdapat ruang komunal dengan fasilitas televisi. Sebenarnya lumayan kalau yang ingin duduk-duduk sambil membunuh waktu. Tapi karena seringnya saya berada di luar hostel dan begitu kembali ke hostel hanyalah untuk tidur, jadi tidak sempat duduk-duduk menonton televisi di sini.  

9. Ada kafe kecil
Di depan resepsionis teradapat kafe kecil yang menjual makanan instan dalam kemasan, seperti mie dan pizza. Ada juga camilan seperti cokelat dan biskuit. Selain itu terdapat juga minuman seperti kopi dan cokelat. Pertolongan pertama yang lumayan banget kalau kelaparan di tengah malam. Tapi saat di sini, saya tidak sempat membeli apapun dari kafe ini. 

10. Dapat handuk
Jarang sekali hostel menyediakan handuk gratis tapi di Abercorn House, saya mendapatkan fasilitas tersebut. Handuk yang saya terima pun benar-benar bersih, tidak terlihat seperti handuk tua dan tidak bau sehingga sangat nyaman dipakai. 

11. Kamar dibersihkan
Sepengalaman saya menginap di hostel, saya tidak pernah mendapatkan fasilitas kamar dibersihkan layaknya di hotel. Saat menginap di sini, kamar saya sempat dibersihkan satu kali di pertengahan durasi hari menginap dan handuknya pun diganti. Bisa jadi karena menginapnya cukup lama maka bisa mendapatkan pelayanan ini. 

Minus
1. Resepsionis kurang ramah
Saya tahu ini sangat obyektif karena standar ramah setiap orang beda-beda tapi kalau menurut standar saya, para resepsionis (saya bertemu lebih dari satu orang di waktu yang berbeda-beda) di penginapan ini pelit senyum dan tidak ingin memberikan pelayanan lebih. Contohnya pelayanan lebih adalah seperti yang saya dapatkan saat menginap di hostel Royal Mile Backpackers di Edinburgh. Sang resepsionis bertanya sudah berapa kali ke Edinburgh, begitu dia tahu itu kunjungan pertama saya, dia langsung tanya rencana saya apa dan memberikan berbagai saran tempat wisata yang wajib dikunjungi. Itu yang tidak saya dapatkan dari resepsionis di Abercorn House.

2. Air di toilet kurang banyak
Ini yang paling bikin nggak nyaman saat menginap di sini. Karena air di toilet kurang banyak atau memakan waktu lama untuk mengumpulkan air sampai tangki toilet penuh, sehingga saya merasa kurang maksimal ketika menyiram toilet. Saya sih, tidak mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, seperti meninggalkan 'sesuatu' di toilet karena kehabisan air. Tapi dorongan air yang kurang banyak selalu membuat saya deg-degan ketika masuk toilet.   

3. Pengering pakaian rusak
Saya paham sih, kalau mesin yang sering dipakai banyak orang bisa mudah rusak. Namun yang bikin sebal adalah kerusakan mesin pengering ini baru saya ketahui setelah saya memasukkan koin bernilai 2 pounds. Setelah saya komplain ke resepsionis, dia bilang mesin yang itu memang agak bermasalah (mereka memiliki dua mesin pengering). Kalau bermasalah, kenapa tidak dipasang tanda? Terus yang bikin tambah sebal, mereka tidak bisa mengembalikan uang 2 pounds saya, jadi terpaksa harus bayar lagi untuk memakai mesin pengering yang berbeda. Setelah insiden tersebut, baru deh, pihak hotel memasang tanda bahwa mesin pengering tersebut rusak dan tidak bisa dipakai. 

4. Wifi bayar

Hostel ini tidak menyediakan wifi gratis, baik di area lobi maupun kamar. Untuk bisa mengakses wifi bisa membelinya di resepsionis, mereka menyediakan harga untuk per jam dan harian. Kalau tidak salah 5 pounds per harinya. Saya sudah tahu mengenai ini sebelum memutuskan menginap di sini namun tidak menjadikannya masalah karena saya membeli nomor lokal yang sudah tersedia paket internet. 

Overall
Terlepas dari minusnya, secara keseluruhan saya merasa nyaman menginap di sini. Apalagi harganya juga terhitung murah, hanya Rp6.655.475 (setelah dapat diskon dari Traveloka sebesar Rp300.000,-) untuk delapan malam dan tiga orang. Itu berarti sekitar Rp277.000,- per orang per malam. Harga tersebut dengan fasilitas di atas dan dapat kamar privat hanya untuk bertiga tentu saja murah.

Jadi kalau kebetulan mencari penginapan murah di London namun tetap merasa nyaman untuk ditinggali, saya merekomendasikan hostel Abercorn House ini.  


Booking.com

----------@yanilauwoie----------

Find me at:
Instagram: yanilauwoie
Twitter: yanilauwoie
YouTube: yanilauwoie
LINE: @psl7703h

Blog Sebelumnya:

  • Apa yang Ditanyakan Petugas Imigrasi Inggris? Ini Pengalaman Saya
  • 14 Tempat Wisata Gratis yang Instagrammable di London, Inggris (Bagian 2)
  • 14 Tempat Wisata Gratis yang Instagrammable di London, Inggris (Bagian 1)
  • Tempat Belanja Murah di London, Inggris
  • Harga Makanan di London, Inggris, 2018
Newer Posts Older Posts Home

My Travel Book

My Travel Book
Baca yuk, kisah perjalanan saya di 20 negara!

My Travel Videos

Connect with Me

Total Pageviews

Categories

Amerika Serikat Australia Belanda Belgia Ceko Denmark Hong Kong Indonesia Inggris Irlandia Italia Jepang Jerman Korea Selatan Macau Malaysia Prancis Singapura Skotlandia Spanyol Thailand Vietnam

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  May (1)
      • 6 Lokasi untuk Melihat Bunga Musim Semi di Bratisl...
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2024 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2023 (7)
    • ►  December (3)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2022 (6)
    • ►  October (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (19)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2020 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (51)
    • ►  December (4)
    • ►  November (3)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  June (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (5)
    • ►  March (10)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2018 (30)
    • ►  December (8)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (60)
    • ►  December (6)
    • ►  November (4)
    • ►  October (5)
    • ►  September (8)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  June (3)
    • ►  May (8)
    • ►  April (9)
    • ►  March (2)
    • ►  February (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2016 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (6)
    • ►  April (5)
    • ►  March (4)
    • ►  February (4)
    • ►  January (6)
  • ►  2015 (51)
    • ►  December (7)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  June (4)
    • ►  May (6)
    • ►  April (3)
    • ►  March (6)
    • ►  February (4)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (51)
    • ►  December (6)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  August (6)
    • ►  July (5)
    • ►  June (3)
    • ►  May (5)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
    • ►  February (5)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (13)
    • ►  December (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)

Search a Best Deal Hotel

Booking.com

Translate

Booking.com

FOLLOW ME @ INSTAGRAM

Most Read

  • Tour Guide Berbahasa Indonesia di Thailand: Saya Belajar dari Sinetron
  • Mudahnya Mengurus Visa Australia
  • Turis Indonesia Terkenal Tukang Pipis di Korea Selatan
  • Bolehkah Membawa Pulang Selimut dan Bantal Pesawat? Ini Eksperimen Saya

About Me

Hi, I'm Yani. I have 15 years experience working in the media industry. Despite my ability to write various topics, my biggest passion is to write travel stories. By writing travel stories, I combine my two favourite things; travelling and writing. All the content in this blog are mine otherwise is stated. Feel free to contact me if you have questions or collaboration proposal :)

Contact Me

Name

Email *

Message *

Copyright © 2016 My Travel Stories. Created by OddThemes & VineThemes